Bahasa Cinta

Bahasa cinta, bahasa indah yang tidak mengenal kata. bahasa dalam setiap sentuhan ibu kepada anaknya, bahasa dalam setiap letih penjagaan ayah pada anaknya, bahasa dalam tiap bulir tangis khawatir orang tua terhadap keselamatan dan kesehatan buah hatinya.

Terimakasih dan syukurku kepada Allah sang maha penggenggam ubun-ubun setiap makhluk yang telah mengajarkan aku banyak sekali bahasa cinta dalam tiga minggu pertama aku menjadi seorang ibu.

Advertisements

Mahal Tapi Setimpal

Laptop saya pake Windows 10 original yang diperoleh bundling dari Asus. setelah kira-kira 6 bulan pemakaian, office selalu muncul notifikasi kalo software butuh aktivasi. setelah proses akivasi saya skip terus akhirnya office di laptop ini resmi tidak bisa digunakan untuk edit. dia cuma bisa dipake untuk view doang. dan apalah artinya software pengolah kata yang tidak bisa mengolah kata? useless!

Pernah saya mencoba install office bajakan, tapi it doesn’t work. jadi beralihlah saya ke beberapa software office opensource yang tersedia bebas, sebutlah WPS, Libre Office, dan Open Office. ketiganya bisa dipake, tapi emang fiturnya tidak sehandal Microsoft Office terutama untuk grafik, smart art, dsb. Tapi okelah sampai sejauh beberapa bulan saya cukup bisa survive dengan segala kelebihan dan kekurangan dari tiga software office open source tersebut.

Sampai akhirnya, beberapa minggu terakhir saya disibukkan dengan kegiatan akreditasi jurusan yang cukup menyita pikiran sih karena kebetulan bagian yang saya kerjakan adalah yang menyangkut data mentah yang harus diolah sedemikian rupa dengan scoring menggunakan rumus-rumus. Ada beberapa file yang harus saya lengkapi untuk akhirnya di compile dengan pekerjaan dari teman-teman saya lainnya. Karena file akhir yang harus dikompilasikan dengan pekerjaan teman saya yang lain, maka otomatis format file dan template yang digunakan harus sama, margin, spasi dsb.  Ternyata, disini baru muncul masalah.. Proses menyatukan files ini tidak semudah yang kita pikir seperti tinggal cut+paste saja. Karena masing-masing orang menggunakan software pengolah kata yang berbeda, format penulisan yang sudah diatur sedemikian rupa sering tidak konsisten begitu file tersebut dibuka dengan software lain.  Akhirnya ini jadi PR bagi koordinator akreditasi yang menyamakan kembali format files tersebut.

Satu yang saya amati adalah beberapa teman saya juga mengalami nasib serupa dengan saya. dan teman-teman saya juga beralih ke office opensource. kalo gak WPS, biasanya Libre. mungkin ini adalah imbas dari windows ori yang dipakai.. kebanyakan laptop sekarang sudah bundling dengan OS original. langkah yang smart menurut saya. akhirnya kita digiring untuk membeli office original juga.

Akreditasi usai sudah, tapi bukan berarti urusan saya dengan per-office-an ini selesai. ada beberapa laporan yang menunggu untuk saya kerjakan, ada bahan ajar yang menunggu untuk saya rapikan, dan untuk itu semua saya butuh perangkat yang reliable, dan user friendly dengan smartchart yang banyak pilihan dan saya sudah biasa pakai.. ah andai ms office bisa digunakan.. hiks.

