Mata Juga Bisa Lapar

Kalo suami saya bisa  menghabiskan waktu setengah hari sendiri untuk muterin Ace Hardware, maka saya sangat senang hati keliling beberapa jam di swalayan macam carefour atau hypermart. sampe kaki pegal, atau sampai tersadar kalau hidup masih harus terus berlanjut. haha. Ngapainlah kira-kira? biasanya sih berawal dari butuh beli sebuah barang spesifik dan berakhir dengan berjam-jam ga ngapa-ngapain, cuma muter di gang-gang toko dan liatin semua barang yang ada disana. Kegemaran ini entah terjadi sejak kapan, tapi saya sendiri khususnya merasakan kegiatan muterin swalayan itu seperti stress reliever.  semacam rekreasi.

sounds weird? atau anda juga seperti saya? hehe.

Saya suka belanja, tapi belanja bukan hobi saya. Beberapa tahun terakhir saya mencoba menghilangkan impulsive-buyer yang pernah bersemayam dalam diri saya. sekitar 4 tahun lalu, Masa-masa berbeasiswa adalah masa keemasan dompet saya. ketika saya pengen apa, maka saya terus beli tanpa mikir. terus nyesal? gak nyesal juga sih. at that time saya dapet duit dengan mudahnya dan menghabiskannya juga dengan mudah. Dulu saya bisa dibilang gak kenal apa itu tanggal tua. Setiap awal bulan orang tua saya ngasih uang bulanan. uang bulanan belum habis eh rekening saya sudah terisi sama suntikan dana dari ristekdikti. Dana dari ristekdikti belum habis, tau-tau udah awal bulan lagi dan duit dari orang tua udah dikirimin lagi. Happy bener ya? karena ngerasa punya tadi maka terpupuklah ke-impulsive-an dalam diri.

tapi itu dulu… sekarang gak begitu.

dulu itu saya masih bisa nabung sih… jadi enggak boros parah juga sebenernya. Tapi semenjak saya nyari duit sendiri, semenjak ga ada lagi suntikan dana bulanan dari orang tua, dan gak ada lagi beasiswa yang ngebom rekening saya tiap tengah bulan, maka penyakit impulsive-buyer itu sembuh sendiri. bhahaha.. lah wong duitnya kagak ada terus mau belanja apaan. ya gak sampe jatuh miskin juga, wkwk. tapi finance does make me a little bit worry.   dapet  nafkah dari suami, tapi tauk deh saya ngerasanya duit nafkah itu harus saya pakai dengan penuh tanggung jawab. bukan untuk beli something yang cuma karena “ih lucu..” atau “eh warnanya bagus ya..” atau “hmmm baunya enak..”.

nah kemarin persis, saya blogwalking dan surfing di youtube. liatlah review kosmetik-kosmetik yang alamak lucu bingits. terus saya jadi laper mata. wkwkwk… terus saya liat laci meja rias saya yang kanan kiri itu diplot khusus untuk barang saya. kok isinya udah banyak ya? dan saya pun inisiatif ngedata all from head to toe body care/cosmetics yang saya punya ke dalam tabel di spreadsheet. dan hasilnya saya sudah punya semua yang saya perlu. dan tidak perlu ditambah dengan those yang saya ‘cuma pengen’.

karena perlu beda sama pengen.. dan mata juga bisa lapar.

 

Advertisements

I Miss You My Little Angel

photo_2018-04-12_21-35-17.jpg

Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would it be the same
If I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
‘Cause I know I don’t belong here in heaven
Would you hold my hand
If I saw you in heaven?
Would you help me stand
If I saw you in heaven?
I’ll find my way through night and day
‘Cause I know I just can’t stay here in heaven
Time can bring you down, time can bend your knees
Time can break your heart, have you begging please, begging please
Beyond the door there’s peace I’m sure
And I know there’ll be no more tears in heaven
Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would it be the same
If I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
‘Cause I know I don’t belong here in heaven

 

* just remember my little bundle of joy, Zhaf….  Ibu kangen..

ruining someone’s happiness

Past couple days, I went to Jakarta due to some work stuff. I had to attend a ceremony held by KemenpanRB on behalf of Kemenristekdikti delegation. We met with Mr. President, The Minister of Finance, Minister of Social, and many more other important person. They give us lessons and we learnt a lot.  I made a post in my instagram about how happy and grateful I am to be  there. I even said that I burst into tears while singing Indonesia Raya. what a pleasant moment.

then someone PM me on IG, he said “Don’t be fooled by the goverment. What the hell you doing there? why don’t they invite us last year? so this is bullshit..  2019 election is coming soon, they want you to choose them. and you should not elect for them!”

