Hatiku, Masalahku Sendiri..

Sepertinya saya harus menegaskan pada diri sendiri, saya seorang perempuan yang independen, dan hidup saya tidak boleh memiliki ketergantungan pada orang lain. Saya harus menegaskan pada diri saya sendiri, saya adalah perempuan tangguh yang masih bisa bertahan walau jalan saya penuh onak serta duri. Tadi air mata saya meleleh, saya tenggelam dalam kondisi yang begitu emosional, kekecewaan atas ekspektasi ketinggian yang saya buat sendiri. Kenapa? This is not u’r bussiness. 😛 dan aku ga berminat untuk membahas itu lebih jauh. just leave it, and forget it!  Bersyukur karena yang penting angin segar sudah mau bertiup lagi, menanggalkan emosi, menanggalkan ego.
Siang ini  mentari menampakkan diri dengan ganasnya, hal yang tidak biasa dijumpai di Februari. Aku baru saja pulang dari salah satu pusat perbelanjaan di kota ini. Di trotoar jalan, kulihat seorang wanita terisak dalam tangisnya, tubuhnya yang sedikit gempal bertumpu pada lutut. Disampingnya berdiri seorang pria tanggung berperawakan ceking dan sedikit berantakan, mungkin usianya baru 21. Sang pria merangkul tubuh wanita yang berguncang akibat tangis, seraya membujuk agar bangun dan hengkang dari trotoar itu. Si  pria sepertinya malu karena menjadi tontonan kami, para pejalan kaki yang tidak sengaja lewat dan beberapa abang ojek yang memang mangkal di pertigaan ini. 
Bukannya malah membubarkan kerumunan, masyarakat dengan mental ingin tau urusan orang  ini malah makin ramai berkumpul, melongokan kepala, memanjanjangkan leher serta mencuri dengar apa yang sebetulnya terjadi pada wanita yang menangis, dan pria kurus disampingnya itu.
(cerpen belom jadi… ASAP diselesain.. ahahhaha)
Advertisements

Catatan Christiane

“Ibu” Apa yang ada dalam pikiran kamu ketika mendengar kata Ibu? Seorang wanita penuh kasih kah? yang rela melakukan dan mengorbankan apapun demi buah hatinya? Ibu, tidak berarti begitu bagiku. Ibu yang selama ini aku panggil sejatinya bukanlah orang yang melahirkanku, Ibu adalah kakak dari Mama. Mama, seorang wanita yang tidak ku ingat bagaimana kasihnya, Mama yang tidak pernah ku belai cintanya.
“Jangan jadi seperti Mama kamu! Pembangkang bodoh!” Itu yang selalu ibu katakan saat ia marah, kadang aku bosan dan ingin berteriak saat berulang kali ia berkata begitu. Hatiku perih saat ia dengan penuh kebencian bilang Ibuku seorang pembangkang, yang tolol, tidak tahu diri. Sesak rasanya, Ibu bahkan seakan tidak pernah bisa memaafkan Mama, meskipun sejatinya Mama telah pergi 7 tahun yang lalu. Meninggalkan Kami semua.

