Umroh Mandiri #5 Tips Umroh Saat Hamil

Bepergian naik pesawat selama hamil adalah totally aman, dengan catatan ibu dan janin yang dikandung sehat. dalam posting kali ini saya akan berbagi pengalaman, tips dan trik untuk yang akan berangkat umroh saat hamil.

  1. Berangkatlah di waktu yang tepat.  waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan jauh saat hamil adalah dalam rentang trimester kedua. bulan ke 4 sampai 6. pada masa ini kandungan sudah cukup kuat, dan ibu hamil sudah cukup terbebas dari gejala morning sickness yang  menyebalkan. Alhamdulillah perjalanan umroh kemarin bertepatan dengan usia kandungan 21 minggu, dan kondisi saya dan janin alhamdulillah sehat
  2. Siapkan Obat penguat kandungan. kendati perjalanan ini dilakukan pada usia kandungan sudah cukup mapan, obsgyn saya tetap merekomendasikan saya untuk mengkonsumsi obat penguat kandungan sepanjang saya melakukan perjalanan. selain obat penguat kandungan, dokter juga meresepkan obat pereda kontraksi yang harus saya minum sewaktu-waktu saya merasa perut saya kencang.
  3. Siapkan surat keterangan sehat. Maskapai penerbangan di Indonesia punya syarat khusus untuk ibu hamil yang hendak berpergian dengan pesawat udara. kebanyakan maskapai memiliki aturan ibu hamil yang diperbolehkan terbang adalah yang usia kehamilannya kurang dari 32 minggu. Tidak jarang kita sebagai penumpang akan ditanyai dan diminta surat keterangan dokter yang menyatakan bahwa usi akandungan kita < 32 minggu dan ibu dalam kondisi sehat dan layak untuk terbang.  Saya juga menyiapkan fotocopy surat keterangan sehat ini, in case saya butuh surat keterangan lebih dari satu mengingat penerbangan kali ini multiple cities. Nah yang mengherankan adalah, bandar udara luar negeri tidak sesaklek bandara Indonesia perihal surat keterangan sehat bagi ibu hamil ini. dari KLIA2, KLIA1, King Abd Aziz In’t Airport, kayanya saya perut mblendung lewat-lewat aja tuh gak ada yang banyak tanya. sampe di SHIA dan SMB-II langsung deh muncul lagi pertanyaan, “ibu sedang hamil??”
  4. Banyak minum air putih. perjalanan udara membuat tubuh kita lebih mudah dehidrasi. apalagi bagi ibu hamil, asupan air harus lebih banyak dari orang normal. dokter saya menyarankan saya untuk konsumsi air putih paling sedikit 3 liter per hari. Untuk perjalanan jarak jauh macam KL-Madinah, waktu tempuh kurang lebih sembilan jam, dan pastikan selama di pesawat kita harus minum banyak. Karena membawa air bervolume lebih dari 100ml ke dalam kabin pesawat itu dilarang, saya menyiasatinya dengan membawa sebuah botol kosong.  Beberapa saat setelah take-off, kita bisa hubungi cabin crew untuk minta botolnya di refill air mineral. kalo habis, boleh minta lagi. hehe.. sesampainya di tanah suci tetap ingat untuk memastikan bahwa asupan cairan kita selalu cukup. mintalah tolong kepada suami, atau rekan perjalan untuk mengingatkan kita supaya minum yang banyak.
