If You Fail to Plan, You Plan to Fail

I dont know why, but this hectic ambience seems permit me If i neglect my (others, but necessary) line of duties. is it right? I don’t think the situations like this are supposed to be happened. There’re too much to do in the same time, too much responsibilities to handle meanwhile each of us has only one body with one brain and two SMALL hands. I think doing this kind of shit is stressful enough to make people crazy. This kind of environtment is not healthy at all. Every body is like going to be mad as soon as possible. There’s no more smile, no archness, and everybody are drowning deep down under too strong tense. Really, people, What’s happend to us?

Several days ago I enlightened my student about Motivation Theory by McClelland, and The Maslow’s Hierachy of Needs. I reflect my situations into that two theories in order to try to discover in what state I and people around me are currently living. What I found out was actually the business we’ve doing recently is none of our concern, and those aren’t what we personally want to achieve. and that explains Why we likely have no motivation at all. every of us was worry about someday this kind of activities would distract our main goals.. we neither have enough times to think about our self nor to take some improving steps. while in this life, each of us got our own milestone running on our own time line.

Advertisements

Mata Juga Bisa Lapar

Kalo suami saya bisa  menghabiskan waktu setengah hari sendiri untuk muterin Ace Hardware, maka saya sangat senang hati keliling beberapa jam di swalayan macam carefour atau hypermart. sampe kaki pegal, atau sampai tersadar kalau hidup masih harus terus berlanjut. haha. Ngapainlah kira-kira? biasanya sih berawal dari butuh beli sebuah barang spesifik dan berakhir dengan berjam-jam ga ngapa-ngapain, cuma muter di gang-gang toko dan liatin semua barang yang ada disana. Kegemaran ini entah terjadi sejak kapan, tapi saya sendiri khususnya merasakan kegiatan muterin swalayan itu seperti stress reliever.  semacam rekreasi.

sounds weird? atau anda juga seperti saya? hehe.

Saya suka belanja, tapi belanja bukan hobi saya. Beberapa tahun terakhir saya mencoba menghilangkan impulsive-buyer yang pernah bersemayam dalam diri saya. sekitar 4 tahun lalu, Masa-masa berbeasiswa adalah masa keemasan dompet saya. ketika saya pengen apa, maka saya terus beli tanpa mikir. terus nyesal? gak nyesal juga sih. at that time saya dapet duit dengan mudahnya dan menghabiskannya juga dengan mudah. Dulu saya bisa dibilang gak kenal apa itu tanggal tua. Setiap awal bulan orang tua saya ngasih uang bulanan. uang bulanan belum habis eh rekening saya sudah terisi sama suntikan dana dari ristekdikti. Dana dari ristekdikti belum habis, tau-tau udah awal bulan lagi dan duit dari orang tua udah dikirimin lagi. Happy bener ya? karena ngerasa punya tadi maka terpupuklah ke-impulsive-an dalam diri.

tapi itu dulu… sekarang gak begitu.

dulu itu saya masih bisa nabung sih… jadi enggak boros parah juga sebenernya. Tapi semenjak saya nyari duit sendiri, semenjak ga ada lagi suntikan dana bulanan dari orang tua, dan gak ada lagi beasiswa yang ngebom rekening saya tiap tengah bulan, maka penyakit impulsive-buyer itu sembuh sendiri. bhahaha.. lah wong duitnya kagak ada terus mau belanja apaan. ya gak sampe jatuh miskin juga, wkwk. tapi finance does make me a little bit worry.   dapet  nafkah dari suami, tapi tauk deh saya ngerasanya duit nafkah itu harus saya pakai dengan penuh tanggung jawab. bukan untuk beli something yang cuma karena “ih lucu..” atau “eh warnanya bagus ya..” atau “hmmm baunya enak..”.

nah kemarin persis, saya blogwalking dan surfing di youtube. liatlah review kosmetik-kosmetik yang alamak lucu bingits. terus saya jadi laper mata. wkwkwk… terus saya liat laci meja rias saya yang kanan kiri itu diplot khusus untuk barang saya. kok isinya udah banyak ya? dan saya pun inisiatif ngedata all from head to toe body care/cosmetics yang saya punya ke dalam tabel di spreadsheet. dan hasilnya saya sudah punya semua yang saya perlu. dan tidak perlu ditambah dengan those yang saya ‘cuma pengen’.

karena perlu beda sama pengen.. dan mata juga bisa lapar.

 

I Miss You My Little Angel

photo_2018-04-12_21-35-17.jpg

Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would it be the same
If I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
‘Cause I know I don’t belong here in heaven
Would you hold my hand
If I saw you in heaven?
Would you help me stand
If I saw you in heaven?
I’ll find my way through night and day
‘Cause I know I just can’t stay here in heaven
Time can bring you down, time can bend your knees
Time can break your heart, have you begging please, begging please
Beyond the door there’s peace I’m sure
And I know there’ll be no more tears in heaven
Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would it be the same
If I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
‘Cause I know I don’t belong here in heaven

 

* just remember my little bundle of joy, Zhaf….  Ibu kangen..

ruining someone’s happiness

Past couple days, I went to Jakarta due to some work stuff. I had to attend a ceremony held by KemenpanRB on behalf of Kemenristekdikti delegation. We met with Mr. President, The Minister of Finance, Minister of Social, and many more other important person. They give us lessons and we learnt a lot.  I made a post in my instagram about how happy and grateful I am to be  there. I even said that I burst into tears while singing Indonesia Raya. what a pleasant moment.

then someone PM me on IG, he said “Don’t be fooled by the goverment. What the hell you doing there? why don’t they invite us last year? so this is bullshit..  2019 election is coming soon, they want you to choose them. and you should not elect for them!”

