Mata Mereka Menyimpan Ragu

ada sedikit sikap gga bersahabat dari orang rumah saat saya bilang saya mau “pegang” motor lagi. Mereka ga ngelarang, tapi tatapan mata mereka ga ada yang ”bicara” ikhlas. Mungkin masih menyisa di ingatan tentang guncangan empat tahun lalu. Sebuah kecalakaan motor yang hampir merengut nyawa saya.
Sekujur tubuh biru-biru karena lebam, muka jadi ga jelas bentuknya coz semua memar dan bengkak serta lecet, gigi depan goyang, dan gegar otak ringan yang bikin saya harus opname seminggu. Bohong kalau tidak menyisa trauma setelahnnya.
Memutuskan untuk kembali berani pegang motor sebetulnya juga bukan perkara mudah. Tapi berhubung keadaan mendesak, mobilitas saya mengharuskan saya untuk dapat bergerak cepat. Selain itu karena dipikir-pikir sekarang ongkos angkutan umum semakin mahal, juga karena sadar ayah saya, kakak saya dan pacar saya punya keterbatasan untuk anter jemput saya. Sebuah motor nganggur yang “ngetem” digarasi lah yang mulai. Tekad ini bulat sudah, Motor, aku harus berani untuk nyoba belajar menunggangi kamu lagi… Saya harus jadi lebih mandiri.
Apapun, semuanya juga pasti punya resiko, tapi kalo kita cuma mikir jeleknya terus ya kita bakal jalan ditempat terus ya ga? Kendatipun nanti satu kemungkinan terburuk menimpa saya bahkan nyawa bisa jadi taruhannya, itu hanyalah potongan takdir yang telah tertulis bahkan jauh sebelum saya lahir. 
Sekarang ga da guna bicara serem-serem, lah wong belajar nya aja belom?? hahaha…
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s