Saya udah nanya ke ICT kampus tentang program kerjasama Microsoft dengan kampus. karena setahu saya biasanya kampus-kampus punya kerjasama  software gratisan gitu. tapi so sad ternyata kampus saya blm ada kerjasama tentang itu. seinget saya dulu ada deh pas saya S1. ini kok makin kesini kenapa ilang program tersebut. sedih banget sih ya… saya nyobain untuk register Office 365 yang untuk education…. karena murah bisa dapet dg harga 999ribu untuk 4 tahun.  atau bisa pake versi online secara gratiss dengan syarat kita terdaftar sebagai civitas akdemika dari kampus yang punya kerjasama dengan Microsoft. Saya berhasil dapat previlege sebagai student (modal email kampus pas S2) tapi gak bisa dikibulin juga sih… program tersebut tidak berlaku untuk alumni..  😛

Akhirnya, karena alasan efisiensi dan setelah melalui tahap pertimbangan cukup alot, maka saya memutuskan untuk beli microsoft office original untuk pertama kali dalam hidup saya.  achivement unlock!!! hahaha.  yah ditimbang-timbang, saya emang cari makan pake software ini kan ya… mau ngajar, mau meneliti, mau mengabdi, tetap ada sangkutannya ke office ini. mungkin hikmah yang bisa saya ambil adalah sudah saatnya saya memperhatikan yang kecil tapi penting begini, betapa kita harus menjaga rezeki kita hanya dari jalan halal dan toyyib. say no to bajakan 😀 minimal mulai mencoba untuk mengurangi. yakinlah, biar mahal, tapi yang kita dapat setimpal.

There is A Will, There is A Way

I didn’t tell much people about my plan to go to Mecca past couple months. and this girl, Meylani, was one of those I told. The day before my departure she texted me about her wishes, and asked me If I would to read her wishes at Multazam. there are two main subjects included her study plan… 🙂

I remember her wishes during my tawaf. and I asked Him Who Hear All Prayers to make it true.. I expect nothing but may Allah bless my friend. She has been a nice girl, and these wishes what she has dreamt since long time ago.

Last night, she informed me that the scholarship finally hers! and the study will start on 20th of August. I can feel the excitement in her tone, and a little bit nervous actually.. she couldn’t belief.. her dream comes true. Then we talk about the necesarry stuff she couldn’t miss to bring, things she should prepare ASAP, and many more.

Some warmness heat my heart, flow in my vein and make my eyes are about to shed a tears. oh What happy I am for you dear. Congratulation for the achievement!

Tutup Satu, Buka Seribu

Barusan saya berharap pada makhluk. padahal saya punya Allah. eh sayalah yang justru milik Allah ya. milikNya lah segala sesuatu di alam semesta.

karena berharap pada makhluk tadi, maka ujungnya saya kecewa.

tapi sudah janji Allah, apabila Allah menutup rezeki kita dari satu pintu, maka Allah membukakan pintu lain untuk kita. pintu yang insyaAllah mengalirkan rejeki lebih baik, lebih besar, dan lebih berkah.

semoga Allah selalu memberikan kita ilham untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang Dia beri.. kepada kita, kepada orang tua kita, dan semoga kita istiqomah mengerjakan amal sholeh. Cukuplah Allah sebagai penolong.

Umroh Mandiri #5 Tips Umroh Saat Hamil

Bepergian naik pesawat selama hamil adalah totally aman, dengan catatan ibu dan janin yang dikandung sehat. dalam posting kali ini saya akan berbagi pengalaman, tips dan trik untuk yang akan berangkat umroh saat hamil.

