By The End of December

Time would never failed to surprise me. Today is 14th of December, just 2 weeks remaining to 2018. melesat begitu cepat. dan syahdan tak disangkal pepatah yang mengatakan bahwa waktu bagai pedang, siapa tak pandai memanfaatkannya akan tertebas. SO let us evaluate the thing I’ve been through during this lovely 2017.

Jadi marilah kita mengevaluasi apa yang sudah saya lakukan setahun ini, mungkin acuannya pakai resolusi tahun kemarin aja ya, dari dua belas poin yang saya catat beberapa bisa saya wujudkan: menamatkan beberapa buku bahasa asing dan banyak buku bahasa indonesia; punya pembukuan keuangan yang lebih rapi; belajar berinvestasi; pergi mengunjungi suatu tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya; alhamdulillah. tapi belajar jahit, eksperimen macam-macam menu masakan dan belajar bahasa asing nampaknya harus masuk lagi di resolusi 2018. yang jelas 2017 ini langkah cukup ringan, waktu berputar cepat, banyak manis asam pahit kehidupan, banyak pelajaran, banyak sekali tawa tangis, namun alhamdulillah ala kulli hal.

Tahun ini Allah kasih saya rezeki luar biasa, alhamdulillah saya termasuk salah satu dari dua yang lulus penerimaan PNS Dosen Asisten Ahli, jurusan Teknik Informatika Unsri jalur umum (perjalan tentang ini nanti akan saya posting). Senang, tapi juga sedih, sebetulnya bukan sedih, tapi lebih kepada khawatir. Mengisi formasi di Teknik Informatika artinya besar kemungkinan saya akan meninggalkan basis saya selama ini, Sistem Informasi. Entah bagaimana semuanya kebijakan pimpinan dan tugas saya selaku bawahan adalah taat. Nothing change, actually, except saya pindah ruang dari lantai dua ke lantai satu, saya tetap berinteraksi dengan orang-orang yang itu-itu juga, ilmu yang ditransfer ilmu itu-itu juga. Tapi akan banyak sekali PR saya. seperti 2016 kemarin, saya perlu adaptasi dengan sistem, dengan orang-orang, dengan tempat, and many more. But I’m excited! apapun yang terjadi maka terjadilah, ini tangan Allah yang memindahkan saya. dan garis tangan saya untuk menjalani ini. Alhamdulillah, semoga resmi menjadi abdi negara berarti saya mampu berkontribusi lebih banyak, mampu bekerja dengan loyal dan total, dengan cerdas dan tangkas.

By the end of this December, saya masih nunggu satu kabar baik lagi dari Allah. entah bagaimana hasilnya semoga Allah meridhoi. tugas manusia adalah berikhtiar dan berdoa, selanjutnya maka hak Allah Sang Maha Berkehendak.

Advertisements

Rest in Peace

He’s dead. And actually he don’t mean nothing to me except that he was one of my seniors in SHS era. Though, this phenomenon -if I could call what recently happened as a phenomenon since it kinda hardly happend in my circle of people- make me think further about my life itself.

Depression. I knew this kind of shit.

So it may comes to your head, “Suicide?! Don’t be a coward. Stupid. Moron. Pathetic. Easy exit. Selfish. What the hell this people think they do? Why do people with depression make thing get worse. The act like they are idiot.”  Yeah… THEY JUST CAN’T THINK. as simple as that.

May Allah gives you maghfiroh. Allahumma firlahu, warhamhu, wa afihi wa’fuanhu. 

Cover

Recently during my online tutorial activities (actually it is my hubby’s courses but I love to take it over ūüėõ ) I used to be listen to Hanin Dhyia cover song on Youtube. She sounds so good. Somehow she reminds me of Boyce Avenue. I wonder why do this people doing cover better than their own song? *in fact IDK whether boyce avenue and neither Hanin Dhiya had their own song or not… lol. well…. what make me so jealous is, they can play music dan sing along. If only I had to choose a talent that God would give to me, I might be asking for good voice and ability to sing well.

I do music things. but not that good. when I was in my first grade of JHS, my friends taught me how to play guitar.. they introduced me to those basic guitar chord. let we name it C, F, G. and instantly I could play a song which contain those three basic chords.. what a sweet memory! Someday my Daddy bought me, actually it’s my brother but he didn’t interest as much as I did, so the guitar was technically mine, and I was happy AF. Owning my own guitar did some improvements to my skill. ¬†I learnt about many chords, as well as how to pick those strings.. call it classical melody. ¬†and I fell in love. I was a big fan of guitar things. ¬†Guitar has become my best friend for years. Through SHS time, I fell even deeper.. I was being so attached to that thing. ¬†During my college in Bandung, I bought a violin and take a course in a very short time. I still can’t play the violin well, and that violin now just idle on the top of my wardrobe.¬†lol.. my hubby said it was a compulsive terrible act of me. but I don’t regret it at all.. it was such a nice learning experience, tho. Move on from violin, I did other compulsive buying. Ukulele! Considering ukulele is not common in my hometown, and the good qualilty of ukuleles are seems so hard to find in Palembang. I’ve decided to buy it from the first glance. And here it is now, hanging on my wall. ¬†Do I play it? of course yes I do!

by the way, Many things come up. I have to prepare my test (what kind of test? I’ll tell you later), I am going to go to out of town in order to help my hubby for the household thing, we recently looking forward to a better place. and OMG Mid term exam are coming too… yeah my head will explode…. while Hanin Dhiya, covering Akad by Payung Teduh oh it is so lovely, has inspired me to make some covers too. WHAT? MAKING ¬†SOME COVERS? IN THIS KIND OF HECTIC SITUATION? REALLY? Could it be? yeah IDK, let see.