I myself like WTF?!

I mean, really, if you want to comment about something you don’t like, then please think at least twice. whom you talk to.  in what capacity you are commenting.  is it proper to you to talk like that. and the most important thing is who do you think you are to judge. I don’t care  if the ceremony is fulfilled with insidious agenda. I don’t give a f*ck about the political substances.  and you don’t have to tell somebody whom to choose whom to ignore.

oh he ruined my day. My happiness about Indonesia Raya had suddenly fell right beside my feet.

 

Orang Berpikir Sejauh Pikirannya

Saya pernah baca sebuah quote yang saya lupa punya siapa, tapi isi nya kira-kira begini:  “Orang berpikir sejauh pikirannya..”

Pernah dengar istilah naif? KKBI bilang kalau naif itu berarti tidak banyak tingkah, lugu, atau polos. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah naif dipakai untuk kondisi kisahkanlah seperti ini: Seorang perempuan muda sebut saja namanya Cantik.  Cantik lahir dan tumbuh besar di desa, suatu hari Cantik ke kota besar dan qodarullah Cantik kecopetan di sana. Cantik sedih karena dia tidak membayangkan bahwa salah satu dari orang-orang yang tampak baik yang ditemuinya seharian ini adalah pencopet yang tega. ketidakwaspadaan Cantik ini terjadi karena Cantik naif. Cantik menganggap semua orang yang ditemuinya baik, tulus, seperti dirinya.

Cantik tidak terpikir bahwa seseorang bisa tega mencopet, cantik tidak terpikir bahwa salah satu dari orang tersebut bisa jadi adalah pencopet, karena pikiran Cantik tidak sampai kepada kejadian/peristiwa/aktivitas mencopet.. dia merasa asing dengan hal copet-mencopet.  Kata copet / aktivitas mencopet berada jauh diluar jangkauan pikirannya.

Okay, lupakan si Cantik sejenak. Dulu saya pernah ikutan quiz psikologi online, bukan quiz yang serius sih, tapi konteks quiznya sedikit menyeramkan. hehe. melalui quiz itu kita bisa tau apakah kita seorang psikopat atau bukan. Dalam quiz tersebut sebuah narasi yang cukup panjang disajikan menjadi plot cerita yang melibatkan beberapa tokoh. di akhir quiz kita disuruh menebak siapakah dari tokoh-tokoh tersebut yang seorang psikopat. Yang lucu adalah, yang jawabannya benar disimpulkan bahwa punya bakat psikopat! kenapa? karena dia yang tebakannya benar dianggap mampu membaca jalan pikiran seorang psikopat, maka dia sendiri adalah seorang psikopat.

Seorang innocent tidak akan berpikir untuk menjadi pembunuh. tapi seorang pembunuh menjadi pembunuh karena ia berpikir untuk membunuh. Seseorang yang terus berburuk sangka, berpikir ke arah yang buruk, itu karena pikirannya sendiri buruk.

What I wanna say is, Orang yang mudah menyimpul-nyimpulkan alias menuduh seorang lain picik (padahal kesimpulan / tuduhannya itu tanpa bukti dan berasal dari menghubung-hubungkan asumsi-asumsi yang dibuatnya sendiri) adalah karena dia sendiri berakal picik.

Jadi umpama diri ini selalu dengan mudah melihat kesalahan orang lain, dan menyimpulkan hal-hal negatif yang tidak terpikirkan oleh orang lain, pahami bahwa pemahaman negatif itu berasal dari pikiran yang negatif. hati-hati, karena pikiran yang terlalu sering negatif (buruk) bisa jadi muncul dari mental yang buruk.

