Some Random Things (sorting) :P

mulai hari ini tampaknya saya perlu membuat sebuah kategori (katakanlah rubik) di blog untuk mengakomodasi kerandoman yang terjadi. Since I don’t have much time to write due to my recent role as a good play-partner of my little sweet one Zahrafina. menulis di sini jadi jarang-jarang… bukan karena gak ada topik karena setiap hari sebetulnya kerandoman terus terjadi.

I name it ‘sorting’ karena temanya masih nuansa Semester Pendek, dimana saya ngajar alpro dan materinya tentang sorting wkwkwk. maksa. biarin deh. namanya juga random.

btw selamat hari raya Idul Fitri ya!

tuh kan random wkwkwk..

Manusia itu ya, cenderung anti kritik, menghadapi kritik yang bikin pedas kuping pastilah secara naluri kita akan deffense dan bisa jadi malah balik offense. kritik seharusnya disampaikan dengan baik, bukan malah terkesan judging. I know this really well, betapa kuping dan hati sakit karena kritik. tapi khilaf saya kadang saya juga masih suka lupa “pakem” kritik ini pas saya sedang mengkritik orang. my bad… untuk catatan di masa mendatang, semoga otak saya berkurang errornya jadi bisa mikir dulu sebelum ngomong. bukan kebalik. ngomong dulu baru mikir. eh atau bisa jadi juga bukan otak saya yang error tapi mulut yang remnya blong jadi teruuusss aja gak stop sampe nabrak.

nyamuk tuh ya hewan paling nyebelin di muka bumi ini. malem begini saya ngeblog via hape dengan Zahrafina meringkuk didepan dada saya. tiba-tiba ada kutu gadungan lewat depan mata. dia meloncat bak kutu. tapi sesungguhnya itu bukan kutu, tapi nyamuk yang menggendut! sial kau nyamuk! selang kira kira semenit muncul bentol di pelipis Zahrafina. Sebel gak sih??? tapi selang beberapa menit saya tuntas membalaskan dendam kesumat saya. riwayat nyamuk gendut pun berakhir di raket listrik. CTASSSS!

Advertisements

2019 Semoga Ganti SK

Saya sedikit tenggelam dalam rutinitas dan kesibukan yang akhir-akhir ini agak plek-tumplek ramenya. saya terlalu asyik menghayati peran jadi seorang ibu bagi si bayi yang not so baby anymore, Zahrafina. sepertinya detik demi detik tumbuh kembang Zahrafina terlalu berharga untuk saya lewatkan. Saya suka sekali mengamati apa-apa saja hal baru yang bisa dia lakukan, dan saya sangat menikmati momen-momen bagaimana saya dibuat begitu takjub menyaksikan macam-macam keahlian yang baru saja dia kuasai. Ah Zahrafina, tumbuhlah ceria, sehat, dan cerdas ya anakku!

Maret 2019 kemarin saya dapat panggilan sebagai peserta pelatihan dasar CPNS, thank God nasib saya akhirnya jadi abdi negara di unit kerja tempat saya mengabdi selama ini. rangkaian latsar ini total menghabiskan waktu 2 bulanan dengan sistem on-off campus. selama satu bulan on campus kemarin, si kecil Zahrafina turut serta saya bawa. gak sanggup rasanya lama-lama gak jumpa. kangen dan kepikiran terus. begini ya rasanya jadi mamak-mamak… kalo pas lelah momong anak rasanya pengen me time. sekalinya ada waktu utk jauhan sama anak malah bukannya me time, tapi kepikiran terus sama anak. wkwkwk…

Nanti di ujung rangkaian latsar akan ada ujian tentang aktualisasi selama off campus. kalo lulus latsar ini saya bakal dapet sertifikat kelulusan yang jadi syarat utk dapet SK PNS. finally huruf C nya ilang. harapan saya semoga betulan tahun ini SK PNS sampai ditangan. kalo bener begitu artinya sejak 2016 saya rutin ganti status tiap tahun. wkwkwk…

2016 februari SK dosen non pns. kontrak 2 tahun

2017 januari SK dosen non pns. kontrak 5 tahun

2018 maret SK CPNS

2019 (?) SK PNS (amiiiiin….)

masyaAllah, tabarakallah, alhamdulillah. ya semoga saja lancar semuanya.

