Bakat Terpendam

Saya memiliki keahlian yang saya mahir sekali sejak lama, tapi saya baru saja sadar kalo ini bisa saja sebuah bakat yang terpendam: menangis dalam diam.

Saya mahir sekali meredam suara sedu sedan sesegukan hingga hampir tidak ad suara sama sekali seharu biru atau sehancur apa hati saya saat saya menangis. Keren bukan?

Ala bisa karena biasa. Setelah recall memori jaman dulu, ada beberapa momen dimana saya berlatih bakat saya ini. Memori. Tentang luka lama yang saya bahkan tidak mau mengingatnya lagi.

Ada sebait doa yg kala itu saya ucap. Mungkin sekarang harus saya ucap lagi.

“ya Rabb.. atas segala apa yang telah engkau tetapkan terjadi kepadaku, buatlah aku menjadi senang, buatlah hatiku menjadi ridho..”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s