****Just my two cents. karena kadang… kita bicara apa, orang nangkepnya apa. kita speak up tentang apa, orang nyimpulkannya tentang apa. Bahkan kita bisa kaget dengan apa yang dia simpulkan/tuduhkan karena kita tidak pernah terpikir untuk berlaku seperti yang dia tuduh. Eh, malah jadi muncul pertanyaan nih, kalo gini kejadiannya, orang itu yang penuh negatifity atau saya yang terlalu naif ya? 😛

Apapun itu, saya tidak perlu menjelaskan apa-apa tentang diri saya. Mereka yang menyukai saya tidak memerlukan penjelasan. Sedangkan mereka yang tidak menyukai saya tidak akan percaya penjelasan apapun. Disclaimer: I  neither mention someone nor being sarcastic to somebody.  just reminder to my self.  😛

 

An Nas

Being a lecturer made me interact with so many people everyday. it took around 75-100 people including my students, friends, and many random people such as ojek-man, cafe worker, etc. many of them was lovely, many of them was ignorance.

They all are An-nas, as known as human, is the living creature of God which blessed with sense, mind and idea. Human with all the superiority among others God’s creature behave and have a certain disposition. you can say, other was a saint, another was a sinner.  Many of us, human, seems forget the essential issue about why’d God create us? it was in purpose to worship Him, to do the good deeds, and to love others. This world is only a drop of water but life after death is an ocean.  so what interest you the most? a drop, or a full of ocean?

*just a random thought, tho. I take this note to remind my self.

 

Kind Hearted

These past weeks I’ve been feeling a bit nausea. I didn’t eat much, nor drink. My husband’s Mom sent me a lot of foods to my house, might be one of those foods would make me feel a little bit better. It was overwhelming. and IDK why but her simple action made me annoyingly happy and burst into a tears.

my coworker knew that I was ill too. It was an afternoon when I a bit busy teaching my students programming algorithm. She approached me telling she got something interesting and asked if I would come with her. and guess what? she gave me a bowl of fruit salad on my work time! “I know what you feel. so this is for you…” she said.

…and she called me this morning, questioning me if I am at our office right now, cuz she bring me something: some mangos!

oh my God, I thank to you for making me surrounded by these kind-hearted of people. You bless me with all this kindness.. Alhamdulillah. Rezeki bukan hanya berupa uang. akan tetapi berbadan sehat, dan dikelilingi oleh orang-orang baik adalah rejeki yang sangat besar anugerah dariNya.

Robbi Audzi’ni an asykuro ni’mati kallati an’amtu alayya wa’ala walidayya, wa an a’mala sholihan tardhohu. Wa adkhilni birohmatika fi ibadikas sholihiin…

 

 

 

Friendship Never Dies, But Friendship does Change

I got a lot of friendship since I could remember. Some of them was sucked, I feel like being trapped in sort of frienemy relationship. While some others was (and have been) nice, warm, full of happy memory. Friendship never dies. but friendship does change.

I don’t know what happen. My elders say it is normal and this time is the time for me to realize that the true friendship turn to be family. family only.  the one who could support you in no matter condition, take you just the way you are, the one who will always be there when you need, who always get your back, and they provide you loves. tons of love.

I thought I was the closest friend of somebody, but it turn she didn’t inform me about some important milestone in her life, and I feel sad. We are not we used to be anymore.  I don’t know what she currently into, and I didn’t be there when she maybe need me. or really it is not like I thought from the beginning, like the friendship era already end? or she found some new comforting friend more than I do. I wonder. So, where does my golden friendship go away?

it doesn’t go away, maybe they just realize what I realize.

It takes two to a tango. Maybe it was me that never consider them as my closest one, never inform them about what i did, what I reached. And I deserve what I did.