  5. Pilih seat yang tepat di pesawat. Menurut pengalaman saya, seat yang tepat untuk ibu hamil adalah seat yang berada di gang, dan tidak begitu jauh dari toilet. karena kita minum banyak air, kebutuhan untuk mengunjungi toilet bakal lebih sering. that’s why kita perlu tempat dipinggir gang biar gak ganggu orang lain kalo pas kita butuh wara-wiri ke toilet. dan sebaiknya, tempat duduk kita tidak begitu jauh dari toilet.. tapi jangan terlalu dekat juga. Penumpang pesawat itu macam-macam. pengalaman saya umroh tahun 2013, saat itu kita naik maskapai Emirates, Jakarta-Jeddah, transit di Dubai. guess what? penumpangnya jorokkk sekali. campur aduk dari india, pakistan, orang-orang timur tengah, orang asia, dan tidak semua penumpang berasal dari kelas atas yang sudah biasa naik pesawat, dan tidak semua penumpang punya edukasi yang baik tentang sanitasi di toilet pesawat. banyak bahkan yang gak ngerti cara pakai toiletnya, gak ngerti cara flush toilet, bahkan gak ngerti gimana cara ngunci pintunya.  so sad but true, seorang jamaah cerita kalo dia mergokin nenek-nenek buang hajat ditoilet dengan pintu terbuka karena dia gak paham cara ngunci pintu toiletnya. kalo nih, ketiban sial dapet yang seperti ini, maka duduk di seat yang terlalu dekat dengan toilet bau pesing selama sembilan jam perjalanan adalah sebuah kutukan. hehehe.
  6. Jalan-jalan di dalam pesawat. ibu hamil kakinya akan mudah bengkak. badannya mudah pegal, dokter saya menyarankan untuk setidaknya berdiri lima menit setelah kita duduk satu jam. kebanyakan duduk akan bikin kaki bengkak.
  7. Gunakan stocking khusus selama terbang. bisa dibeli di toko alat kesehatan, namanya stocking untuk orang parises. ibu hamil bisa pake itu untuk mencegah terjadinya kaki bengkak.
  8. Gunakan alas kaki yang tidak sempit atau sepatu/sendal yang terbuka. karena kemungkinan kaki yang akan bengkak, disarankan tidak mengenakan sepatu yang ngepas di kaki. lebih baik sendal yang terbuka aja, atau oversized sepatu juga boleh. kalo misalnya pas kaki kita bengkak… begitu landing sepatu yang semula muat itu akan jadi kesempitan. ga mau dong nyeker di bandara di negeri orang? atas udah cantik, bawahnya nyeker. wkwkwk. sampai di tanah suci sebernya sepatu sempit ini bisa disiasati dengan beli sepatu baru wkwkwkw…
  9. Bawa bantal sendiri. perjalanan jauh si biasanya dipesawat disedian bantal dan selimut yang bisa dipakai, tapi kalo saya kemarin, saya siapin bantal boneka super empuk untuk ganjel pinggang dan punggung. trust me 9 jam cukup melelahkan dan bikin punggung pegal.. bantal untuk ganjel pinggang akan sangat membantu.
  10. Gunakan Wheel Chair. Selama beribadah umroh, saya menggunakan kursi roda. kursi roda ini bisa diperoleh dengan menyewa, banyak sekali jasa sewa kursi roda di masjidil harom. bisa menyewa jasa kursi roda via mutawwif juga, karena mereka biasanya dengan senang hati menyediakan. pasaran biaya kursi roda plus jasa dorong adalah sekitar 200 SAR… kalo pas peak season macam bulan puasa bisa 300 SAR untuk sekali rangkaian umroh (tawaf + sai). Alhamdulillah, hotel tempat kami menginap menyediakan jasa kursi roda ini gratis. kursinya doang sih tanpa jasa dorong. tapi itu sudah lebih dari cukup.. dan suami saya kebagian tugas dorong-dorong saya pas tawaf dan sai. hehe
  11. Jangan Memaksakan diri. yang tau kondisi badan kita adalah kita sendiri. ibu hamil perlu istirahat ekstra dan tidak boleh terlalu capek. begitu badan anda pegal, istirahat. capek jalan, stop dulu terus duduk istirahat. karena gembira ibu hamil banyak yang lupa kalo dia sedang hamil.. jadi gesit aja bawaan pengen kesana sini. pokoknya gapapa hidup slow motion banget asal ibu dan janin tetap sehat.
Advertisements