  1. Berangkatlah di waktu yang tepat.  waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan jauh saat hamil adalah dalam rentang trimester kedua. bulan ke 4 sampai 6. pada masa ini kandungan sudah cukup kuat, dan ibu hamil sudah cukup terbebas dari gejala morning sickness yang  menyebalkan. Alhamdulillah perjalanan umroh kemarin bertepatan dengan usia kandungan 21 minggu, dan kondisi saya dan janin alhamdulillah sehat
  2. Siapkan Obat penguat kandungan. kendati perjalanan ini dilakukan pada usia kandungan sudah cukup mapan, obsgyn saya tetap merekomendasikan saya untuk mengkonsumsi obat penguat kandungan sepanjang saya melakukan perjalanan. selain obat penguat kandungan, dokter juga meresepkan obat pereda kontraksi yang harus saya minum sewaktu-waktu saya merasa perut saya kencang.
  3. Siapkan surat keterangan sehat. Maskapai penerbangan di Indonesia punya syarat khusus untuk ibu hamil yang hendak berpergian dengan pesawat udara. kebanyakan maskapai memiliki aturan ibu hamil yang diperbolehkan terbang adalah yang usia kehamilannya kurang dari 32 minggu. Tidak jarang kita sebagai penumpang akan ditanyai dan diminta surat keterangan dokter yang menyatakan bahwa usi akandungan kita < 32 minggu dan ibu dalam kondisi sehat dan layak untuk terbang.  Saya juga menyiapkan fotocopy surat keterangan sehat ini, in case saya butuh surat keterangan lebih dari satu mengingat penerbangan kali ini multiple cities. Nah yang mengherankan adalah, bandar udara luar negeri tidak sesaklek bandara Indonesia perihal surat keterangan sehat bagi ibu hamil ini. dari KLIA2, KLIA1, King Abd Aziz In’t Airport, kayanya saya perut mblendung lewat-lewat aja tuh gak ada yang banyak tanya. sampe di SHIA dan SMB-II langsung deh muncul lagi pertanyaan, “ibu sedang hamil??”
  4. Banyak minum air putih. perjalanan udara membuat tubuh kita lebih mudah dehidrasi. apalagi bagi ibu hamil, asupan air harus lebih banyak dari orang normal. dokter saya menyarankan saya untuk konsumsi air putih paling sedikit 3 liter per hari. Untuk perjalanan jarak jauh macam KL-Madinah, waktu tempuh kurang lebih sembilan jam, dan pastikan selama di pesawat kita harus minum banyak. Karena membawa air bervolume lebih dari 100ml ke dalam kabin pesawat itu dilarang, saya menyiasatinya dengan membawa sebuah botol kosong.  Beberapa saat setelah take-off, kita bisa hubungi cabin crew untuk minta botolnya di refill air mineral. kalo habis, boleh minta lagi. hehe.. sesampainya di tanah suci tetap ingat untuk memastikan bahwa asupan cairan kita selalu cukup. mintalah tolong kepada suami, atau rekan perjalan untuk mengingatkan kita supaya minum yang banyak.
  5. Pilih seat yang tepat di pesawat. Menurut pengalaman saya, seat yang tepat untuk ibu hamil adalah seat yang berada di gang, dan tidak begitu jauh dari toilet. karena kita minum banyak air, kebutuhan untuk mengunjungi toilet bakal lebih sering. that’s why kita perlu tempat dipinggir gang biar gak ganggu orang lain kalo pas kita butuh wara-wiri ke toilet. dan sebaiknya, tempat duduk kita tidak begitu jauh dari toilet.. tapi jangan terlalu dekat juga. Penumpang pesawat itu macam-macam. pengalaman saya umroh tahun 