2018 Wish List

Saya bosan posting resolusi, karena isinya akan begitu-begitu aja. beberapa adalah melanjutkan apa-apa yang belum tercapai di tahun kemarin. beberapa lagi adalah menggenapkan hal-hal yang sudah dicapai tahun kemarin. dan beberapa lagi adalah resolusi sepanjang hidup. Semoga 2018 menjadi tahun yang menggembirakan, yang berkah, dan banyak menghasilkan manfaat…

bytheway, beberapa wish list yang semoga kesampean di tahun ini adalah: semoga bisa terima SK CPNS secepatnya dan segera dipanggil prajabatan biar bisa full 100% PNS tahun ini. dan kepingin punya kamera mirrorless! mari kita lihat apakah akan tercapai atau tidak. 😛

 

Ganti Nomor Rekening di BNI SMS Banking

Kira-kira dua bulan yang lalu, alhamdulillah saya terpilih sebagai salah satu pemenang lomba hibah pembuatan bahan ajar berbasis multimedia di Universitas tempat saya mengabdi. Sebagai syarat menerima hibah tersebut, saya diwajibkan melampirkan fotocopy rekening BNI yang berbeda dengan rekening yang digunakan untuk menerima gaji. Karena saya cuma punya satu rekening BNI dan itu dipakai untuk menerima gaji, maka saya harus bikin sebuah rekening baru.

Pagi-pagi saya sempatkan mampir ke BNI Cabang Lunjuk untuk bikin rekening baru. setoran awal cukup di tiga ratus ribu rupiah, setelah isi-isi dan paraf-paraf ini itu maka jadilah rekening saya. Untuk memudahkan pekerjaan kedepan pastinya saya juga request untuk mengaktivasi layanan eBanking (sms banking dan ibanking). Proses registrasi eBanking ini tidak sulit karena kata mas-mas CS nya, eBanking saya sudah aktif semua di rekening sebelumnya, sedangkan rekening yang baru ini menggunakan Costumer Information File (CIF) yang sama dengan rekening yang lama. Mengenai single CIF ini, ini adalah regulasi yang dikeluarkan pemerintah Indonesia untuk memudahkan pengawasan terhadap harta kekayaan. dengan single CIF, informasi mengenai seseorang dapat diakses dengan lebih mudah dan menyeluruh. tentunya secara data juga lebih menerapkan prinsip basis data ya. efisien dan efektif.  Jadi sekarang setiap login di internet banking, maka seluruh rekening BNI saya akan muncul dan penggunaannya bisa kita atur sesuka hati kita.

Saya lanjut nanya, kalau sms banking apakah juga bisa ganti-ganti rekening yang hendak digunakan?  Ternyata oh ternyata, saya tidak tau sejak kapan fitur ini ada, di layanan sms banking kita bisa mengatur dari rekening mana kita akan bertransaksi. dan mengganti rekening utama ini tidak perlu ke costumer service segala! caranya adalah ketik GANTI REKENING [NOMOR_REKENING] kirim ke 3346.  atau kalo di apps BNI sms banking di android/iOS ada pilihan setting di pojok kanan atas untuk ganti rekening.  hehehe… silly me.. alhamdulillah semakin mudah saja untuk bertransaksi perbankan.

Ngomong-ngomong tentang CIF ini, saya juga tercatat sebagai nasabah di Bank BNI Syariah. Meskipun sama-sama BNI, sms center sama-sama 3346, menggunakan mesin ATM yang sama, warna jingga yang sama, tapi ternyata pengelolaan mereka berbeda. Rekening BNI Syariah tidak menggunakan CIF yang sama dengan BNI pakai. dengan kata lain saya punya CIF di BNI, dan CIF lain lagi di BNI Syariah.

Dua minggu lalu, kebetulan karena ada hajat ke BNI Syariah, sekalian saya nanya ke CS yang bertugas, apa saya bisa aktivasi sms banking saya? karena selama ini saya cuma dapat notifikasi uang masuk dan uang keluar saja tanpa bisa bertransaksi (cek saldo, transfer, dsb). Setelah di cek, mbak CS nya bilang sms banking saya sudah tercatat aktif di nomor yang hendak saya daftarkan tersebut (nomor yang sama dengan yang saya gunakan di sms banking BNI).  akan tetapi saat saya coba switch dari Rekening BNI ke nomer rekening BNI Syariah di 3346 saya mendapatkan notifikasi “Maaf rekening anda tidak terdaftar”.