Umroh Mandiri #4 Umroh Sambil Hamil

Januari 2018, Surprise! Test pack nunjukin ada dua garis! Allahuakbar…. campur aduk rasanya. senang sudah pasti karena ini adalah yang saya dan suami nantikan selama ini, tapi ada juga rasa takut karena trauma. Setelah dua minggu telat haid saya dan suami ke dokter kandungan dan alhamdulillah kantung kehamilan sudah tampak. saya betul positif hamil.

sampai sini kita berdua pulang dengan senang, tapi ad kegalauan dalam hati, gimana dengan rencana umroh bulan Mei nanti? apa kita refund aja tiketnya? orang tua juga pasti ngelarang ni hamil susah-susah terus mau jalan jauh? apa sehat nanti badan kita? apa aman? apa gakpapa?

yang jadi opsi saya dan suami tempo hari adalah,

  1. refund tiket, undur keberangkatan.
  2. refund tiket saya aja, suami tetap berangkat.
  3. tetap berangkat apapun yang terjadi
  4. tetap berangkat dengan banyak penyesuaian

maka setelah berminggu-minggu dalam kegalauan, saya dan suami memutuskan untuk ambil opsi keempat. kami akan tetap berangkat… hanya saja dengan banyak penyesuaian.

Kami sempet mikir untuk keluar dari grup umroh awal ramadhan dan mencoba ikutan travel aja dengan modal tiket yang udah ditangan… caranya adalah nyari  open trip awal ramadhan yang hari keberangkatannya sama…. terus membujuk ke biro perjalanan untuk bisa gabung dengan mereka tapi dengan kondisi kami berdua yang sudah issued tiket sendiri. tapi emang ada gitu biro perjalanan yang mau ngangkut kita berdua? bukannya keuntungan mereka itu justru banyak dari tiket ini? rugi dong mereka?

ditimbang-timbang, dipikir-pikir, ada sih beberapa kenalan biro perjalanan umroh yang kenal karena jasanya pernah kita pake, tapi kok mau ngomong ya malu.. malah takut merusak relasi selama ini. wkwkwk. terus lama aja berhari-hari sama suami saling suruh untuk ngontak travelnya duluan.

sampai tiba saatnya kita kontrol lagi kedokter kandungan, suami nanya sama dokternya, S: Suami, D: Dokter.

S: dok, kita berdua mau umroh….

D: berangkatlah… (jawabnya spontan tanpa mikir)

S: Gapapa dok?

D: Berangkatnya kapan? (baru deh dia mikir)

S: masih Mei nanti sih dok

D: oooh ya gapapa, berangkatlah…

terus saya mikir, Mei nanti usia kandungan saya kurang lebih 21-22 minggu.  betul juga ya kondisi yang sangat pas untuk melakukan perjalanan agak jauh. kandungan sudah kuat, ibu sudah gak mual lagi. kalo Allah mau bisa saja saya dikasih hamilnya pas Mei kan? jadi berangkat pas hamil muda banget. atau bisa aja Allah kasih hamilnya pas baru mau issued tiket yang malah bikin kami gak jadi issued tiket. kenapa Allah kasih hamil setelah tiket dibeli? kenapa positif hamilnya bulan Januari? mungkinkan ini adalah Izin Allah untuk saya bisa tetap berangkat umroh tanpa membahayakan kehamilan?

langsung mengalir air mata… duhai Allah… Engkau Maha Baik….

dan suami saya punya pikiran yang sama. kata suami saya, kehamilan ini adalah jawaban atas doa kami… ketika kami baru berniat saja mau umroh untuk berdoa khusus minta keturunan, tapi Allah sudah memberi bahkan sebelum kami minta. Lantas pantaskah kami membatalkan rencana berkunjung ke Baitullah, bukankah kami seharusnya lebih banyak mengucap syukur atas anugerah yang sudah Allah beri?

maka kami berdua jadikan perjalanan ini sebagai nazar yang harus kami tunaikan…. bismillah.

Umroh Mandiri #3 Beli Tiket dan Gabung Grup

Setelah mempelajari teknis perjalanan dan sudah fix kloter mana yang akan kita ikuti, maka langkah selanjutnya adalah issued tiket. Kloter Awal Ramadhan memanfaatkan promo tiket dari maskapai Saudi Airlines untuk rute Kuala Lumpur – Madinah, dan kembali ke tanah air dengan rute Jeddah – Jakarta.

Pemesanan tiket dilakukan via web Saudi Airlines, seperti biasa kalo kita beli tiket. yang jadi masalah adalah pembayaran dilakukan dengan Credit Card sedangkan saya dan suami bukan pengguna credit card. alhasil puter otak gimanalah caranya… solusi paling gampang adalah minta tolong teman yang punya kartu kredit dengan limit gede.. karena yang mau dibayar ini lumayan juga… tempo hari untuk tiket PP berdua saya dan suami kena 17 juta rupiah.  Lucky us, alhamdulillah ada niat ada jalan, seorang sahabat dengan senang hati meminjamkan kartu kreditnya untuk membayar tiket tersebut. jadi berapa biaya yang terpakai kami transfer balik ke rekeningnya.