Grafitasi

I fall in love everyday.. sudah selama empat bulan lebih lima hari. pada setiap pagi yang mengantarkanku menatap mata tulusnya, merengkuh tubuh mungilnya, mengusap halus kulitnya: Zahrafina.

sudah empat bulan lebih lima hari juga aku jadi orang yang baru, kalau katanya kodaline, the best of me I’ve never seen. menjadi seorang ibu ternyata begini ya rasanya.. harus membuang ego karena sekarang semuanya untuk anak. Mahabesar Allah yang menitipkan rasa cinta kasih begitu besar bagi ibu kepada anaknya hingga sang ibu bisa menjalani segala pengorbanan dengan suka cita dan penuh cinta.

tentang semua mimpi-mimpi serta rencana yang ingin aku raih dalam satu tahun kedepan, lima tahun ke depan, atau sepuluh tahun kedepan, memang harus dirumuskan ulang… titik beratnya bukan lagi pada diriku, atau suamiku, tapi telah hadir gaya grafitasi yang baru: Zahrafina.

Bismillah.

Allah dulu.

Allah lagi.

Allah terus.

Bahasa Cinta

Bahasa cinta, bahasa indah yang tidak mengenal kata. bahasa dalam setiap sentuhan ibu kepada anaknya, bahasa dalam setiap letih penjagaan ayah pada anaknya, bahasa dalam tiap bulir tangis khawatir orang tua terhadap keselamatan dan kesehatan buah hatinya.

Terimakasih dan syukurku kepada Allah sang maha penggenggam ubun-ubun setiap makhluk yang telah mengajarkan aku banyak sekali bahasa cinta dalam tiga minggu pertama aku menjadi seorang ibu.

Mahal Tapi Setimpal

Laptop saya pake Windows 10 original yang diperoleh bundling dari Asus. setelah kira-kira 6 bulan pemakaian, office selalu muncul notifikasi kalo software butuh aktivasi. setelah proses akivasi saya skip terus akhirnya office di laptop ini resmi tidak bisa digunakan untuk edit. dia cuma bisa dipake untuk view doang. dan apalah artinya software pengolah kata yang tidak bisa mengolah kata? useless!

Pernah saya mencoba install office bajakan, tapi it doesn’t work. jadi beralihlah saya ke beberapa software office opensource yang tersedia bebas, sebutlah WPS, Libre Office, dan Open Office. ketiganya bisa dipake, tapi emang fiturnya tidak sehandal Microsoft Office terutama untuk grafik, smart art, dsb. Tapi okelah sampai sejauh beberapa bulan saya cukup bisa survive dengan segala kelebihan dan kekurangan dari tiga software office open source tersebut.

Sampai akhirnya, beberapa minggu terakhir saya disibukkan dengan kegiatan akreditasi jurusan yang cukup menyita pikiran sih karena kebetulan bagian yang saya kerjakan adalah yang menyangkut data mentah yang harus diolah sedemikian rupa dengan scoring menggunakan rumus-rumus. Ada beberapa file yang harus saya lengkapi untuk akhirnya di compile dengan pekerjaan dari teman-teman saya lainnya. Karena file akhir yang harus dikompilasikan dengan pekerjaan teman saya yang lain, maka otomatis format file dan template yang digunakan harus sama, margin, spasi dsb.  Ternyata, disini baru muncul masalah.. Proses menyatukan files ini tidak semudah yang kita pikir seperti tinggal cut+paste saja. Karena masing-masing orang menggunakan software pengolah kata yang berbeda, format penulisan yang sudah diatur sedemikian rupa sering tidak konsisten begitu file tersebut dibuka dengan software lain.  Akhirnya ini jadi PR bagi koordinator akreditasi yang menyamakan kembali format files tersebut.

Satu yang saya amati adalah beberapa teman saya juga mengalami nasib serupa dengan saya. dan teman-teman saya juga beralih ke office opensource. kalo gak WPS, biasanya Libre. mungkin ini adalah imbas dari windows ori yang dipakai.. kebanyakan laptop sekarang sudah bundling dengan OS original. langkah yang smart menurut saya. akhirnya kita digiring untuk membeli office original juga.