Selamat Datang Mahasiswa 2017

Tadi ada acara Pengenalan Kehidupan Kampus di Fasilkom Unsri. Banyak juga maba ilkom unsri kalau dikumpulin ya. Seketika ingatan saya kembali pada Sembilan tahun lalu saat saya seusia mereka. Dan saya mencoba mengingat-ingat seperti apa rasanya menjadi seorang maba. Excited. Bangga. adalah dua hal itu yang saya ingat meletup menyesakkan dada kala itu.

“Padamu negeri kami berjanji, Padamu negeri kami berbakti, Padamu negeri kami mengabdi, bagimu negeri jiwa raga kami… “

Masih jelas dalam ingatan betapa saya menitikkan air mata saat acara sidang terbuka pelantikan mahasiswa baru sembilan tahun lalu.. lagu Padamu Negeri itu tidak bisa lantang saya nyanyikan lantaran lidah yang lebih dulu tercekat kaku oleh haru dalam dada. Saat rombongan rektor dan senat memasuki ruang acara, merinding saya dibuatnya. Baru kali itu saya liat iring iringan orang bertoga. Semacam tersihir oleh pesona keilmuan yang mereka tebarkan, dan sesaat saya melayang dalam atmoster keilmuan, mereka seperti hendak memberi salam selamat datang, sembari menawarkan untuk mencicipi sajian ilmu pengetahuan. Dalam diam lalu saya berjanji dalam hati. bahwa janji, bakti, pengabdian, dan jiwa ragaku adalah untuk negeri ini.

Apa adik-adik ini merasakan seperti yang saya rasa Sembilan tahun lalu? hanya Tuhan dan mereka sendiri saja yang tau.

Sebagian dari mereka ada yang melangkah dengan ringan, tapi beberapa mungkin hadir dikampus dengan mengorbankan harta milik keluarga. Namun apapun itu, satu yang saya pahami bahwa adalah tiap-tiap mereka pergi dengan rasa bangga orang tua mereka, dengan iringan doa, dengan bergunung harapan dan keinginan agar mereka menjadi orang terpelajar dan sukses. Amiin.. aaminn… semoga tercapai semua keinginan dan harapan yang mulia itu.

dosen

Dosen-dosen Prodi Sistem Informasi Unsri

 

himsi

Para Wajah-wajah baru

 

P.S. I own nothing.¬† all images above are HIMSI’s property.

Let It Go

saya mengerti, bahwa berlarut larut sedih atas sebuah musibah adalah hal yang salah. tangisku ini bukan karena saya marah pada Allah. bukan karena saya meratapi takdir yang sudah ditetapkan kepada kita. Tangis ku tangis karena cinta, tangis karena sayang, tangis karena ibu rindu anaknya. Bukankah baginda Rasulullah dulu juga menangis saat ananda beliau, Ibrahim, meninggal dunia? maka apalah artinya iman saya jika dibandingkan dengan Rasul yang mulia.

Sudah hampir sepuluh bulan lebih sejak abang pergi. tapi saya masih suka merasa abang disini. lalu ketika kesadaran kembali, saya tau saya salah, saya cuma mimpi.  sekarang saatnya saya bangkit, tapi entah semakin saya berusaha bangkit maka semakin saya terpuruk. semakin saya berusaha melupakan, maka justru setiap detik saya akan teringat.

Tidak anakku, ibu tidak bermaksud melupakanmu. tetapi pola pikir ibu yang seharusnya sekarang berubah, mengenang abang dengan suka cita. abang bersama ibu enam bulan lebih nak, ibu sayang sekali sama abang. Lalu Allah meminta abang.. mengambil abang dari Ibu. Jika apa yang abang mau akan ibu beri, maka seharusnya ibu dengan bangga jika mampu memberi apa yang Tuhan kita inginkan kan nak? Allah mau kamu. Allah meminta kamu. dan Ibu harus memberi. Penjagaan dan cinta Allah tentunya lebih baik dari penjagaan dan cinta ibu. beruntung ya nak.. kamu beruntung, seperti namamu, Zafran: yang selalu menang dan beruntung.

Lalu dua bulan terakhir ini saya berdoa, meminta kekuatan kepada Allah, dan meminta diajarkan hikmah dari semua yang sudah terjadi meminta agar diberikan ilmu serta pemahaman yang baik. Dan Allah menjawab doa saya. saya diberi ilham untuk belajar. dari seratus lebih surat dalam kitab suci, Allah gerakkan hati saya untuk mempelajari satu surat khusus: Al Mulk.