Usiaku kini 14 tahun, duduk di kelas 2 SMP Kristen ternama di kota ini. Artinya telah 8 tahun aku tinggal bersama Ibu dan terlepas dari bayang Mama. Ibu dan Ayah adalah pasangan suami istri yang tidak memiliki anak, aku kadang berpikir, sebuah keberuntungan (atau malah kesialan?) bagi mereka untuk bisa mengasuh (atau memungut?) aku sebagai anaknya. Dalam hati aku berterimakasih untuk bisa tinggal ditengah mereka, setidaknya mereka tidak membiarkannku hidup menggelandang. Ayah, seorang kristen taat yang penuh kasih, sosok ayah benar benar aku dapatkan darinya entah karena aku yang memang tidak pernah merasakan kasih ayah sedari aku lahir, atau memang cinta kasihnya begitu tulus yang telah menganggap aku sebagai anaknya sendiri. Lain halnya dengan Ibu, Ibuku seperti sosok mengerikan
di dongeng dongeng, seperti ibu tiri dalam cerita cinderella, seperti ursula di kisah little mermaid, seperti curella devil di 101 Dalmatians. Sebenarnya agak berlebihan aku menyebutnya begitu, kadang kadang Ibu baik kok, hanya saja sangat jarang terjadi. Pandangan mata Ibu adalah pandangan mata kemarahan, pandangan mata marah. kemarahan yang tidak tersalurkan, Kemarahan pada Mama.
Rio adalah seorang TNI putra asli NTB, ia cerdas juga tampan, kegagahannya telah membius seorang wanita, menumbuhkan benih benih cinta dalam hati Eliza, Mamaku. Jatuh cinta dan menikahi seorang muslim adalah cikal bakal kenapa Ibu sangat membenci Mama, Mama dianggap membangkang dan tidak tahu di untung, mama di cap sebagai wanita yang matanya dibutakan oleh cinta. Tapi Mamaku sangat teguh pendiriannya, ia dengan yakin ikut memeluk Islam, menikah dengan Papaku, dan melahirkan aku. Aku terlahir dengan nama Agusstin Hakiem, seorang bayi yatim yang beragama Islam! Ya aku seorang yatim, Papa meninggal dunia saat usia kandungan Mama 6 bulan.
Sepeninggalan Papa, Mama memutuskan untuk pindah mencari kehidupan yang lebih baik di Jakarta. Di NTB toh Mama juga bakal hidup sendirian, Papa sebatang kara dan tidak punya keluarga lagi, jadi lebih baik ke Jakarta, nasib akan lebih gampang menyapa jika kita berada di pusat kota. Mungkin seperti itu pikir Mama kala itu. Dan pindahlah aku serta Mama ke Jakarta. Mama seorang mualaf yang teguh, aku didaftarkannya ke taman pendidikan alqur’an, Mama mau aku ikut belajar mengaji disana. Rupanya cahaya Islam menyapa Mama, ia menjadi muslim bukan karena kecintaannya pada Papa, melainkan pada Islam itu sendiri.
Taklama, saat aku berusia enam tahun, Mama sakit, kata Mama, ini sakit yang sama dengan yang diderita Papa dulu. Aku takut sekali. Tapi apa daya ku? aku hanya seorang anak kecil yang tidak bisa berbuat apa apa, aku hanya bisa berdoa kala itu, “Tuhan, sembuhkanlah Mama”. Kendati telah dibujuk (lebih tepatnya dipaksa) oleh saudara saudaranya untuk kembali ke jalan sebelum islam, Mama terus saja menolak. Hingga saat itu, wujud pembangkangan terbesar yang pernah Mama lakukan, yang menambah tumpukan kekecewaan dalam diri Ibu. Kekecewaan yang terakumulasi menjadi amarah: Mama menghembuskan nafas terakhirnya dengan keislaman yang tetap melekat.
Dunia seakan runtuh, apa yang kamu lakukan jika berada di posisiku saat itu? aku teramat sedih dan tak henti menangis meraung-raung di pinggir jasad kaku Mama. Tinggallah aku sang gadis kecil yatim piatu. Ibu dan suaminya, Ayah, berinisiatif mengasuhku, mengangkat aku menjadi anak mereka. tapi semua itu dengan satu syarat: mengkristenkan aku terlebih dahulu. Keputusan ini bukan pilihan. Aku bahkan tidak punya pilihan. Papa dan Mama tiada. Aku tetap harus hidup bukan? Aku pasrah saja ketika dibaptis, namaku kini Christiane. Ibu tersenyum penuh kemenangan, tapi sorot mata amarah itu masih tetap ada.
Hmm.. Tujuh tahun aku hidup dengan kristen ku. Kadang terbesit dalam hati untuk kembali belajar mengaji seperti dulu, sayangnya jangankan bertindak lebih jauh, berpikir kearah sana pun bisa membuat aku ditendang dari rumah ini. Tapi jauh di dalam hati, sungguh aku ingin seperti Papa dan Mama: Mati sebagai seorang muslim.
“Ristiiiiiiiiin…….”
Ah, Ibu jejeritan lagi. Ups! aku lupa, kami akan mengikuti misa di gereja pagi ini. Aku belum mandi! bodohnya…
“Iyaa Buu…… Tunggu sebentar!”

