Tak Lagi Peduli

Berakhir,
Maka tuntas
Lalu lepas
Bebas…

Itu maumu wahai kaisar?
silahkan, aku tak lagi peduli….

(Alfathunnisaa 0710)

Advertisements

LUKA

seperti elegi, pilu
bukan drama, apalagi cerita sedih

kau anggap aku apa, hah?
boneka yang bisa seenaknya kau peluk
lalu kau campakkan saat kau bosan

kau anggap aku apa, hah?
pelacurmu yang bisa kau cium, kau sedot habis wangi tubuhnya
dan kau kaparkan begitu saja kemudian

kau anggap aku apa, hah?
seonggok tai kucing di pinggir jalan
yang biar kau injak pun tak punya perasaan

kau anggap aku apa, hah?

(Alfathunnisaa, 0710)

saya memang munafik. anda juga, kan?

Selamat malam semua, barusan saya terinspirasi oleh berbagai hal. Wallwalking dan Blogjumping barusan mengantar saya pada hal hal yang sedikit banyak membantu mengubah paradigma. Dan sekarang saya betulan sadar kalo saya bukan orang yang sepenuhnya baik, saya menyimpan kemunafikan dalam diri saya. Saya orang yang hatinya masih kerap terjangkit penyakit iri, penyakit buruk sangka, dan penyakit-penyakit busuk lainnya.
Pernakah anda terpikir, bahwa beberapa sahabat  anda yang justru sampai sekarang selalu ada saat dibutuhkan adalah mereka yang punya kesan ‘miring’ dimata anda kala pertama jumpa? Atau pernakah anda terpikir bahwa beberapa orang yang punya hubungan kurang baik dengan anda adalah orang yang dulunya punya kesan pertama yang amat positif? Dan pernahkah anda berpikir mengenai  orang-orang yang telah anda hindari tanpa anda mengenalnya terlebih dahulu lantaran anda telah terlanjur menilainya buruk?  Pernahkan anda menyesali sebuah konflik yang terjadi akibat buruk sangka? Dan para pembaca yang cerdas, apa yang sesungguhnya bisa kita petik dari hal ini? ...manusia kerap salah..
Sekedar share, bisa kita petik barusan bahwa sebagai seorang manusia tidak seharusnya kita men-judge seseorang tanpa kita terlebih dahulu mengenalnya dengan baik. umm.. tidak! kita  benar-benar tidak punya hak untuk menjudge seseorang! itu bukan kapasitas kita sebagai seorang manusia.. rite? 
Semoga saja kedepan sebisa mungkin kita bisa berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, yang berusaha terus berprasangka baik dalam kondisi bagaimanapun. Semoga kita mampu berjanji untuk mengurangi kebiasaan buruk menjudge seseorang, seseorang ini baik lah, seseorang ini buruklah.. padahal siapa kita? toh kita juga bukan manusia yang sempurna, rite?

Saat ini saya malu pada Tuhan, malu pada anda, dan malu pada diri saya sendiri.
Saya memang orang yang munafik. Anda juga, kan?

   

Mata Mereka Menyimpan Ragu

ada sedikit sikap gga bersahabat dari orang rumah saat saya bilang saya mau “pegang” motor lagi. Mereka ga ngelarang, tapi tatapan mata mereka ga ada yang ”bicara” ikhlas. Mungkin masih menyisa di ingatan tentang guncangan empat tahun lalu. Sebuah kecalakaan motor yang hampir merengut nyawa saya.
Sekujur tubuh biru-biru karena lebam, muka jadi ga jelas bentuknya coz semua memar dan bengkak serta lecet, gigi depan goyang, dan gegar otak ringan yang bikin saya harus opname seminggu. Bohong kalau tidak menyisa trauma setelahnnya.
Memutuskan untuk kembali berani pegang motor sebetulnya juga bukan perkara mudah. Tapi berhubung keadaan mendesak, mobilitas saya mengharuskan saya untuk dapat bergerak cepat. Selain itu karena dipikir-pikir sekarang ongkos angkutan umum semakin mahal, juga karena sadar ayah saya, kakak saya dan pacar saya punya keterbatasan untuk anter jemput saya. Sebuah motor nganggur yang “ngetem” digarasi lah yang mulai. Tekad ini bulat sudah, Motor, aku harus berani untuk nyoba belajar menunggangi kamu lagi… Saya harus jadi lebih mandiri.
Apapun, semuanya juga pasti punya resiko, tapi kalo kita cuma mikir jeleknya terus ya kita bakal jalan ditempat terus ya ga? Kendatipun nanti satu kemungkinan terburuk menimpa saya bahkan nyawa bisa jadi taruhannya, itu hanyalah potongan takdir yang telah tertulis bahkan jauh sebelum saya lahir. 
Sekarang ga da guna bicara serem-serem, lah wong belajar nya aja belom?? hahaha…