maka tiket sudah issued… alhamdulillah kita langsung kontak ketua grup untuk invite kita di grup whatsapp Kloter Awal Ramadhan. syarat untuk bisa gabung di grup Whatsapp ini adalah harus sudah issued tiket dulu.. yg cuma mau kepo doang dilarang gabung. wkwkwk. Selanjutnya komunikasi antar jamaah mengenai teknis keberangkatan, persiapan, spot-spot janjian dbs disampaikan via Grup ini juga.

saat gabung grup, Allahukabar.. saat itu rasa-rasanya saya sudah semakin dengat dengan Baitullah. setiap solat menatap tempat sujud rasa-rasanya sudah berada di Raudho, dekat makam Rasulullah. maka terpanjatkanlah doa, Ya Rabb lancarkan rencana Safar ini… berkahi, dan ridhoi…

padahal itu beli tiket oktober, rencana berangkat masih mei tahun depan.  wkwkwk masih lama.

 

 

 

Umroh Mandiri #2 Teknis Perjalanan

Hal selanjutnya yang menjadi concern saya adalah mempelajari bagaimana teknis umroh mandiri itu dilakukan.

Seperti yang kita tau term backpacker (orangnya) atau backpacking (kegiatannya) ini memiliki definisi melakukan perjalanan dengan hanya bermodal satu backpack doang. Otomatis barang bawaan akan disortir sedemikian rupa sehingga tersisa yang memang necessary aja, dan biaya akomodasi dipangkas seirit-iritnya (penginapan, transportasi, dsb). Perjalan backpacking pertama saya dan suami dulu adalah ke Jogja, Solo dan Semarang selama seminggu, dengan satu backpack dipundak masing-masing. Perjalanan ketiga kota ditempuh dengan kereta api kelas ekonomi, serta transportasi city tour dilakukan dengan cara sewa motor harian. Kami makan dipinggir jalan, nginep dihotel pinggir juga dan kelas melati. atau jangan-jangan tidak berkelas. wkwkw. it’s Ok sejauh itu nyaman, bersih, dan aman.  Itinerary juga disusun sendiri, tiket dan segala macam dipesan sendiri. hemat? banget! dan kita bisa liburan quality time tanpa guilty feeling sudah nguras tabungan hehe.

Nah, pertanyaannya adalah, dapatkah pola travelling seperti ini diterapkan juga untuk melakukan ibadah umroh?

Emang dasarnya tadi niat, saya jadinya sekalian juga beli beberapa buku bertema umroh backpacker untuk nambah wawasan. Dari apa yang saya baca, bahwa jamaah umroh asal Indonesia tidak bisa melakukan perjalan umroh yang betul-betul backpacker-an.

dalam prosesnya kita butuh ngurus visa umroh. dan regulasi pemerintah arab saudi sono, penerbitan visa tidak bisa diajukan oleh perseorangan, melainkan perseorangan tersebut haruslah berada dibawah naungan biro perjalanan. hal ini merupakan upaya preventif pemerintah arab saudi terhadap kemungkinan jamaah terlantar, nyasar, ujung-ujungnya jadi gembel disana. to make sure bahwa ada yang “bertanggung jawab” atas diri para jamaah ini makanya diharuskan setiap jemaah umroh dinaungi oleh biro perjalanan. dari sini kita simpulkan bahwa proses penerbitan visa ini saja tidak bisa dilakukan ala backpacker. kita perlu jasa pihak lain.  Maka, yang disebut umroh backpaker sebenarnya bukan backpacker betulan, tetaplah nanti pake koper, wkwk, nginep di hotel, transportasi dalam kota dengan bus premium, hanya saja, saya ulang ya, HANYA, kita memangkas biaya tour travel yang sebetulnya tidak necessary.  tiket kita booking dan bayar sendiri, koper angkut sendiri, dan biaya service lain-lain itu yang dipangkas. hemat? iya! masih jauh lebih hemat ketimbang gabung tour travel.