Masih Misteri

Aroma sedikit horor, suasana yang aneh, perasaan yang sulit sekali saya lukiskan petang tadi kembali menghujani saya. Sepulang kuliah karena no one can pick me home, saya melanjutkan perjalanan kerumah dengan menumpang kendaraan umum. Terlahir ditengah keluarga yang tidak memanjakan anak anak nya membuat ini bukan suatu yang spesial, sejak kecil saya terbiasa pulang pergi kemana-mana sendiri. Dari kampus, perjalan harus terhenti di salah satu perempatan jalan di kota ini untuk kemudian berganti meminjam jasa sebuah oplet warna putih beras yang akan membawa saya kurang lebih 6KM kearah barat laut kota Palembang, sebelum akhirnya sampai kerumah.
Seperti umumnya oplet yang ada di kota saya, tempat duduk terbagi menjadi empat bagian, tiga deret dibelakang sopir, dan ada dua kursi disamping sopir. Saya berinisiatif mengambil kursi di deretan tengah, 2 bangku dibelakang sopir. Saat saya naik, saya tidak menutup pintu oplet, toh sebentar juga akan ada penumpang lain yang naik ke oplet ini, begitu pikir saya. Tanpa Memperdulikan sekitar, tubuh sedikit letih ini saya senderkan ke kanan, mendekatkan diri dengan jendela. Tengah saya larut dalam udara senja, seorang perempuan berhijab yang duduk persis di depan saya menoleh begitu saja, menatap lalu tersenyum. Manis, dan terlihat Ramah. Tapi ada sesuatu yang aneh didalam senyumnya. Atmosfer kikuk seketika menyerbu saya! Wajahnya telah berulang kali saya jumpai, dan kondisi seperti ini bukan pertama kali saya hadapi.
Entah kapan, namun saya ingat pernah menjumpainya. Berfikir dan mengingat memori silam, akhirnya saya yakini saya memang benar benar pernah ketemu dengan wanita ini. Seperti kebanyakan pemukiman yang berada di pinggiran kota, daerah semak2 dan lahan kosong masih mudah dijumpai. Saat itu saya diatas motor, sedangkan wanita itu berdiri dipinggir jalanan dekat semak-semak. Sama seperti saat ini, dia tersenyum dan berhasil mengirim saya suatu perasaan aneh yang sulit di urai dengan kata. Kembali memori lain diputar. Lain waktu saya berjumpa dengannya ialah saat hujan, saat itu saya nekat menerobos hujan, sekali lagi saya diatas motor dan dia terlihat berteduh sendirian, menunggu sesuatu. Ia menoleh lalu tersenyum, dan saya seakan tersihir dalam situasi yang sama, deja vu!
Dari pertamakali ketemu, yang saya rasakan senyum itu bukanlah senyum yang asing, senyumnya bagai senyum sahabat dekat yang saya lupa, bahkan tidak tau siapa! Sepanjang perjalanan saya hanya berusaha memikirkan tentang ini, dan 6 KM memakan waktu tempuh yang lumayan jika untuk digunakan berpikir. Akhirnya saya simpulkan : Ya! saya memang tidak mengenal dia!
Yang jadi pertanyaannya ialah, siapa dia? kenapa tiba tiba nemoleh lalu tersenyum? kenapa saya merasa aneh dan seperti tersihir dengan senyumnya? kenapa saya selalu terjebak dalam situasi yang sama saat saya ketemu dia, even if in our first meeting? lantas kenapa saya merasa dekat dengannya, padahal kenal pun tidak?
* dan andai kamu bisa merasakan apa yang saya rasa, situasi seperti ini amat tidak menyenangkan : mencoba mengingat sesuatu yang jelas jelas sebetulnya tidak pernah ada dalam ingatan. Deja Vu!

Tukang Sayur

Siti Maryam binti Hasan, inilah Ummi yang setia menemani hidup Abahku hingga hembusan napas terakhirnya, Ummi dan Abah ku terpaut usia delapan tahun, cukup jauh. Cinta Ummi dan Abah dipertemukan dalam indah dunia pendidikan. Abah yang guru IPA dan Ummi sang guru Agama. Ummi lain dengan Abah, jika kedondong yang asam memerlukan sejumput garam sebagai penertalisirnya, atau pedas dilidah yang butuh segelas teh manis agar pedasnya berkurang, maka seperti itulah Abah dan Ummiku. Abah yang keras perlu Ummi yang sabar di sisinya.
Abah yang cerdas membangun bisnis beca dan mengalami kemajuan, bahkan beca yang dia punya mencapai jumlah 40 beca, rejeki Abah mengalir deras, tapi jumlah beca ini yang menyulitkan Ayahku jika malam tiba, semua beca beca itu harus dirantai rodanya agar tidak ada tangan jahil yang mencuri dan membuka jalinan rantainya kembali sebelum subuh. dan bukan perkara mudah untuk merantai 40 buah beca satu persatu sendirian! Tapi suatu hari bisnis beca nya collaps, semua beca dijual hanya karena Abah terbakar nafsu untuk meng upgrade bisnis beca menjadi bisnis angkot. segenggam emas simpanan Ummi kala itu ikut dijual untuk menambah modal. namun apadaya nasib berkata lain, bisnis angkot yang di idamkan akan maju pesat ternyata hanya khayal belaka, Abah dan Ummi ku bangkrut, dan mesti mulai semuanya dari nol lagi.
Semenjak Ayahku lahir, Ummi memutuskan untuk berhenti bekerja, ia lebih suka mengurus anak nya dirumah. Untuk membantu perekonomian keluarga, ummi membuka toko manisan di depan rumah, model, empek-empek dan tekwan adalah barang dagangan utamanya. pagi sebelum subuh Ummi kepasar dengan keranjang bambu dipunggungnya untuk membeli sayur mayur, sayur itu kemudian dijajakan keliling, begitu hari beranjak siang dan sayur telah laku, giliran manisan dirumah yang menunggu untuk dijajakan. Itulah Ummiku, sang penjual sayur gendong.

