Tiga Untuk Abang, Satu Untuk Adik

Long time ago, aku tidak ingat persis, tapi kira-kira umurku saat itu tujuh atau delapan tahun. Kamarku adalah sebuah kamar besar yang disekat menjadi dua oleh orang tuaku. satu ruang untuk Abangku, dan satunya lagi untuk aku. Aku kebagian sisi yang tidak berjendela, sedikit pengap, tidur tanpa kipas angin, tapi tak mengapa, karena dari kecil aku bukan anak yang suka komplain. Sekat kamar terbuat dari triplek yang dipasang tidak sampai ke plafon, tapi menyisakan ruang kira kira selebar dua puluh sentimeter. tidak ada alasan khusus kenapa dibuat seperti itu. bukan untuk jalan cahaya, bukan pula lubang udara, tapi memang tinggi triplek standar ya segitu. dan tidak ada triplek tersisa untuk membuat sekat yang utuh sempurna.

Suatu pagi, subuh, entah jam lima atau setengah enam aku tidak ingat persis. dari kamar sebelah aku dengar ibuku membangunkan Abang,

“Bangunlah nak.. subuh.”, begitu kata Ibu.

Suaranya halus sekali penuh kasih sayang. dugaku dari kamar sebelah, Ibuku melakukannya sambil memeluk Abang, mengusap kepalanya, mencium pipi dan keningnya atau menggosok punggungnya. Tapi Abang sepertinya tak bergeming, tetap pulas lanjut tidur. 

lalu aku dengar lagi suara ibuku, “Bangunlah nak… subuh. Ibu ini sayang sekali sama Abang. kalo sayang ibu ke adik-adik itu satu, sayang Ibu ke Abang tuh tiga..” 

aku masih dengan posisi tidur, mataku masih terpejam tapi dengan kondisi yang sudah sepenuhnya terjaga. percakapan ibu ke Abang terekam semua olehku. Dari kamar sebelah aku menantikan ibuku yang juga akan datang membangunkan aku, melakukan apa yang dia lakukan ke Abang, kepadaku. aku menunggu. tapi ternyata yang ditunggu tidak datang. dan air dari sudut mata mulai bergulir. basah. lalu aku hapus sendiri. terngiang lagi olehku, “sayangnya tiga untuk abang, satu untuk adik” aku hapus lagi air mataku, lalu terngiang lagi “sayangnya tiga untuk abang, satu untuk adik”.

Advertisements

Sudah Cukup, Lelah Aku Sudah

Aku suka sunyi, aku suka sendiri. Dalam sunyi dan sendiri selalu dijanjikan sebuah ketenangan, tapi sunyi dan sendiri juga yang kemudian membawa pikirku mengelana, jauh, sampai tersesat dan kadang tidak pulang pulang. Terkadang, aku merasa aku ini sakit. Bukan dengan tanda kutip, tapi betulan sakit. kronis. akut. butuh penyembuh.

Dalam duduk diamku, dalam baring sunyiku, dan dalam sela setiap aktivitas yang aku lakukan setiap harinya. Aku selalu bertanya tanya mengenai apa yang sudah aku lakukan dalam hidup ini. Apakah aku sudah melakukan sesuatu yang seharusnya manusia lakukan di usiaku? apakah aku sudah melakukannya dengan benar? Tapi kemudian aku mempertanyakan  apa itu “yang seharusnya manusia lakukan”  dan apa itu “melakukannya dengan benar”. lebih penting lagi, “apa tujuanku?”. Lalu aku mulai tersesat.

Banyak sekali pertanyaan yang muncul di dalam kepala. beberapa menunggu terjawab. beberapa lagi bahkan aku tidak yakin akan ada jawabnya.  Sudah cukup. Lelah aku sudah. Bagaimana ya caranya berhenti?

Segala sesuatu itu katanya tercipta bagai dua sisi mata uang, ada yang baik di dalam yang buruk, dan akan selalu ada yang buruk di dalam yang baik. Sekarang aku merasa bias. Aku gamang mana yang benar mana yang salah. Mana yang baik mana yang buruk, apakah ini suatu kebaikan dalam keburukan, ataukah sebaliknya?