2013, saat itu kita naik maskapai Emirates, Jakarta-Jeddah, transit di Dubai. guess what? penumpangnya jorokkk sekali. campur aduk dari india, pakistan, orang-orang timur tengah, orang asia, dan tidak semua penumpang berasal dari kelas atas yang sudah biasa naik pesawat, dan tidak semua penumpang punya edukasi yang baik tentang sanitasi di toilet pesawat. banyak bahkan yang gak ngerti cara pakai toiletnya, gak ngerti cara flush toilet, bahkan gak ngerti gimana cara ngunci pintunya.  so sad but true, seorang jamaah cerita kalo dia mergokin nenek-nenek buang hajat ditoilet dengan pintu terbuka karena dia gak paham cara ngunci pintu toiletnya. kalo nih, ketiban sial dapet yang seperti ini, maka duduk di seat yang terlalu dekat dengan toilet bau pesing selama sembilan jam perjalanan adalah sebuah kutukan. hehehe.
  6. Jalan-jalan di dalam pesawat. ibu hamil kakinya akan mudah bengkak. badannya mudah pegal, dokter saya menyarankan untuk setidaknya berdiri lima menit setelah kita duduk satu jam. kebanyakan duduk akan bikin kaki bengkak.
  7. Gunakan stocking khusus selama terbang. bisa dibeli di toko alat kesehatan, namanya stocking untuk orang parises. ibu hamil bisa pake itu untuk mencegah terjadinya kaki bengkak.
  8. Gunakan alas kaki yang tidak sempit atau sepatu/sendal yang terbuka. karena kemungkinan kaki yang akan bengkak, disarankan tidak mengenakan sepatu yang ngepas di kaki. lebih baik sendal yang terbuka aja, atau oversized sepatu juga boleh. kalo misalnya pas kaki kita bengkak… begitu landing sepatu yang semula muat itu akan jadi kesempitan. ga mau dong nyeker di bandara di negeri orang? atas udah cantik, bawahnya nyeker. wkwkwk. sampai di tanah suci sebernya sepatu sempit ini bisa disiasati dengan beli sepatu baru wkwkwkw…
  9. Bawa bantal sendiri. perjalanan jauh si biasanya dipesawat disedian bantal dan selimut yang bisa dipakai, tapi kalo saya kemarin, saya siapin bantal boneka super empuk untuk ganjel pinggang dan punggung. trust me 9 jam cukup melelahkan dan bikin punggung pegal.. bantal untuk ganjel pinggang akan sangat membantu.
  10. Gunakan Wheel Chair. Selama beribadah umroh, saya menggunakan kursi roda. kursi roda ini bisa diperoleh dengan menyewa, banyak sekali jasa sewa kursi roda di masjidil harom. bisa menyewa jasa kursi roda via mutawwif juga, karena mereka biasanya dengan senang hati menyediakan. pasaran biaya kursi roda plus jasa dorong adalah sekitar 200 SAR… kalo pas peak season macam bulan puasa bisa 300 SAR untuk sekali rangkaian umroh (tawaf + sai). Alhamdulillah, hotel tempat kami menginap menyediakan jasa kursi roda ini gratis. kursinya doang sih tanpa jasa dorong. tapi itu sudah lebih dari cukup.. dan suami saya kebagian tugas dorong-dorong saya pas tawaf dan sai. hehe
  11. Jangan Memaksakan diri. yang tau kondisi badan kita adalah kita sendiri. ibu hamil perlu istirahat ekstra dan tidak boleh terlalu capek. begitu badan anda pegal, istirahat. capek jalan, stop dulu terus duduk istirahat. karena gembira ibu hamil banyak yang lupa kalo dia sedang hamil.. jadi gesit aja bawaan pengen kesana sini. pokoknya gapapa hidup slow motion banget asal ibu dan janin tetap sehat.