Tukang Koran

Abah itu cerdas, mungkin dia adalah siswa akselerasi pertama yang ada di kota ini, ia menamatkan SR selama 4 tahun, bukan akselerasi tepatnya, tapi sistem loncat kelas. Jaman itu, Guru Belanda nya memperkenankan murid murid cerdas untuk loncat kelas bagi yang bisa menjawab benar soal-soal matematika yang sulit dengan mencongak. kakekku bukan bangsawan! ingat Abah rakyat jelata, suatu kebanggaan dia bisa sekolah sampai lulus SR. SMP nya di tamatkan di SMP taman siswa, kemudian SMA di SMA Xaverius 1 Palembang, Abah angkatan pertama SMA ternama itu.. 🙂 *kok aku bangga ya? hehehe.
Abah di Palembang hanya sama adiknya, Orang tua Abah tinggal di desa. hebatnya ia yang menanggung semua keperluam hidup dan sekolah di Palembang, adik-adiknya punya kepribadian yang jauh beda, manja. Abahku hidup susah, jika sekolah pagi hari, maka sorenya ia ke terminal untuk menjajakan rokok. Jika ia sekolah siang hari, maka paginya ia ke terminal untuk berjualan koran. itulah abahku. ia juga membeca! ya itulah Abahku… Hingga akhirnya abah sempat kuliah, di akademi koperasi, tapi ga sempat di selesaikan karena kendala biaya. 😦 akhirnya abah banting setir ke dunia pendidikan, Abahku yang cerdas memilih jadi guru, ia punya bakat lebih pada bidang hitung hitungan. hingga akhir hayatnya Abahku mengabdi menjadi seorang pehlawan ilmu, berbagi pengetahuan Matematika, Fisika dan Kimia yang ia mengerti. Dunia pendidikan mengantarkan Abah pada Ummi yang seorang guru Agama, Ummi : wanita yang ia cintai yang sekarang jadi nenekku. *darinyalah aku yakini pipi tembemku diwariskan.

Tukang Beca

Abah adalah panggilan untuk kakekku dari pihak Ayah. Abah, M Yakub Senen Bin Senen, dilahirkan dalam keluarga kecil yang kekurangan, sebagai anak laki-laki yang sekaligus sulung dari 3 bersodara ia punya tanggung jawab yang besar terhadap keluarga dan adik adiknya. Yakub muda ditempa oleh keadaan menjadi seorang pemuda berpendirian dan berwatak keras. Ia keras pada orang orang disekelilingnya, pada keluarga, pada adiknya, istrinya, anaknya, dan murid-muridnya. murid? ya! kakekku seorang guru.. Ia orang yang pengasih dan penderma, sikap keras hanyalah bungkus luar, imbas dari kerasnya hidup yang telah ia kecap. *darinyalah aku yakini watak keras dalam diri Ayahku ada.
Abah lahir tahun 1930, 15 tahun sebelum negeri ini merdeka. Ia masih merasakan jaman kumpeni dan jaman jepang, pengalamannya di masa itu beberapa kali diceritakannya padaku. Getir hidup jaman itu dibaginya denganku, satu satunya cucu perempuan yang dia miliki, melalui cerita. Kulit kecoklatan yang keriput membalut tubuh kurus renta, menampakkan dengan jelas vena dan arteri dibalik itu. ramputnya menipis dan memutih, gigi depannya ada satu yang ompong. Ia kakek-kakek biasa??? TIDAK!!! Abah itu orang hebat!!! Aku mengidolakannya jauh dibandingkan aku mengidolakan Ayahku. Banyak kisah hidupnya yang sebaiknya kamu simak, agar kamu tahu betapa hebatnya Abahku!

Selaut Cinta Tak Bertepi

Tadi, untuk kesekian kalinya, sepenuhnya kusandarkan raga rapuh ini di tubuh yang kokoh itu, tubuh milik seorang yang aku berharap banyak padanya, seorang pria, yang kuharap dapat menjaga, menemaniku selalu, selamanya. Disana air mata ku bergulir lagi, tanpa ia tau aku menangis dibelakangnya. Andai ia tau, andai saja ia tau…

Tak peduli seberapa letihnya aku, jika untuk kebahagiaanya, maka tiada satu pun kata ‘tidak’ yang bakal terucap, tiada sedikitpun rasa bosan, untuknya kesabaran ini tak kan terpatahkan. Andai ia tau, ada selaut cinta tak bertepi menetap disini. Sebuah persembahan untuknya: sang rembulan, sebuah semangat yang berkobar di dadaku, sebuah mimpi dan cita-citaku, sebuah cinta terindah, seorang pria bernama dia.

Andai ia tau, andai saja ia tau…
Ada selaut cinta tak bertepi disini, diam di dalam hati…