Alhamdulillah… AKU LULUS!

update status di facebook pada ngomongin itu (hal di judul ituu looh), liat di tweet juga ga jauh beda,
*sights* ..jadi keinget beberapa tahun yang lalu saat saya masih muda, hehe kaya udah lawas banget ni cerita, ga kok sebenernya baru dua tahun yang lalu.. Harap harap cemas nomor peserta SNMPTN saya submit ke snmptn.ac.id  dan keluarlah hasilnya taraaaa..
Selamat!
Nabila Rizky Oktadini 
diterima di Program Studi Sistem Informasi Universitas Sriwijaya
bukan pilihan pertama, tapi bersyukur, bersyukur sekali aku kala itu.. (dan sekarang juga bersyukur kok…) walaupun di beberapa posting sebelum ini rasa syukur itu ternoda dengan apa yang kita sebut kekecewaan. maklum saya manusia biasa sama seperti anda, punya khilaf punya dosa.
Heran ya, kata-kata bijak mudah sekali kita tulis dengan indah, tapi sulit akan sulit sekali mengambil nilainya untuk kehidupan, kenapa? karena kita kerap lupa. Padahal Tuhan kita tidak memberikan apa-apa yang umatnya tidak sanggup menopangnya. Tuhan kita bukan memberikan yang kita inginkan, tapi Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan. 
Ya betul, Tuhan memberikan apa yang terbaik bagi kita, meski kadang  hal yang (sebetulnya) terbaik itu kita tidak suka. Saya jadi mahasiswi Sistem Informasi karena Sistem Informasi adalah yang paling baik untuk saya, saya ada di Sistem Informasi karena ada teman-teman baik yang telah Tuhan siapkan untuk saya. SI dikirimkan Tuhan kepada saya sebagai pengantar cerita cerita indah yang akan saya lakoni selanjutnya (insyaAllah begitu). Jika tidak kenal dengan Sistem Informasi saya juga tidak akan pernah tau apa itu SQL, Java, Php, dsb.. bahkan Precious Caprice tidak akan seindah ini karena saya tidak akan kenal dengan HTML, XML, dan CSS… Subhanallah, kita memang tidak pernah tau ada apa di balik ‘kelabu’ kita yaa…
p.s.
*Buat yang hari ini lulus SNMPTN sesuai dengan keinginan : Selamat yaa… 
*Buat yang lulus pilihan kedua/ketiga : Tuhan memberi apa yang kita butuhkan..
*Buat yang belum beruntung : Allah cinta kita, Allah ingin kita terus ‘bercinta’ dengannya melalui doa di setahun kedepan, semangat! karena tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau.

  

sekali ini saja, aku ingin waktu berjalan sejuta kali lebih lambat…….

Bukan seabrek tugas dan tetekbengek kewajiban lainnya yang membuat selarut ini  pun saya belum juga bisa tidur, hanya saja pikiran saya sedang tidak pada tempatnya, kenapa?  sudah beberapa hari ini ada sepasang sayap yang membawanya terbang melanglang buana jauh meninggalkan kepala saya.. Pangeranku pergi dua hari lagi, dan tidak ada yang bisa kulakukan untuk menahannya.. menahan? tidak! kenapa pula harus ditahan? tidak sepantasnya aku menahan! toh Mamas pergi juga bukan maunya. Mamas pergi karena tugas, dan pengabdiannya pada pertiwi ini.. saya hanya butuh menata hati, menguatkan diri untuk melepasnya pergi…
Kurang lebih empat hari berlalu, dan selama itu saya dengan suksesnya jadi ansos, menyendiri, dan ga tertarik dengan hiruk pikuk sekitar saya. Para sahabat yang kerap ada saat saya butuhkan pun tidak saya libatkan dalam hal ini, bukan ga percaya, tapi ini masalah hati : masalahku sendiri. Kendatipun kalimat-kalimat mereka cukup menghibur dan menguatkan, tapi yang tau bagaimana rapuhnya saya sekarang : nothing but me, saya sendiri!
Sepele mungkin bagi kalian, tapi berat bagi saya. Hari ini 14 Juli, dengan penuh harap semoga saja menjadi waktu yang diluangkannya khusus untukku.. 14 Juli kali ini saja… Aku ingin waktu berjalan sejuta kali lebih lambat…….

