Seputih Salju, Sehalus Sutera, Setangguh Karang

Tadi sore saya menerima sebuah pesan singkat dari sahabat saya, isi nya kira-kira sepert ini : “Bil, ntar liat note aku yaa”, dalam hati saya bertanya “Wah, note tentang apaan ni?”. Barusan saya menunaikan amanat dari sahabat saya itu, saya mampir ke Facebooknya lalu membaca note yang ia post-kan. Ternyata note tentang ‘luka’nya. Tulisan yang indah dan cukup mengharukan bagi saya. Sebuah penuturan yang menurut saya jujur sekali. Ia menceritakan sepenggal kisah dirinya di dalam tulisannya itu. Kisah tentang ‘Sang Hati’, si lelaki 10 Maret.
***

Saya ingat, pernah di ultah ke 17 ‘Sang Hati’, sahabat saya merancang suatu kejutan istimewa untuk merayakan hari bersejarah itu, dan rencana yang disusun pun berjalan lancar. Mungkin ‘Sang Hati’ menjadi orang paling bahagia pada saat itu, terlihat jelas dari raut wajahnya, sorot matanya maupun garis senyumnya. Ia bahkan sempat berujar-yang intinya seperti ini, “Aku seneng nian, aku belom pernah dapet yang cak ini, makasih banyak yo, kalian sahabat-sahabat terbaik aku, jangan pernah tinggali aku yo..”

“10 maret 2007, untuk pertama kalinya hatiku bahagia krn kebahagiannya.. melihat mata yang sendu itu berkaca namun tak sempat jatuh tuk sampai kan ke bumi bahwa “aku bahagia” ya ia bahagia.. huff… diri ini pun berjanji”aku kan buat kau lebih bahagia dari ini”

Ya saya tahu! saya mengerti perasaannya. janji yang begitu tulus itu sempat ia ceritakan kepada saya. “Bil, dio seneng nian.. Aku punyo tekad, suatu saat aku bakal bikin dio jauh lebih bahagia dari saat ini…!” Sahabatku begitu tulus, batinku saat itu.

“Angin malam bisikkan sejuta nyanyian, hembuskan ketgsan hatiku padamu. hembusan itu merasuk ketulangku menembus raga,hembusan itu in nyt’ cintaku terpilin waktu, ingin kurengut masaku, hingga tiba masa kita. kau simfoni cintaku, melantunkan nada nada hidup bagiku. Mencintaimu adalah bahagiaku. kau nafas dalam setiap lelahku”. “Cintaku tak hanya diam, cintaku nyata bagimu. Meresap kedinding hati, telah terukir di jiwaku. Seperti tetes embun di pagi hari, menyegarkan hati,tak pernah kusesali”

Yang diatas itu kata kata ‘Sang Hati’ yang dikirimkannya kepada sahabat saya, manis manis bukan? Tapi apa anda tahu apa yang teradi sekarang? masih ingat kata-kata ‘Sang Hati’ saat ultah ke 17 nya yang tidak ingin sahabat saya meninggalkannya? Nyatanya sekarang dia yang pergi menjauh! tanpa alasan yang jelas pergi begitu saja, meninggalkan sejuta tanya, segudang luka dan penyiksaan batin -yang saya yakin- BEGITU PAHIT.

Kadang terlintas di benak saya, kok bisa sampe sekeras itu hati seseorang. dengan mudahnya melupakan hal-hal indah yang telah dilalui bersama, melupakan segala yang telah tulus dihadiahkan dan dikorbankan untuknya. Begitu keras hatinya sampai tega pergi dengan penghianatan dan meninggalkan luka teramat perih dan menyakiti sahabat yang amat saya sayangi…!! Mungkin ‘Sang Hati’ lupa dengan keindahan yang telah dilewati, tapi begitu mudahnya kah melupakan semua itu? mungkin memang hal ini tidak dapat diterima oleh akal sehat saya. Bagi orang yang mungkin punya hati hampir SEKERAS BATU, mungkin cinta, pengorbanan dan ketulusan memang tidak berarti apa-apa. Sampai timbul sedikit pertanyaan skeptis, Apakah ‘Sang Hati’ pernah betul-betul mencintai sahabat saya?? Atau hanya pelampiasan ego nya yang labil saja??

“hari terakhirku di usia 17thn..kuhabiskan di rumah keduaku..asrama tercinta. disitu ktk malam menjemput petang..kulihat langit begitu indah…diiringi kumandang azan dari megahnya mesjid babul ilmi…dan malam sunyi selalu menjadi saksi ketika aku berdua dengn-NYa. aku punya hidup baru disana(meski kutahu rumahku tetap yg palling hangat) datang lagi sosok yg menjadi ayah bagiku. itu karena bijaknya, karena protectnya… menjaga ku sllu.. tak pernah biarkan aku kesepian.. temani aku walau hanya dengn lelucon anehnya.. dan kadang dg motor kebanggaanya.haa”

‘Sosok Ayah’.. Sungguh, Ada penyesalan jauh dilubuk hati saya. Mengapa saya membiarkan saja saat dulu sahabat saya lebih memilih ‘Sang Hati’ ketimbang lelaki ini? Seandainya saja saya tahu ‘Sang Hati’ akan melukai sahabat saya tentu saya tidak akan membiarkan semua ini terjadi. Berat sungguh saat sesuatu yang baik itu malah tersingkirkan dan sesuatu yang buruk malah di’dewa’kan. Mengapa kita baru menyadarinya justru saat semua telah terjadi? saat putaran roda waktu telah jauh berjalan dan tak dapat diulang lagi?

Setelah semua tulisan sahabat saya telah selesai saya baca, saya bertanya pada diri saya sendiri, Apa yang dapat saya perbuat untuk sahabatku ini? Apa yang dapat saya lakukan aga sahabatku dapat tersenyum lagi? Saya tahu dan saya mengerti apa yang ia rasakan. Saya ada disana saat ia melewati bagian-bagian kisah yang diceritakannya. Saya pahami betapa beratnya ini bagi dia.

Ini hanya sedikit luapan emosi saya, hanya sedikit perwakilan dari isi hati saya yang tertuang kedalam untaian kata. Saya tau mungkin ini tidak dapat membantu apa-apa. Mohon maaf kepada pihak yang mungkin tersinggung dengan kehadiran posting ini, ini saya buat sebagai bentuk kepedulian saya sebagai seorang sahabat bukan untuk merusak nama baik dan sedikitpun tanpa maksud mencampuri urusan pribadi pihak tertentu. Tulisan ini sengaja saya buat untuk seorang sahabat yang telah saya anggap sebagai saudara sendiri.

Untuknya:
SYLVIA PERTIWI
Seseorang yang di dalam dirinya ada hati seputih salju, ada perasaan sehalus sutera, ada jiwa setangguh karang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s