Umroh Mandiri #4 Umroh Sambil Hamil

Januari 2018, Surprise! Test pack nunjukin ada dua garis! Allahuakbar…. campur aduk rasanya. senang sudah pasti karena ini adalah yang saya dan suami nantikan selama ini, tapi ada juga rasa takut karena trauma. Setelah dua minggu telat haid saya dan suami ke dokter kandungan dan alhamdulillah kantung kehamilan sudah tampak. saya betul positif hamil.

sampai sini kita berdua pulang dengan senang, tapi ad kegalauan dalam hati, gimana dengan rencana umroh bulan Mei nanti? apa kita refund aja tiketnya? orang tua juga pasti ngelarang ni hamil susah-susah terus mau jalan jauh? apa sehat nanti badan kita? apa aman? apa gakpapa?

yang jadi opsi saya dan suami tempo hari adalah,

  1. refund tiket, undur keberangkatan.
  2. refund tiket saya aja, suami tetap berangkat.
  3. tetap berangkat apapun yang terjadi
  4. tetap berangkat dengan banyak penyesuaian

maka setelah berminggu-minggu dalam kegalauan, saya dan suami memutuskan untuk ambil opsi keempat. kami akan tetap berangkat… hanya saja dengan banyak penyesuaian.

Kami sempet mikir untuk keluar dari grup umroh awal ramadhan dan mencoba ikutan travel aja dengan modal tiket yang udah ditangan… caranya adalah nyari  open trip awal ramadhan yang hari keberangkatannya sama…. terus membujuk ke biro perjalanan untuk bisa gabung dengan mereka tapi dengan kondisi kami berdua yang sudah issued tiket sendiri. tapi emang ada gitu biro perjalanan yang mau ngangkut kita berdua? bukannya keuntungan mereka itu justru banyak dari tiket ini? rugi dong mereka?

ditimbang-timbang, dipikir-pikir, ada sih beberapa kenalan biro perjalanan umroh yang kenal karena jasanya pernah kita pake, tapi kok mau ngomong ya malu.. malah takut merusak relasi selama ini. wkwkwk. terus lama aja berhari-hari sama suami saling suruh untuk ngontak travelnya duluan.

sampai tiba saatnya kita kontrol lagi kedokter kandungan, suami nanya sama dokternya, S: Suami, D: Dokter.

S: dok, kita berdua mau umroh….

D: berangkatlah… (jawabnya spontan tanpa mikir)

S: Gapapa dok?

D: Berangkatnya kapan? (baru deh dia mikir)

S: masih Mei nanti sih dok

D: oooh ya gapapa, berangkatlah…

terus saya mikir, Mei nanti usia kandungan saya kurang lebih 21-22 minggu.  betul juga ya kondisi yang sangat pas untuk melakukan perjalanan agak jauh. kandungan sudah kuat, ibu sudah gak mual lagi. kalo Allah mau bisa saja saya dikasih hamilnya pas Mei kan? jadi berangkat pas hamil muda banget. atau bisa aja Allah kasih hamilnya pas baru mau issued tiket yang malah bikin kami gak jadi issued tiket. kenapa Allah kasih hamil setelah tiket dibeli? kenapa positif hamilnya bulan Januari? mungkinkan ini adalah Izin Allah untuk saya bisa tetap berangkat umroh tanpa membahayakan kehamilan?

langsung mengalir air mata… duhai Allah… Engkau Maha Baik….

dan suami saya punya pikiran yang sama. kata suami saya, kehamilan ini adalah jawaban atas doa kami… ketika kami baru berniat saja mau umroh untuk berdoa khusus minta keturunan, tapi Allah sudah memberi bahkan sebelum kami minta. Lantas pantaskah kami membatalkan rencana berkunjung ke Baitullah, bukankah kami seharusnya lebih banyak mengucap syukur atas anugerah yang sudah Allah beri?

maka kami berdua jadikan perjalanan ini sebagai nazar yang harus kami tunaikan…. bismillah.

Umroh Mandiri #3 Beli Tiket dan Gabung Grup

Setelah mempelajari teknis perjalanan dan sudah fix kloter mana yang akan kita ikuti, maka langkah selanjutnya adalah issued tiket. Kloter Awal Ramadhan memanfaatkan promo tiket dari maskapai Saudi Airlines untuk rute Kuala Lumpur – Madinah, dan kembali ke tanah air dengan rute Jeddah – Jakarta.