Separuh Jiwaku Pergi…

Aku menangis, bukan sekedar, tapi betulan tersedu. Delapan jam yang lalu, semuanya masih biasa saja. Tapi sekarang aku sadari aku sedih betulan. sedih betulan…… benar benar sedih. I’m Fine, dan ga ada yang salah sama semua ini, hanya saja yang ada ternyata tidak seringan yang saya pikir.  Empat tahun lamanya bukanlah waktu yang bisa dibilang sebentar, saya yakin semua sepakat tentang itu. Empat tahun, jiwa saya teracuni oleh apa yang mereka bilang cinta. Keindahan dari kebersamaan dengan seorang adam telah membius, dan jadi candu buat saya.
Bukannya saya ga kuat, atau mengkhianati yang telah saya janjikan pada diri saya sendiri. Shock! Saya rasa kejadian ini terlalu cepat, tanpa ba bi bu pesan singkat sembilan  belas karakter itu berhasil memutarbalikkan segalanya.. Seketika lunglai, dan jadi ga napsu makan. Kau tau? Separuh jiwa saya akan pergi….
Didik Krisna Dwipayana, engkau ksatria yang muncul di setiap potong mimpi….
Hingga jasadku lebur bersama tanah, dan asa ku terbang dibawa angin. kau akan tetap Didik-ku.

Dumai Merengut Dia

Tentang ini telah saya siapkan jauh jauh hari. Saya sadar ini konsekuensi, apa yang saya pilih itulah yang harus saja jalani. konsekuensi yang pada awalnya saya berani bilang Ya. Tapi kenapa ada kecewa yang mengusik? tetap saja mengusik meski saya sekuat tenaga mengusirnya. Ada rasa sedih yang menyelinap, meski saya telah sepenuh jiwa menepisnya. Kecewa dan sedih, harus kah? Seharusnya tidak.

Hari ini, jam ini, menit ini, detik ini, hitung mundur dimulai. Mamas bilang masih tersisa beberapa hari kedepan sebelum hari itu datang. Sebelum Dumai benar-benar merengut dia….

  

Terlalu Banyak Putih

Saya ini kenapa ya? bodoh sekali sampe sebegitunya mikirin apa yang udah lewat, seharusnya hal hal seperti putih itu dibuang saja jauh-jauh, tul? mungkin saya cuma butuh lebih banyak waktu… 2 tahun belum cukup sepertinya. huuuuuuh. dan sekarang saya telah dengan suksesnya memenuhi halaman ini dengan berpuluh kata putih. Anda bosan?? Sama! saya juga.
Lets go away dari putih, beranjak ke topik yang lain. ide bagus!
Kemarin, sekedar cakap-cakap sama temen satu almamater, mengejutkan ternyata dia pembaca caprice, pemantau setia yang suka merhatiin dari edisi satu ke edisi sebelumnya *what? edisi?? lu pkir majalah apa? hahaha..* dan suprising me, katanya page caprice di bookmark loh di browser nya. *tengkyutengkyu* kok saya jadi malu ya.. si ‘anu (sekarang kita berandai andai nama dia adalah anu) juga ngasih kritik, “mana info2 ringan yang dulu suka dibagi2? sekarang kok ga keliatan lagi?” Ya ya ya… ‘penampakan’ info memang  tengah luput dari pantauan saya.. ASAP kita bakal hadirkan lagi rubik info nya. hehehehe….

   

Tentang Putih

Apa mesti aku teriak biar semua tau tentang luka yang belum kering itu?????!
Apa mesti aku hingar bingar agar mereka bungkam???

Mereka tertawa seolah aku tak merasakan apa-apa
Seperti kekecewaan hanyalah sebuah fase biasa
Mengolok-olok dan memberi semangat seadanya
Kawan… aku baru saja kehilangan mimpi

Semua melarangku menangis, hatiku tak boleh menjerit
Tapi mereka tertawa… bukannya memapah jiwaku yang lemah
Kumohon tolong, berhentilah tertawa!

Aku hanya ingin engkau tahu, bukan menertawakanku
apalagi menghujatku…

Jika tak bisa kau berikan aku empatimu
Jika tak bisa kujadikan engkau penguatku

Kumohon berikan aku ruang sunyi
untuk mendamaikan diri,
tuk membangun semangatku lagi…

*Apa memang Tuhan tak ingin aku melupakan ‘putih’ ya, baru saja aku berniat mengubur ‘putih’, tapi putaran waktu begitu saja membawa aku kedalam sebuah percakapan singkat, yang mungkin bagi mereka biasa. tapi tidak bagiku. Perasaan saya begitu rapuh saat bersinggungan dengan hal ‘itu’, terdengar berlebihan? Ya, mungkin aku yang berlebihan….