Mereka Menang Pengalaman

Wallahi. Aku mengamati. Aku berpikir.

Dalam lingkungan seperti apa seorang anak tumbuh dan dibesarkan, seperti itu pula pola pikir dan cara hidup mereka tercetak. Aku setengah mati mengagumi teman-temanku yang dibesarkan oleh orang tua dari kalangan akademisi berpendidikan tinggi yang memandang pendidikan sebagai sebuah kebutuhan dan bukan sekedar tuntutan agar tidak tergilas zaman. Punya orang tua seorang doktor, profesor, pastinya mereka dibesarkan dalam atmosfer diskusi dan semangat meneliti. Mereka menang dalam pengalaman. Saat perjalananku masih disekitar bermain air di kubangan sisa hujan di depan rumah, mereka telah jauh di negeri orang, melihat dunia, berbicara bahasa asing, mereka belajar banyak.

Berdiskusi dengan anak-anak itu, teman-temanku, aku merasa mereka telah berpikir satu tahap lebih maju, setidaknya daripada aku. Beruntungnya mereka

Bukan lantas mengecilkan orang tuaku. Orang tuaku adalah orang tua terbaik yang tercipta dan dianugerahkan Tuhan kepadaku, dan aku tidak akan menukar mereka demi apapun. Mereka mengasuhku dengan sangat baik, mendidikku tanpa kekurangan suatu apapun. Mereka menanamkan banyak sekali nilai, membekali kepadaku macam-macam pengetahuan yang jarang orang lain tahu. Aku bersyukur kepada Tuhan karena aku dapatkan mereka.

Perbaikan kulitas kehidupan itu dimulai dari diri kita sendiri kan? maka here I am. aku bersekolah, mengenyam pendidikan tinggi agar nanti anak cucuku memiliki kesempatan untuk dibesarkan oleh seorang ibu yang cerdas dan berpemikiran terbuka. hingga iriku yang tadi tidak terulang lagi pada anak-cucuku..

Tapi hidup tidak cuma batas situ toh. ilmu pengetahuan harus dibekali taqwa. karena ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu, lumpuh. Hidup ini singkat kawan. Sudah betulkah cara kita memaknainya?

Advertisements

unpublished

Kondisi kacau. Berdarah. Bahkan melihatnya saja kamu akan merasa pedih, perih menjadi-jadi. Mukanya lebam berantakan bagai adonan clay mainan anak TK yang kempot sana melendung sini, tungkai kakinya patah terpelintir,  anus pecah, dan tubuhnya berdarah-darah. Dia sudah tidak memiliki daya lagi, kerjanya hanya terkulai semenjak lima jam yang lalu. Aku sampai menilai kalau laki laki keriting kurus itu bahkan tidak perlu apa-apa lagi untuk mati.

ditemukan dalam folder draft 15 September 2011

unpublished. Kehilangan

Kehilangan

OMG! Saya kehilangan beberapa files penting! Hei hei hei aku panik!!! Dan degan suksesnya si  toshi saya diubek-ubek isinya. Seluruh direktori saya jelajahi, tetap NIHIL! Files itu beneran ilang!!! Tapi belakangan saya baru ingat bahwa files itu tidak betul betul hilang kok , hanya ter-hidden. Sebenernya sih, dengan sengaja saya hidden! due to privacy. Gimana bisa lupa, sih?  Disini anda bisa lihat betapa terkadang saya menjadi manusia paling bego sedunia. Memalukan.

Sukses menemukan apa yang saya cari tidak menghentikan kegiatan eksplorasi yang saya lakukan, jemari saya masih saja menari di atas touchpad menggali dan terus menggali lebih jauh ke dalam drive-drive toshi.  Ergh, kurang familiar rasanya, mulai dari OS, tata letak, tombol, shortcut, dan apapun.  jujur saya lebih suka mengunakan acer saya yang lama ketimbang si  toshi. Tapi apapun yang bernyawa pasti mati, kan? Begitu juga nasibnya acer: cover pecah, engsel patah, dan lainnya, dan sebagainya.

Penjelajahan saya terhenti disini, E: \picture\unsri poenya\ppk. Direktori (luar) biasa yang isinya file jpg semua.

 Ada rasa haru saat memandang foto-foto itu… Rupanya dua tahun yang lalu saya pernah tenggelam dalam euforia menjadi ‘maba’, yang dengan antusias sekali pengin tau ini-itu, apa ini-apa itu, semua tentang kampus, semua tentang dosen, semua tentang kuliah.

Tapi, Kemana perginya keceriaan yang terekam dalam foto-foto itu? Kemana larinya binar mata khas ‘maba’ kala itu? Dan kenapa semangat yang dulu pernah terpatri dalam jiwa dan langkah kaki kini enyah, tiada lagi.