Pemesanan tiket dilakukan via web Saudi Airlines, seperti biasa kalo kita beli tiket. yang jadi masalah adalah pembayaran dilakukan dengan Credit Card sedangkan saya dan suami bukan pengguna credit card. alhasil puter otak gimanalah caranya… solusi paling gampang adalah minta tolong teman yang punya kartu kredit dengan limit gede.. karena yang mau dibayar ini lumayan juga… tempo hari untuk tiket PP berdua saya dan suami kena 17 juta rupiah.  Lucky us, alhamdulillah ada niat ada jalan, seorang sahabat dengan senang hati meminjamkan kartu kreditnya untuk membayar tiket tersebut. jadi berapa biaya yang terpakai kami transfer balik ke rekeningnya.

maka tiket sudah issued… alhamdulillah kita langsung kontak ketua grup untuk invite kita di grup whatsapp Kloter Awal Ramadhan. syarat untuk bisa gabung di grup Whatsapp ini adalah harus sudah issued tiket dulu.. yg cuma mau kepo doang dilarang gabung. wkwkwk. Selanjutnya komunikasi antar jamaah mengenai teknis keberangkatan, persiapan, spot-spot janjian dbs disampaikan via Grup ini juga.

saat gabung grup, Allahukabar.. saat itu rasa-rasanya saya sudah semakin dengat dengan Baitullah. setiap solat menatap tempat sujud rasa-rasanya sudah berada di Raudho, dekat makam Rasulullah. maka terpanjatkanlah doa, Ya Rabb lancarkan rencana Safar ini… berkahi, dan ridhoi…

padahal itu beli tiket oktober, rencana berangkat masih mei tahun depan.  wkwkwk masih lama.

 

 

 

Umroh Mandiri #2 Teknis Perjalanan

Hal selanjutnya yang menjadi concern saya adalah mempelajari bagaimana teknis umroh mandiri itu dilakukan.

Seperti yang kita tau term backpacker (orangnya) atau backpacking (kegiatannya) ini memiliki definisi melakukan perjalanan dengan hanya bermodal satu backpack doang. Otomatis barang bawaan akan disortir sedemikian rupa sehingga tersisa yang memang necessary aja, dan biaya akomodasi dipangkas seirit-iritnya (penginapan, transportasi, dsb). Perjalan backpacking pertama saya dan suami dulu adalah ke Jogja, Solo dan Semarang selama seminggu, dengan satu backpack dipundak masing-masing. Perjalanan ketiga kota ditempuh dengan kereta api kelas ekonomi, serta transportasi city tour dilakukan dengan cara sewa motor harian. Kami makan dipinggir jalan, nginep dihotel pinggir juga dan kelas melati. atau jangan-jangan tidak berkelas. wkwkw. it’s Ok sejauh itu nyaman, bersih, dan aman.  Itinerary juga disusun sendiri, tiket dan segala macam dipesan sendiri. hemat? banget! dan kita bisa liburan quality time tanpa guilty feeling sudah nguras tabungan hehe.

Nah, pertanyaannya adalah, dapatkah pola travelling seperti ini diterapkan juga untuk melakukan ibadah umroh?

Emang dasarnya tadi niat, saya jadinya sekalian juga beli beberapa buku bertema umroh backpacker untuk nambah wawasan. Dari apa yang saya baca, bahwa jamaah umroh asal Indonesia tidak bisa melakukan perjalan umroh yang betul-betul backpacker-an.

dalam prosesnya kita butuh ngurus visa umroh. dan regulasi pemerintah arab saudi sono, penerbitan visa tidak bisa diajukan oleh perseorangan, melainkan perseorangan tersebut haruslah berada dibawah naungan biro perjalanan. hal ini merupakan upaya preventif pemerintah arab saudi terhadap kemungkinan jamaah terlantar, nyasar, ujung-ujungnya jadi gembel disana. to make sure bahwa ada yang “bertanggung jawab” atas diri para jamaah ini makanya diharuskan setiap jemaah umroh dinaungi oleh biro perjalanan. dari sini kita simpulkan bahwa proses penerbitan visa ini saja tidak bisa dilakukan ala backpacker. kita perlu jasa pihak lain.  Maka, yang disebut umroh backpaker sebenarnya bukan backpacker betulan, tetaplah nanti pake koper, wkwk, nginep di hotel, transportasi dalam kota dengan bus premium, hanya saja, saya ulang ya, HANYA, kita memangkas biaya tour travel yang sebetulnya tidak necessary.  tiket kita booking dan bayar sendiri, koper angkut sendiri, dan biaya service lain-lain itu yang dipangkas. hemat? iya! masih jauh lebih hemat ketimbang gabung tour travel.