Sebagai perbandingan, biaya untuk Umroh 10 Hari pertama Ramadhan adalah 36 juta rupiah versi travel sebelah (kamarnya quad alias sekamar berempat). sedangkan yang dihabiskan saya dan suami tempo hari kurang lebih 21 juta rupiah / orang (kamar double, cuma isi dua orang) dengan rincian:

  1. Tiket Jakarta- Kuala Lumpur
  2. Tiket Kuala Lumpur – Madinah
  3. Tiket Jeddah – Jakarta
  4. Hotel di Kuala Lumpur
  5. Biaya Visa
  6. Biaya Koper
  7. Biaya Land Arrangement (akomodasi 9 hari di Saudi)

berapa yang berhasil kita hemat untuk perjalan berdua ini? 15 juta x 2 orang. Hemat 30 juta saudara-saudara! harga segitu  sebetulnya masih bisa dipangkas lagi, gimana caranya? caranya adalah saya dan suami nyari tiket Jakarta-KL yang mepet2 waktu departure KL-Madinah jadi kita bisa pangkas biaya hotel di KL.. dan kalo mau ngirit lagi bisa ambil kamar yang sekamar berempat… jadinya campur dengan jamaah lain. itu bisa cuma habis 17 juta loh saudara-saudara… masyaAllah luar biasa.  tapi kenapa kita akhirnya nyari hotel dan ambil kamar double alias sekamar berdua doang? bagian ini nanti ada ceritanya, hehehe.

Oke untuk teknis perjalanan, berikut ini step by step yang saya rangkum apa yang kita lakukan:

  1. Gabung dulu komunitasnya di social media. ada banyak banget ini mah… cari yg reliable ya! caranya gabung agak lama, pelajari dulu pola bisnisnya, siapa-siapa orang dibalik layar, dan pastinya cek portofolio keberangkatan yang pernah komunitas tersebut lakukan.
  2. Pantau jadwal open trip
  3. Pilih kloter yang sesuai jadwal dan budget kamu
  4. Issued tiket sesuai dengan yang sudah disepakati bersama (maskapai, rute, waktu)
  5. Gabung grup khusus kloter
  6. ikutin aja petunjuk dan arahan dari ketua grup (banyak ni rangkaiannya, ngumpulin syarat visa, terus kirim syarat visa (visa diurus kolektif ), terus visa yang dah jadi dikirim balik ke kita, kolektif manggil ustadz bagi yang merasa perlu manasik, koordinasi name tag segala macem, terus janjian spot ketemuan dimana, dsb)
  7. tiba hari keberangkatan, ketemuan sama temen-temen seperjalanan deh
  8. enjoy your trip!

dan apa syarat ikutan pola travelling seperti ini:

  1. Kamu kooperatif, punya kemauan. tentang biaya, kamu gak harus punya duit banyak untuk ikutan. Biaya di pola travelling seperti ini dikeluarkan dengan cara dicicil.. jadi terasa ringan. macem saya kemarin, bulan oktober saya bayar tiket, bulan april baru saya bayar LA. rentangnya lama.. kita punya banyak waktu untuk nabung lagi kurangnya berapa.
  2. Tidak malas membaca info yang beredar via grup.
  3. Kamu mandiri dan bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Karena perjalanan ini dilakukan tanpa tour travel maka tidak ada pihak yang akan melayani kebutuhan kamu. tidak ada tempat kamu komplain kalo terjadi hambatan dan masalah. semua dihadapi sendiri, masalah diselesaikan bersama, sesama jamaah saling jaga. dengan catatan: tidak ada tempat untuk traveller manja
  4. Kalo kamu kebetulan solo traveller, maka pastikan kamu tidak gaptek, dan berbadan sehat. susah nih kalo solo traveller tp gak paham teknologi, apa-apa gak paham terus gak mau belajar pula.. ditambah badan gak fit pula. ini bakal jadi beban orang banyak. Untuk jamaah lanjut usia sebaiknya didampingi keluarga.

Umroh Mandiri #1 Awal Mula

Sebenernya saya mau sharing ini maju mundur.. takut riya, takut ada sebutir sombong dan hal-hal lain yang justru menghanguskan pahala ibadah saya. Tapi bismillah, semoga terhindar dari hal yang saya sebut barusan, niat saya semata adalah berbagi untuk yang mungkin saja memerlukan info tentang ini.

18 Mei 2018 yang lalu saya dan suami berangkat umroh berdua. Umroh kali ini terbilang agak spesial karena saya dan suami tidak menggunakan jasa travel / biro perjalanan ibadah umroh. Umroh “mandiri” ini sudah kami rencanakan jauh hari hampir satu tahun sebelumnya.

