Catatan Christiane

“Ibu” Apa yang ada dalam pikiran kamu ketika mendengar kata Ibu? Seorang wanita penuh kasih kah? yang rela melakukan dan mengorbankan apapun demi buah hatinya? Ibu, tidak berarti begitu bagiku. Ibu yang selama ini aku panggil sejatinya bukanlah orang yang melahirkanku, Ibu adalah kakak dari Mama. Mama, seorang wanita yang tidak ku ingat bagaimana kasihnya, Mama yang tidak pernah ku belai cintanya.
“Jangan jadi seperti Mama kamu! Pembangkang bodoh!” Itu yang selalu ibu katakan saat ia marah, kadang aku bosan dan ingin berteriak saat berulang kali ia berkata begitu. Hatiku perih saat ia dengan penuh kebencian bilang Ibuku seorang pembangkang, yang tolol, tidak tahu diri. Sesak rasanya, Ibu bahkan seakan tidak pernah bisa memaafkan Mama, meskipun sejatinya Mama telah pergi 7 tahun yang lalu. Meninggalkan Kami semua.

Usiaku kini 14 tahun, duduk di kelas 2 SMP Kristen ternama di kota ini. Artinya telah 8 tahun aku tinggal bersama Ibu dan terlepas dari bayang Mama. Ibu dan Ayah adalah pasangan suami istri yang tidak memiliki anak, aku kadang berpikir, sebuah keberuntungan (atau malah kesialan?) bagi mereka untuk bisa mengasuh (atau memungut?) aku sebagai anaknya. Dalam hati aku berterimakasih untuk bisa tinggal ditengah mereka, setidaknya mereka tidak membiarkannku hidup menggelandang. Ayah, seorang kristen taat yang penuh kasih, sosok ayah benar benar aku dapatkan darinya entah karena aku yang memang tidak pernah merasakan kasih ayah sedari aku lahir, atau memang cinta kasihnya begitu tulus yang telah menganggap aku sebagai anaknya sendiri. Lain halnya dengan Ibu, Ibuku seperti sosok mengerikan
di dongeng dongeng, seperti ibu tiri dalam cerita cinderella, seperti ursula di kisah little mermaid, seperti curella devil di 101 Dalmatians. Sebenarnya agak berlebihan aku menyebutnya begitu, kadang kadang Ibu baik kok, hanya saja sangat jarang terjadi. Pandangan mata Ibu adalah pandangan mata kemarahan, pandangan mata marah. kemarahan yang tidak tersalurkan, Kemarahan pada Mama.
Rio adalah seorang TNI putra asli NTB, ia cerdas juga tampan, kegagahannya telah membius seorang wanita, menumbuhkan benih benih cinta dalam hati Eliza, Mamaku. Jatuh cinta dan menikahi seorang muslim adalah cikal bakal kenapa Ibu sangat membenci Mama, Mama dianggap membangkang dan tidak tahu di untung, mama di cap sebagai wanita yang matanya dibutakan oleh cinta. Tapi Mamaku sangat teguh pendiriannya, ia dengan yakin ikut memeluk Islam, menikah dengan Papaku, dan melahirkan aku. Aku terlahir dengan nama Agusstin Hakiem, seorang bayi yatim yang beragama Islam! Ya aku seorang yatim, Papa meninggal dunia saat usia kandungan Mama 6 bulan.
Sepeninggalan Papa, Mama memutuskan untuk pindah mencari kehidupan yang lebih baik di Jakarta. Di NTB toh Mama juga bakal hidup sendirian, Papa sebatang kara dan tidak punya keluarga lagi, jadi lebih baik ke Jakarta, nasib akan lebih gampang menyapa jika kita berada di pusat kota. Mungkin seperti itu pikir Mama kala itu. Dan pindahlah aku serta Mama ke Jakarta. Mama seorang mualaf yang teguh, aku didaftarkannya ke taman pendidikan alqur’an, Mama mau aku ikut belajar mengaji disana. Rupanya cahaya Islam menyapa Mama, ia menjadi muslim bukan karena kecintaannya pada Papa, melainkan pada Islam itu sendiri.
Taklama, saat aku berusia enam tahun, Mama sakit, kata Mama, ini sakit yang sama dengan yang diderita Papa dulu. Aku takut sekali. Tapi apa daya ku? aku hanya seorang anak kecil yang tidak bisa berbuat apa apa, aku hanya bisa berdoa kala itu, “Tuhan, sembuhkanlah Mama”. Kendati telah dibujuk (lebih tepatnya dipaksa) oleh saudara saudaranya untuk kembali ke jalan sebelum islam, Mama terus saja menolak. Hingga saat itu, wujud pembangkangan terbesar yang pernah Mama lakukan, yang menambah tumpukan kekecewaan dalam diri Ibu. Kekecewaan yang terakumulasi menjadi amarah: Mama menghembuskan nafas terakhirnya dengan keislaman yang tetap melekat.
Dunia seakan runtuh, apa yang kamu lakukan jika berada di posisiku saat itu? aku teramat sedih dan tak henti menangis meraung-raung di pinggir jasad kaku Mama. Tinggallah aku sang gadis kecil yatim piatu. Ibu dan suaminya, Ayah, berinisiatif mengasuhku, mengangkat aku menjadi anak mereka. tapi semua itu dengan satu syarat: mengkristenkan aku terlebih dahulu. Keputusan ini bukan pilihan. Aku bahkan tidak punya pilihan. Papa dan Mama tiada. Aku tetap harus hidup bukan? Aku pasrah saja ketika dibaptis, namaku kini Christiane. Ibu tersenyum penuh kemenangan, tapi sorot mata amarah itu masih tetap ada.
Hmm.. Tujuh tahun aku hidup dengan kristen ku. Kadang terbesit dalam hati untuk kembali belajar mengaji seperti dulu, sayangnya jangankan bertindak lebih jauh, berpikir kearah sana pun bisa membuat aku ditendang dari rumah ini. Tapi jauh di dalam hati, sungguh aku ingin seperti Papa dan Mama: Mati sebagai seorang muslim.
“Ristiiiiiiiiin…….”
Ah, Ibu jejeritan lagi. Ups! aku lupa, kami akan mengikuti misa di gereja pagi ini. Aku belum mandi! bodohnya…
“Iyaa Buu…… Tunggu sebentar!”
Advertisements

4 thoughts on “Catatan Christiane

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s