Meskipun sms centernya sama-sama 3346 saya tidak bisa aktivasi sms banking rekening BNI Syariah dengan nomor handphone yang sama dengan yang saya daftarkan di sms banking BNI. mbak CS nya menyarankan untuk menggunakan nomor handphone yang lain untuk saya daftarkan sebagai nomor sms banking.. tapi kan justru merepotkan ya.. hp saya satu dual sim sih.. tapi sim2 khusus kartu kuota internet yang kalo habis saya buang. masa ganti rekening harus ganti hp pula? hehe. sepertinya lebih praktis  tutup ganti rekening sekalian

Saya tanya kira-kira alasannya apa kok gak bisa transaksi sms banking dg nomor ini? mbak-mbak CSnya bingung.

Menurut saya masalahnya adalah sistem eBankingnya yang belum terintegrasi dengan benar. BNI dan BNI Syariah, manajemen mereka berbeda tapi untuk layanan menggunakan sumberdaya yang sama. Satu CIF mendapatkan satu user iBanking dan satu nomor yang terdaftar untuk sms banking. Nampaknya sekarang kardinalitas antara user CIF to Ibanking serta CIF to nomor sms banking one-to-one….. mungkin solusinya adalah mengganti menjadi many-to-one… jadi banyak CIF bisa mengkases satu sumberdaya eBanking. maka tidak terjadi lagi seperti yang saya alami: dengan CIF berbeda mengakses sumberdaya yang satu, maka akan terjadi problem otorisasi tidak dikenali oleh sistem. Berbagi resource adalah cara cerdas untuk berhemat, tapi untuk regulasi penggunaan sumberdaya bersama, saya pikir masih banyak hal yang perlu diperbaiki dan diperhatikan.

Untuk yang cuma punya BNI atau BNI Syariah saja sih tidak ada masalah. tapi untuk yang terdaftar jadi nasabah di kedua Bank tentu hal ini merepotkan.

Kuncup yang Berusaha Keras Pun Akan Mekar

Ibaratnya air, sudah semestinya bahwa air diberi gula itu akan jadi manis. Kalo belum manis, bisa jadi gulanya kurang atau kita belum mengaduk gula hingga larut. Tidak ada ceritanya bahwa air yang dikasih gula tidak jadi manis. Pasti ujungnya manis, sudah hukum alamnya begitu.

beberapa hari yang lalu saya tergelitik dengan pesan WA yang dikirim teman sejawat juga dari program studi sebelah, isinya adalah sebuah screenshot pesan WA dari seorang oknum mahasiswa. Yang bersangkutan (mahasiswa) menceritakan bahwa nilai salah satu matakuliah yang diampu dosen lain berakhir buruk, dapat E, yang artinya dia tidak lulus matakuliah tersebut dan IPK dia turun drastis. Karenanya dia melobi teman saya ini untuk menaikkan nilainya di matakuliah yang teman saya ampu, baca sekali lagi: MENAIKKAN NILAINYA, yang semula C (nilai angka 61) biar jadi B. Obrolan dilanjut dengan teman saya ini mengirimkan sebuah screenshot lagi dari mahasiswa berbeda, yang ini kasusnya adalah nilainya B (nilai angka 80) dan ybs melobi biar bisa jadi A.

Dua hari setelah teman saya kirim-kirim begitu, ada seorang mahasiswa yang ngontak saya dan cerita kalo dia dapet nilai jelek di satu matakuliah dengan dosen lain (sebetulnya gak jelek-jelek amat karena dapet C itu masih kategori lulus dan gapapa kalo gak diperbaiki)  terus ybs bilang, kalo matakuliah yang saya ajar nilainya belum keluar, dan kalo misalnya nilai yg saya kasih nanti itu C atau B maka IPK dia tetap akan dibawah 3,00. ybs gak bilang minta perbaikan, ybs gak bilang minta dinaikin nilai, ybs cuma cerita begitu. doang. titik. Terus maksudnya apa? anda pikir saja ya sendiri. hehehe…

Mengamati fenomena ini, saya sebenernya miris-miris sebel gimana gitu. ternyata apa yang teman saya alami juga terjadi pada saya. Apa yang terjadi sebenernya pada kids zaman now ini? zaman saya dulu, untuk nanya Pak/Bu Dosen sedang ada dimana saja saya baca sms berulang ulang sebelum akhirnya pencet send dengan jari gemetaran.