Bermula dari kerinduan kami untuk kembali mendapatkan momongan pasca kehilangan anak kami Zhafran, kala itu kandungan saya sudah kosong lagi selama 1 tahun lebih. Saya dan suami lakukan beberapa ikhtiar, program hamil macem-macem (I’d like to share about this later), dan Saya dan suami merasa terpanggil untuk mendekatkan diri ke Allah, berkunjung kembali ke baitullah. niatnya disana untuk berdoa, disegerakan memperoleh keturunan yang sholih dan menyejukkan hati.

Ada niat ada jalan. Sekitar September atau Oktober 2017, qodarullah saya termasuk salah salah satu pemenang hibah yang nominalnya cukup besar untuk ukuran saya, 20 juta rupiah. saya tersentil mungkin ini adalah jawaban niat saya dan suami yang kepingin berangkat umroh lagi. Agustus 2017 saya pernah liat sebuah posting seorang teman (saya lupa siapa) tentang sebuah komunitas perjalanan umroh mandiri. Jadi ada komunitas yang memfasilitasi jamaah untuk saling mengenal, berkomunikasi, dan akhirnya melakukan umroh secara mandiri dan bareng-bareng, tanpa jasa biro perjalanan.

Saya bergabung ke komunitas tersebut, mencoba mencari tau teknisnya, dan kapan lagi open trip untuk keberangkatan umroh selanjutnya. Ada yang umroh reguler, umroh plus Mesir, umroh plus Turki, umroh plus Swiss, tapi saat itu yang langsung nyangkut di hati saya adalah gelombang Umroh Kloter Awal Ramadhan.

saat saya komunikasikan rencana ini dengan suami, dan suami saya setuju, maka bismillah, kami bulatkan tekad luruskan niat. insyaAllah Ramadhan 2018 kami berdua akan berangkat Umroh.

 

 

Bakat Terpendam

Saya memiliki keahlian yang saya mahir sekali sejak lama, tapi saya baru saja sadar kalo ini bisa saja sebuah bakat yang terpendam: menangis dalam diam.

Saya mahir sekali meredam suara sedu sedan sesegukan hingga hampir tidak ad suara sama sekali seharu biru atau sehancur apa hati saya saat saya menangis. Keren bukan?

Ala bisa karena biasa. Setelah recall memori jaman dulu, ada beberapa momen dimana saya berlatih bakat saya ini. Memori. Tentang luka lama yang saya bahkan tidak mau mengingatnya lagi.

Ada sebait doa yg kala itu saya ucap. Mungkin sekarang harus saya ucap lagi.

“ya Rabb.. atas segala apa yang telah engkau tetapkan terjadi kepadaku, buatlah aku menjadi senang, buatlah hatiku menjadi ridho..”

If You Fail to Plan, You Plan to Fail

I dont know why, but this hectic ambience seems permit me If i neglect my (others, but necessary) line of duties. is it right? I don’t think the situations like this are supposed to be happened. There’re too much to do in the same time, too much responsibilities to handle meanwhile each of us has only one body with one brain and two SMALL hands. I think doing this kind of shit is stressful enough to make people crazy. This kind of environtment is not healthy at all. Every body is like going to be mad as soon as possible. There’s no more smile, no archness, and everybody are drowning deep down under too strong tense. Really, people, What’s happend to us?

Several days ago I enlightened my student about Motivation Theory by McClelland, and The Maslow’s Hierachy of Needs. I reflect my situations into that two theories in order to try to discover in what state I and people around me are currently living. What I found out was actually the business we’ve doing recently is none of our concern, and those aren’t what we personally want to achieve. and that explains Why we likely have no motivation at all. every of us was worry about someday this kind of activities would distract our main goals.. we neither have enough times to think about our self nor to take some improving steps. while in this life, each of us got our own milestone running on our own time line.

Mata Juga Bisa Lapar

Kalo suami saya bisa  menghabiskan waktu setengah hari sendiri untuk muterin Ace Hardware, maka saya sangat senang hati keliling beberapa jam di swalayan macam carefour atau hypermart. sampe kaki pegal, atau sampai tersadar kalau hidup masih harus terus berlanjut. haha. Ngapainlah kira-kira? biasanya sih berawal dari butuh beli sebuah barang spesifik dan berakhir dengan berjam-jam ga ngapa-ngapain, cuma muter di gang-gang toko dan liatin semua barang yang ada disana. Kegemaran ini entah terjadi sejak kapan, tapi saya sendiri khususnya merasakan kegiatan muterin swalayan itu seperti stress reliever.  semacam rekreasi.

sounds weird? atau anda juga seperti saya? hehe.

