Tukang Koran

Abah itu cerdas, mungkin dia adalah siswa akselerasi pertama yang ada di kota ini, ia menamatkan SR selama 4 tahun, bukan akselerasi tepatnya, tapi sistem loncat kelas. Jaman itu, Guru Belanda nya memperkenankan murid murid cerdas untuk loncat kelas bagi yang bisa menjawab benar soal-soal matematika yang sulit dengan mencongak. kakekku bukan bangsawan! ingat Abah rakyat jelata, suatu kebanggaan dia bisa sekolah sampai lulus SR. SMP nya di tamatkan di SMP taman siswa, kemudian SMA di SMA Xaverius 1 Palembang, Abah angkatan pertama SMA ternama itu.. 🙂 *kok aku bangga ya? hehehe.
Abah di Palembang hanya sama adiknya, Orang tua Abah tinggal di desa. hebatnya ia yang menanggung semua keperluam hidup dan sekolah di Palembang, adik-adiknya punya kepribadian yang jauh beda, manja. Abahku hidup susah, jika sekolah pagi hari, maka sorenya ia ke terminal untuk menjajakan rokok. Jika ia sekolah siang hari, maka paginya ia ke terminal untuk berjualan koran. itulah abahku. ia juga membeca! ya itulah Abahku… Hingga akhirnya abah sempat kuliah, di akademi koperasi, tapi ga sempat di selesaikan karena kendala biaya. 😦 akhirnya abah banting setir ke dunia pendidikan, Abahku yang cerdas memilih jadi guru, ia punya bakat lebih pada bidang hitung hitungan. hingga akhir hayatnya Abahku mengabdi menjadi seorang pehlawan ilmu, berbagi pengetahuan Matematika, Fisika dan Kimia yang ia mengerti. Dunia pendidikan mengantarkan Abah pada Ummi yang seorang guru Agama, Ummi : wanita yang ia cintai yang sekarang jadi nenekku. *darinyalah aku yakini pipi tembemku diwariskan.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s