Sebagai perbandingan, biaya untuk Umroh 10 Hari pertama Ramadhan adalah 36 juta rupiah versi travel sebelah (kamarnya quad alias sekamar berempat). sedangkan yang dihabiskan saya dan suami tempo hari kurang lebih 21 juta rupiah / orang (kamar double, cuma isi dua orang) dengan rincian:

  1. Tiket Jakarta- Kuala Lumpur
  2. Tiket Kuala Lumpur – Madinah
  3. Tiket Jeddah – Jakarta
  4. Hotel di Kuala Lumpur
  5. Biaya Visa
  6. Biaya Koper
  7. Biaya Land Arrangement (akomodasi 9 hari di Saudi)

berapa yang berhasil kita hemat untuk perjalan berdua ini? 15 juta x 2 orang. Hemat 30 juta saudara-saudara! harga segitu  sebetulnya masih bisa dipangkas lagi, gimana caranya? caranya adalah saya dan suami nyari tiket Jakarta-KL yang mepet2 waktu departure KL-Madinah jadi kita bisa pangkas biaya hotel di KL.. dan kalo mau ngirit lagi bisa ambil kamar yang sekamar berempat… jadinya campur dengan jamaah lain. itu bisa cuma habis 17 juta loh saudara-saudara… masyaAllah luar biasa.  tapi kenapa kita akhirnya nyari hotel dan ambil kamar double alias sekamar berdua doang? bagian ini nanti ada ceritanya, hehehe.

Oke untuk teknis perjalanan, berikut ini step by step yang saya rangkum apa yang kita lakukan:

  1. Gabung dulu komunitasnya di social media. ada banyak banget ini mah… cari yg reliable ya! caranya gabung agak lama, pelajari dulu pola bisnisnya, siapa-siapa orang dibalik layar, dan pastinya cek portofolio keberangkatan yang pernah komunitas tersebut lakukan.
  2. Pantau jadwal open trip
  3. Pilih kloter yang sesuai jadwal dan budget kamu
  4. Issued tiket sesuai dengan yang sudah disepakati bersama (maskapai, rute, waktu)
  5. Gabung grup khusus kloter
  6. ikutin aja petunjuk dan arahan dari ketua grup (banyak ni rangkaiannya, ngumpulin syarat visa, terus kirim syarat visa (visa diurus kolektif ), terus visa yang dah jadi dikirim balik ke kita, kolektif manggil ustadz bagi yang merasa perlu manasik, koordinasi name tag segala macem, terus janjian spot ketemuan dimana, dsb)
  7. tiba hari keberangkatan, ketemuan sama temen-temen seperjalanan deh
  8. enjoy your trip!

dan apa syarat ikutan pola travelling seperti ini:

  1. Kamu kooperatif, punya kemauan. tentang biaya, kamu gak harus punya duit banyak untuk ikutan. Biaya di pola travelling seperti ini dikeluarkan dengan cara dicicil.. jadi terasa ringan. macem saya kemarin, bulan oktober saya bayar tiket, bulan april baru saya bayar LA. rentangnya lama.. kita punya banyak waktu untuk nabung lagi kurangnya berapa.
  2. Tidak malas membaca info yang beredar via grup.
  3. Kamu mandiri dan bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Karena perjalanan ini dilakukan tanpa tour travel maka tidak ada pihak yang akan melayani kebutuhan kamu. tidak ada tempat kamu komplain kalo terjadi hambatan dan masalah. semua dihadapi sendiri, masalah diselesaikan bersama, sesama jamaah saling jaga. dengan catatan: tidak ada tempat untuk traveller manja
  4. Kalo kamu kebetulan solo traveller, maka pastikan kamu tidak gaptek, dan berbadan sehat. susah nih kalo solo traveller tp gak paham teknologi, apa-apa gak paham terus gak mau belajar pula.. ditambah badan gak fit pula. ini bakal jadi beban orang banyak. Untuk jamaah lanjut usia sebaiknya didampingi keluarga.