Tabarokalladzi biyadihi mulku wahuwa ala kulli syai’in qodir….  Al ladzi kholaqol mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu amalah. Wahuwal azizul ghofur….. Mahasuci Allah yang menguasai seluruh kerajaan, Ia maha kuasa akan segala sesuatu. yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.

dua ayat pertama dan maha besar Allah yang maha memiliki ilmu.. saya ditampar keras. saya diajarkan ilmu. dan diberikan hikmah. bahwa Allah maha kuasa atas selanya dan bahwa Allah menciptakan mati dan hidup untuk melihat siapakah  di antara manusia yang paling baik amalannya. Allahu Akbar. Berderai air mata. 

Saya percaya nanti akan ada masa dimana Allah mempertemukan kita lagi. saya, suami saya, dan abang akan berkumpul bersama. berpeluk erat. melepas rindu. ada masa dimana ibu akan bisa peluk abang menatap mata abang dan kita berpelukan lagi. Indah sekali.

Maka setelah malam ini ibu janji tidak akan ada lagi air mata sedih karena rindu saat ibu mengenangmu. ibu akan mengingat-ingat abang hanya  dengan rasa bangga, dengan suka cita, dengan penuh bangga, bahwa ibu punya seorang anak penghuni surga.

 biar ibu puas-puaskan menangis, malam ini saja.

Move On

lawangwangi

Desperate karena mikirin jarum timbangan yang makin ke kanan. how¬†I miss my old body¬†at that¬†time¬†when I was younger.¬†¬†Photograph above was taken in Bandung on late 2013 or early 2014, I’m not really sure. my body mass was around 47-48 kilos…¬†¬†and¬† drastically increased during my pregnancy last year. I don’t blame being pregnant for what happened to me. I’m grateful for had Zhafran in my womb, and If given choice between underwent what I’ve been through or not, I would love to choose¬†to hold my Zhaf¬†over again. No Regret. At All. He’s blessing.

And it’s been nine months since my loss. I need to move on as soon as possible. My planning is to make up my mind, make over my appearance, since this thick body make me sick. it is unhealthy… and my¬†obsgyn said it is better for me to¬†lose some weights, in order to try-to-conception agenda.¬† I’d like to go swimming again like I used to be. maybe I shoud start it next month….. ? wish me luck.

Zhafran

And I know… somehow He listens my prayer. Today my relative – my Dad’s cousin, bring her newborn son to my arm. Guess what, its name is also Zhafran.

Tears burst. My eyes become wet. I always miss my tiny little Zhaf… and now I hold (another) Zhafran in my arms. Her Zhafran. Not mine.¬†I want mine. can’t I?

But still.. this is a gift. He answers my prayer to hold Zhafran one more time… Thank God..

IMG_20170626_180131_601

Hari Raya

Siang ini liat timeline di path.. Seorang teman SMA saya yang kebetulan adalah dokter update status yg katanya sekarang dia sudah dokter spesialis : Anisa, SpPB. Kependekan dari spesialis potong buncis.  Terus yg lain menimpali. Saya juga SpSK : spesialis susun kue. Baca guyonan teman saya itu bikin saya jadi senyum sendiri.. 

Lebaran H-1 selalu jadi hari penuh kerepotan tapi menyenangkan juga sebetulnya.. seperti dua temen saya yang dokter tadi saya juga ada tugas tugas rutin tahunan yang selalu saya kerjakan. Sebutlah memotong-motong buncis.. kalo susun kue sih jadi tugasnya adek laki laki saya. Yg jadi tugas saya juga adalah bebersih, nyapu2, atau ganti2 taplak dan sarung bantal kursi tamu. And thank God pekerjaan mengaduk santan sudah saya tinggalkan beberapa tahun yang lalu karena Mama sudah beralih ke santan kental kemasan yg cenderung tidak mudah ‘pecah’..

Tahun ini adalah hari raya Eid Al Fitr saya yang ke dua bersama suami dan sekaligus yang pertama kita berdua balik ke Palembang (setelah menikah). Pak suami sampe sore ini pun masih di Jakarta. Nanti abs buka puasa baru dijemput di bandara. And I can’t wait to bring him meet my big family. Pak suami keluarganya tidak sebesar keluarga saya dan kebiasaannya juga berbeda. Kami berdua sepakat tahun ini akan ikut silaturahmi keluarga besar saya, which is akan super melelahkan ngider sampe sore. Dan hati2 perut mencret karena makan terlalu banyak jenis makanan. But still, I can’t wait! 
Setelah sebulan puasa tiba juga ke penghujung Ramadhan ini. Sedih, haru, bahagia, campur aduk rasanya. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan memberikan kepada kita pahala yang banyak…. saya dan keluarga meminta maaf sebesarnya untuk semua salah, semua khilaf, semoga kita kembali fitrah… amiiin… Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.