Saya suka belanja, tapi belanja bukan hobi saya. Beberapa tahun terakhir saya mencoba menghilangkan impulsive-buyer yang pernah bersemayam dalam diri saya. sekitar 4 tahun lalu, Masa-masa berbeasiswa adalah masa keemasan dompet saya. ketika saya pengen apa, maka saya terus beli tanpa mikir. terus nyesal? gak nyesal juga sih. at that time saya dapet duit dengan mudahnya dan menghabiskannya juga dengan mudah. Dulu saya bisa dibilang gak kenal apa itu tanggal tua. Setiap awal bulan orang tua saya ngasih uang bulanan. uang bulanan belum habis eh rekening saya sudah terisi sama suntikan dana dari ristekdikti. Dana dari ristekdikti belum habis, tau-tau udah awal bulan lagi dan duit dari orang tua udah dikirimin lagi. Happy bener ya? karena ngerasa punya tadi maka terpupuklah ke-impulsive-an dalam diri.

tapi itu dulu… sekarang gak begitu.

dulu itu saya masih bisa nabung sih… jadi enggak boros parah juga sebenernya. Tapi semenjak saya nyari duit sendiri, semenjak ga ada lagi suntikan dana bulanan dari orang tua, dan gak ada lagi beasiswa yang ngebom rekening saya tiap tengah bulan, maka penyakit impulsive-buyer itu sembuh sendiri. bhahaha.. lah wong duitnya kagak ada terus mau belanja apaan. ya gak sampe jatuh miskin juga, wkwk. tapi finance does make me a little bit worry.   dapet  nafkah dari suami, tapi tauk deh saya ngerasanya duit nafkah itu harus saya pakai dengan penuh tanggung jawab. bukan untuk beli something yang cuma karena “ih lucu..” atau “eh warnanya bagus ya..” atau “hmmm baunya enak..”.

nah kemarin persis, saya blogwalking dan surfing di youtube. liatlah review kosmetik-kosmetik yang alamak lucu bingits. terus saya jadi laper mata. wkwkwk… terus saya liat laci meja rias saya yang kanan kiri itu diplot khusus untuk barang saya. kok isinya udah banyak ya? dan saya pun inisiatif ngedata all from head to toe body care/cosmetics yang saya punya ke dalam tabel di spreadsheet. dan hasilnya saya sudah punya semua yang saya perlu. dan tidak perlu ditambah dengan those yang saya ‘cuma pengen’.

karena perlu beda sama pengen.. dan mata juga bisa lapar.

 

I Miss You My Little Angel

photo_2018-04-12_21-35-17.jpg

Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would it be the same
If I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
‘Cause I know I don’t belong here in heaven
Would you hold my hand
If I saw you in heaven?
Would you help me stand
If I saw you in heaven?
I’ll find my way through night and day
‘Cause I know I just can’t stay here in heaven
Time can bring you down, time can bend your knees
Time can break your heart, have you begging please, begging please
Beyond the door there’s peace I’m sure
And I know there’ll be no more tears in heaven
Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would it be the same
If I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
‘Cause I know I don’t belong here in heaven

 

* just remember my little bundle of joy, Zhaf….  Ibu kangen..

ruining someone’s happiness

Past couple days, I went to Jakarta due to some work stuff. I had to attend a ceremony held by KemenpanRB on behalf of Kemenristekdikti delegation. We met with Mr. President, The Minister of Finance, Minister of Social, and many more other important person. They give us lessons and we learnt a lot.  I made a post in my instagram about how happy and grateful I am to be  there. I even said that I burst into tears while singing Indonesia Raya. what a pleasant moment.

then someone PM me on IG, he said “Don’t be fooled by the goverment. What the hell you doing there? why don’t they invite us last year? so this is bullshit..  2019 election is coming soon, they want you to choose them. and you should not elect for them!”

I myself like WTF?!

I mean, really, if you want to comment about something you don’t like, then please think at least twice. whom you talk to.  in what capacity you are commenting.  is it proper to you to talk like that. and the most important thing is who do you think you are to judge. I don’t care  if the ceremony is fulfilled with insidious agenda. I don’t give a f*ck about the political substances.  and you don’t have to tell somebody whom to choose whom to ignore.

oh he ruined my day. My happiness about Indonesia Raya had suddenly fell right beside my feet.