Bungkam. Saya tertegun. Sepertinya ada sesuatu lebih penting,  yang hilang.

ditemukan dalam folder draft 9 Agustus 2010

unpublished

Ramadhan baru berjalan 3 hari, hari pertama saya tarawih di masjid nih. Ayah mengajak untuk tarawih di masjid luar komplek, sedikit jauh dari rumah memang, tapi ada suasana beda yang kami dapatkan disana.  Saya menghitung, ada 3 shaf penuh. Yaah kendati masjid masih jauh untuk dibilang penuh tapi ini sudah cukup ramai sebetulnya kalau mengingat lokasi masjid ini bukanlah lokasi pemukiman penduduk. Saya memilih shaf paling depan, dibawah kipas angin. Tenggelam dalam khusyu shalat sambil ditiup angin sepoi sepoi, waaaah nikmatnya..

Sembari bengong nunggu beduk dipukul, pandangan saya tertuju pada sajadah yang membentang, ada gambar Ka’bah disana. Saya suka ngayal dan berandai andai bagaimana yaa rasanya shalat menghadap Ka’bah secara langsung? bukan yang terpisah jauh secara geografis seperti ini. Maka beruntunglah mereka yang di usia muda udah dikasih kesempatan umrah.. atao naek haji…! waaaaah~ *ngiler Khayalan indah tiba tiba buyar, ada dua gadis kecil disamping kiri yang ribuut.. becandaannya berisik deh. Karena bengong , aku ajakin deh mereka kenalan. O.. satunya namanya Nisa, yang satunya lagi Dewi. Percakapan kami hanya sebatas tanya nama doang. Anak-anak nya pemalu banget sih dan suka mesam mesem sendiri kalo diajakin ngobrol, fiuuuh.  Dua-duanya punya tan skin, perawakan kecil agak kurus, dan tampang yang asli Indonesia banget. Tapi ada yang janggal, kenapa si Dewi shalat ga pake mukena yaa? Kemana kah mukenanya? Pengen nanya, tapi harus disimpen dulu coz Isya udah mau mulai tuh. Besoknya, di tempat yang sama. Nisa dan Dewi shalat disamping saya lagi. Anak-anaknya manis loh, suka senyum senyum sendiri ngeliatin kita. Entah terpesona liat mbaknya yang cantik ato cengir cengir ngejek yaa..? haha khusnudzan sepertinya lebih baik. Nah kali ini Dewi shalat pake mukena, tapi kenapa ga pake kain? Lah ni anak kok suka nya setengah setengah gitu yaaa…? Pengen nanya, tapi sekali lagi ga jadi. Iqomah udah berkumandang. Isya dulu deh. Dari percakapan si Dewi sama Nisa yang berhasil saya curi dengar… *aaarhg tidakkk!! aku seorang penguping…. * sepertinya ada masalah sama mukena nya Dewi. Dia ga punya mukena. Saya juga baru sadar kalo mukena yang dipake selama ini adalah mukena ukuran dewasa. Pantesan Dewi ga pake kainnya. Haddoh.. sumpah saya sedih! Sedih sekali. Ni orang tua ni anak kemana yaaa..? jaman sekarang ada anak rajin ke masjid udah syukur banget loh, dan seharusnya minat mereka ini dipupuk, di fasilitasi, kalo anaknya salehah kan orang tuanya juga yang seneng kan! Tul ga?

*** Sekarang udah Ramadhan ke 21, dengan perut kekenyangan dan mata sedikit mengantuk, saya menguatkan hati untuk melangkah ke masjid. Kalau saja tidak ada Ayah yang ngompor-ngomporin, mungkin saya udah lelap tidur dalam buai empuknya kasur.  Beginilah manusia, susah sekali untuk istiqomah. Shaf tampak lenggang,  jamaah tarawih makin berkurang saja. Masih seperti malam malam  sebelumnya, bagai ritual saya melemparkan pandang pada seluruh antero masjid, mencari sosok dua gadis kecil, Nisa dan Dewi. Dalam hati ada rasa sedikit kecewa kalau kalau kantong kresek hitam yang kupegang harus dibawa pulang lagi. Nisa, Dewi, kemana kalian? (bersambung…)

ditemukan dalam folder draft 31 Agustus 2010

Bandung

“Bandung bagiku bukan perkara georgrafis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan”

dan. ah. lihat bulir ini terlalu nista terjatuh tanpa permisi.  hembus angin merah jambu, beraroma pilu, yang merasuk tulang meracun rasa. Maka Bandung, rasanya inginku memohon beri aku waktu lebih untuk mencicipi malam-malammu.

Terhitung Juni

Terhitung Juni, my best frienemy alias siti sampreni alias lovely Princess Reni udah gak bayar kamarnya lagi.

Terhitung Juni aku akan sendiri dalam sepi, tak berkawan dalam pikir-khayal yang terlalu liar terbang kemana-mana.

Terhitung Juni, Selamat ulang tahun Papa, best father ever! I love you

Terhitung Juni, sisa waktu untukku belajar-sambil-dibayar adalah dua bulan lagi.

Terhitung Juni, i have to do my best untuk tesis tercinta ini.

Terhitung Juni, aku harus lebih kuat lagi.

Terhitung Juni, here I am: Hei you mister Problem! I have Him that greater than you. Innallaha ma ana.