Masalah ya kalo nilai buruk? masalah ya kalau IPK jatuh? ya kalo masalah maka jangan sampai dapat nilai buruk. gimana caranya, caranya adalah mahasiswa harus memperbaiki proses belajarnya.  Nilai adalah hasil dari pembelajaran selama satu semester. atau empat bulan. alias enam belas minggu. Maka sungguh mahasiswa punya waktu cukup untuk itu.  Nilai diraih dengan belajar berminggu-minggu, ada evaluasi yang kita lakukan (Tugas Harian, Kuis, UTS dan UAS, atau Tugas Besar), bukannya setelah nilai keluar terus malah lobi-lobi untuk perbaikan. pret lah ini.

perbaikan loh yaa…. masih mending. ini minta dinaikkan! zzzzzzz (-_-)”

yang lebih pret lagi adalah, mereka melobi untuk menaikkan nilai di matakuliah yg saya ampu (pada kasus teman saya, pada matakuliah yang teman saya ampu) untuk nutupin nilai jeleknya di matakuliah yang dosen lain ajarkan. Pret pret mah kalo ini. Double pret.  why don’t you kontak dosen yang mengajar matakuliah yg dapet jelek itu terus perbaikan dengan dosen tsb? kenapa malah ngontak saya untuk nampal bocormu ditempat lain, why? WHY? WHY??!

yang lebih miris lagi adalah…… ini terjadi dimana-mana.  tiga kasus yang saya singgung di atas itu mahasiswanya beda-beda loh…. artinya ini udah common alias biasa banget kali ya. tidak ada rasa segan dengan pengajar. tidak ada rasa malu untuk minta nilai bagus. nih saya kapital, GA ADA MALU MINTA NILAI BAGUS. nilai itu diusahakan masbro mbaksis.

kalo mungkin mereka-mereka ini ngontak saya dan temen saya karena kami dianggap dosen junior yang mungkin menurut mereka akan lebih negotiable. ya… kita gak ngasih nilai itu gratis ya. bukan juga kita jualan nilai. what you do, is what you get.  as simple as that. saya akui ada sedekah nilai, kalo mahasiswa nilainya 85,3 terus saya amati proses dikelasnya bagus maka saya gak ragu naikin nilai dia jadi 86.0 biar dapet A.  tapi kalo 61 dapet C terus mau minta jadi B nilai angka 76? hellowwww… 61 ke 76 itu 15 point dek.. 15 poin itu adalah hasil akhir beberapa komponen yang sudah diolah loh…. (25% dari tugas, 35% dari UTS dan 40% dari UAS) bukan 15 poin dari nilai mentah.  maka 61 ke 76 itu jauuuuh sekali. yang begini mau disedekahin, wakaf ini mah. hibah!

what I wanna tell is, nilai itu bukan segalanya. kita kuliah cari ilmu. kalo menurut anda-anda nilai bagus itu penting, maka bersikaplah dan berlakulah selayaknya nilai bagus itu penting: belajar rajin. kalo merasa diri ini odong, maka anda perlu belajar lebih keras dari rata-rata orang belajar.

PS. untuk mahasiswa yang merasa, I don’t get mad at you. I just bring up what happened to us yesterday as a learning for others.  cuz with you personally, I already told you what you should do. and we are clear with no problem. Tetap semangat, nilai bukan segalanya, kalo mau nilai bagus maka usahakan dengan cara yang baik dan benar.

Kalo katanya sodara saya, Nabilah JKT48, “usaha keras itu tak akan mengkhianati…”