Umroh Mandiri #1 Awal Mula

Sebenernya saya mau sharing ini maju mundur.. takut riya, takut ada sebutir sombong dan hal-hal lain yang justru menghanguskan pahala ibadah saya. Tapi bismillah, semoga terhindar dari hal yang saya sebut barusan, niat saya semata adalah berbagi untuk yang mungkin saja memerlukan info tentang ini.

18 Mei 2018 yang lalu saya dan suami berangkat umroh berdua. Umroh kali ini terbilang agak spesial karena saya dan suami tidak menggunakan jasa travel / biro perjalanan ibadah umroh. Umroh “mandiri” ini sudah kami rencanakan jauh hari hampir satu tahun sebelumnya.

Bermula dari kerinduan kami untuk kembali mendapatkan momongan pasca kehilangan anak kami Zhafran, kala itu kandungan saya sudah kosong lagi selama 1 tahun lebih. Saya dan suami lakukan beberapa ikhtiar, program hamil macem-macem (I’d like to share about this later), dan Saya dan suami merasa terpanggil untuk mendekatkan diri ke Allah, berkunjung kembali ke baitullah. niatnya disana untuk berdoa, disegerakan memperoleh keturunan yang sholih dan menyejukkan hati.

Ada niat ada jalan. Sekitar September atau Oktober 2017, qodarullah saya termasuk salah salah satu pemenang hibah yang nominalnya cukup besar untuk ukuran saya, 20 juta rupiah. saya tersentil mungkin ini adalah jawaban niat saya dan suami yang kepingin berangkat umroh lagi. Agustus 2017 saya pernah liat sebuah posting seorang teman (saya lupa siapa) tentang sebuah komunitas perjalanan umroh mandiri. Jadi ada komunitas yang memfasilitasi jamaah untuk saling mengenal, berkomunikasi, dan akhirnya melakukan umroh secara mandiri dan bareng-bareng, tanpa jasa biro perjalanan.

Saya bergabung ke komunitas tersebut, mencoba mencari tau teknisnya, dan kapan lagi open trip untuk keberangkatan umroh selanjutnya. Ada yang umroh reguler, umroh plus Mesir, umroh plus Turki, umroh plus Swiss, tapi saat itu yang langsung nyangkut di hati saya adalah gelombang Umroh Kloter Awal Ramadhan.

saat saya komunikasikan rencana ini dengan suami, dan suami saya setuju, maka bismillah, kami bulatkan tekad luruskan niat. insyaAllah Ramadhan 2018 kami berdua akan berangkat Umroh.

 

 

Bakat Terpendam

Saya memiliki keahlian yang saya mahir sekali sejak lama, tapi saya baru saja sadar kalo ini bisa saja sebuah bakat yang terpendam: menangis dalam diam.

Saya mahir sekali meredam suara sedu sedan sesegukan hingga hampir tidak ad suara sama sekali seharu biru atau sehancur apa hati saya saat saya menangis. Keren bukan?

Ala bisa karena biasa. Setelah recall memori jaman dulu, ada beberapa momen dimana saya berlatih bakat saya ini. Memori. Tentang luka lama yang saya bahkan tidak mau mengingatnya lagi.

Ada sebait doa yg kala itu saya ucap. Mungkin sekarang harus saya ucap lagi.

“ya Rabb.. atas segala apa yang telah engkau tetapkan terjadi kepadaku, buatlah aku menjadi senang, buatlah hatiku menjadi ridho..”