I myself like WTF?!

I mean, really, if you want to comment about something you don’t like, then please think at least twice. whom you talk to.  in what capacity you are commenting.  is it proper to you to talk like that. and the most important thing is who do you think you are to judge. I don’t care  if the ceremony is fulfilled with insidious agenda. I don’t give a f*ck about the political substances.  and you don’t have to tell somebody whom to choose whom to ignore.

oh he ruined my day. My happiness about Indonesia Raya had suddenly fell right beside my feet.

 

Orang Berpikir Sejauh Pikirannya

Saya pernah baca sebuah quote yang saya lupa punya siapa, tapi isi nya kira-kira begini:  “Orang berpikir sejauh pikirannya..”

Pernah dengar istilah naif? KKBI bilang kalau naif itu berarti tidak banyak tingkah, lugu, atau polos. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah naif dipakai untuk kondisi kisahkanlah seperti ini: Seorang perempuan muda sebut saja namanya Cantik.  Cantik lahir dan tumbuh besar di desa, suatu hari Cantik ke kota besar dan qodarullah Cantik kecopetan di sana. Cantik sedih karena dia tidak membayangkan bahwa salah satu dari orang-orang yang tampak baik yang ditemuinya seharian ini adalah pencopet yang tega. ketidakwaspadaan Cantik ini terjadi karena Cantik naif. Cantik menganggap semua orang yang ditemuinya baik, tulus, seperti dirinya.

Cantik tidak terpikir bahwa seseorang bisa tega mencopet, cantik tidak terpikir bahwa salah satu dari orang tersebut bisa jadi adalah pencopet, karena pikiran Cantik tidak sampai kepada kejadian/peristiwa/aktivitas mencopet.. dia merasa asing dengan hal copet-mencopet.  Kata copet / aktivitas mencopet berada jauh diluar jangkauan pikirannya.

Okay, lupakan si Cantik sejenak. Dulu saya pernah ikutan quiz psikologi online, bukan quiz yang serius sih, tapi konteks quiznya sedikit menyeramkan. hehe. melalui quiz itu kita bisa tau apakah kita seorang psikopat atau bukan. Dalam quiz tersebut sebuah narasi yang cukup panjang disajikan menjadi plot cerita yang melibatkan beberapa tokoh. di akhir quiz kita disuruh menebak siapakah dari tokoh-tokoh tersebut yang seorang psikopat. Yang lucu adalah, yang jawabannya benar disimpulkan bahwa punya bakat psikopat! kenapa? karena dia yang tebakannya benar dianggap mampu membaca jalan pikiran seorang psikopat, maka dia sendiri adalah seorang psikopat.

Seorang innocent tidak akan berpikir untuk menjadi pembunuh. tapi seorang pembunuh menjadi pembunuh karena ia berpikir untuk membunuh. Seseorang yang terus berburuk sangka, berpikir ke arah yang buruk, itu karena pikirannya sendiri buruk.

What I wanna say is, Orang yang mudah menyimpul-nyimpulkan alias menuduh seorang lain picik (padahal kesimpulan / tuduhannya itu tanpa bukti dan berasal dari menghubung-hubungkan asumsi-asumsi yang dibuatnya sendiri) adalah karena dia sendiri berakal picik.

Jadi umpama diri ini selalu dengan mudah melihat kesalahan orang lain, dan menyimpulkan hal-hal negatif yang tidak terpikirkan oleh orang lain, pahami bahwa pemahaman negatif itu berasal dari pikiran yang negatif. hati-hati, karena pikiran yang terlalu sering negatif (buruk) bisa jadi muncul dari mental yang buruk.

****Just my two cents. karena kadang… kita bicara apa, orang nangkepnya apa. kita speak up tentang apa, orang nyimpulkannya tentang apa. Bahkan kita bisa kaget dengan apa yang dia simpulkan/tuduhkan karena kita tidak pernah terpikir untuk berlaku seperti yang dia tuduh. Eh, malah jadi muncul pertanyaan nih, kalo gini kejadiannya, orang itu yang penuh negatifity atau saya yang terlalu naif ya? 😛

Apapun itu, saya tidak perlu menjelaskan apa-apa tentang diri saya. Mereka yang menyukai saya tidak memerlukan penjelasan. Sedangkan mereka yang tidak menyukai saya tidak akan percaya penjelasan apapun. Disclaimer: I  neither mention someone nor being sarcastic to somebody.  just reminder to my self.  😛