Orang Berpikir Sejauh Pikirannya

Saya pernah baca sebuah quote yang saya lupa punya siapa, tapi isi nya kira-kira begini:  “Orang berpikir sejauh pikirannya..”

Pernah dengar istilah naif? KKBI bilang kalau naif itu berarti tidak banyak tingkah, lugu, atau polos. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah naif dipakai untuk kondisi kisahkanlah seperti ini: Seorang perempuan muda sebut saja namanya Cantik.  Cantik lahir dan tumbuh besar di desa, suatu hari Cantik ke kota besar dan qodarullah Cantik kecopetan di sana. Cantik sedih karena dia tidak membayangkan bahwa salah satu dari orang-orang yang tampak baik yang ditemuinya seharian ini adalah pencopet yang tega. ketidakwaspadaan Cantik ini terjadi karena Cantik naif. Cantik menganggap semua orang yang ditemuinya baik, tulus, seperti dirinya.

Cantik tidak terpikir bahwa seseorang bisa tega mencopet, cantik tidak terpikir bahwa salah satu dari orang tersebut bisa jadi adalah pencopet, karena pikiran Cantik tidak sampai kepada kejadian/peristiwa/aktivitas mencopet.. dia merasa asing dengan hal copet-mencopet.  Kata copet / aktivitas mencopet berada jauh diluar jangkauan pikirannya.

Okay, lupakan si Cantik sejenak. Dulu saya pernah ikutan quiz psikologi online, bukan quiz yang serius sih, tapi konteks quiznya sedikit menyeramkan. hehe. melalui quiz itu kita bisa tau apakah kita seorang psikopat atau bukan. Dalam quiz tersebut sebuah narasi yang cukup panjang disajikan menjadi plot cerita yang melibatkan beberapa tokoh. di akhir quiz kita disuruh menebak siapakah dari tokoh-tokoh tersebut yang seorang psikopat. Yang lucu adalah, yang jawabannya benar disimpulkan bahwa punya bakat psikopat! kenapa? karena dia yang tebakannya benar dianggap mampu membaca jalan pikiran seorang psikopat, maka dia sendiri adalah seorang psikopat.

Seorang innocent tidak akan berpikir untuk menjadi pembunuh. tapi seorang pembunuh menjadi pembunuh karena ia berpikir untuk membunuh. Seseorang yang terus berburuk sangka, berpikir ke arah yang buruk, itu karena pikirannya sendiri buruk.

What I wanna say is, Orang yang mudah menyimpul-nyimpulkan alias menuduh seorang lain picik (padahal kesimpulan / tuduhannya itu tanpa bukti dan berasal dari menghubung-hubungkan asumsi-asumsi yang dibuatnya sendiri) adalah karena dia sendiri berakal picik.

Jadi umpama diri ini selalu dengan mudah melihat kesalahan orang lain, dan menyimpulkan hal-hal negatif yang tidak terpikirkan oleh orang lain, pahami bahwa pemahaman negatif itu berasal dari pikiran yang negatif. hati-hati, karena pikiran yang terlalu sering negatif (buruk) bisa jadi muncul dari mental yang buruk.

****Just my two cents. karena kadang… kita bicara apa, orang nangkepnya apa. kita speak up tentang apa, orang nyimpulkannya tentang apa. Bahkan kita bisa kaget dengan apa yang dia simpulkan/tuduhkan karena kita tidak pernah terpikir untuk berlaku seperti yang dia tuduh. Eh, malah jadi muncul pertanyaan nih, kalo gini kejadiannya, orang itu yang penuh negatifity atau saya yang terlalu naif ya? 😛

Apapun itu, saya tidak perlu menjelaskan apa-apa tentang diri saya. Mereka yang menyukai saya tidak memerlukan penjelasan. Sedangkan mereka yang tidak menyukai saya tidak akan percaya penjelasan apapun. Disclaimer: I  neither mention someone nor being sarcastic to somebody.  just reminder to my self.  😛

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s