Akreditasi usai sudah, tapi bukan berarti urusan saya dengan per-office-an ini selesai. ada beberapa laporan yang menunggu untuk saya kerjakan, ada bahan ajar yang menunggu untuk saya rapikan, dan untuk itu semua saya butuh perangkat yang reliable, dan user friendly dengan smartchart yang banyak pilihan dan saya sudah biasa pakai.. ah andai ms office bisa digunakan.. hiks.

Saya udah nanya ke ICT kampus tentang program kerjasama Microsoft dengan kampus. karena setahu saya biasanya kampus-kampus punya kerjasama  software gratisan gitu. tapi so sad ternyata kampus saya blm ada kerjasama tentang itu. seinget saya dulu ada deh pas saya S1. ini kok makin kesini kenapa ilang program tersebut. sedih banget sih ya… saya nyobain untuk register Office 365 yang untuk education…. karena murah bisa dapet dg harga 999ribu untuk 4 tahun.  atau bisa pake versi online secara gratiss dengan syarat kita terdaftar sebagai civitas akdemika dari kampus yang punya kerjasama dengan Microsoft. Saya berhasil dapat previlege sebagai student (modal email kampus pas S2) tapi gak bisa dikibulin juga sih… program tersebut tidak berlaku untuk alumni..  😛

Akhirnya, karena alasan efisiensi dan setelah melalui tahap pertimbangan cukup alot, maka saya memutuskan untuk beli microsoft office original untuk pertama kali dalam hidup saya.  achivement unlock!!! hahaha.  yah ditimbang-timbang, saya emang cari makan pake software ini kan ya… mau ngajar, mau meneliti, mau mengabdi, tetap ada sangkutannya ke office ini. mungkin hikmah yang bisa saya ambil adalah sudah saatnya saya memperhatikan yang kecil tapi penting begini, betapa kita harus menjaga rezeki kita hanya dari jalan halal dan toyyib. say no to bajakan 😀 minimal mulai mencoba untuk mengurangi. yakinlah, biar mahal, tapi yang kita dapat setimpal.

There is A Will, There is A Way

I didn’t tell much people about my plan to go to Mecca past couple months. and this girl, Meylani, was one of those I told. The day before my departure she texted me about her wishes, and asked me If I would to read her wishes at Multazam. there are two main subjects included her study plan… 🙂

I remember her wishes during my tawaf. and I asked Him Who Hear All Prayers to make it true.. I expect nothing but may Allah bless my friend. She has been a nice girl, and these wishes what she has dreamt since long time ago.

Last night, she informed me that the scholarship finally hers! and the study will start on 20th of August. I can feel the excitement in her tone, and a little bit nervous actually.. she couldn’t belief.. her dream comes true. Then we talk about the necesarry stuff she couldn’t miss to bring, things she should prepare ASAP, and many more.

Some warmness heat my heart, flow in my vein and make my eyes are about to shed a tears. oh What happy I am for you dear. Congratulation for the achievement!

Tutup Satu, Buka Seribu

Barusan saya berharap pada makhluk. padahal saya punya Allah. eh sayalah yang justru milik Allah ya. milikNya lah segala sesuatu di alam semesta.

karena berharap pada makhluk tadi, maka ujungnya saya kecewa.

tapi sudah janji Allah, apabila Allah menutup rezeki kita dari satu pintu, maka Allah membukakan pintu lain untuk kita. pintu yang insyaAllah mengalirkan rejeki lebih baik, lebih besar, dan lebih berkah.

semoga Allah selalu memberikan kita ilham untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang Dia beri.. kepada kita, kepada orang tua kita, dan semoga kita istiqomah mengerjakan amal sholeh. Cukuplah Allah sebagai penolong.

Umroh Mandiri #2 Teknis Perjalanan

Hal selanjutnya yang menjadi concern saya adalah mempelajari bagaimana teknis umroh mandiri itu dilakukan.

Seperti yang kita tau term backpacker (orangnya) atau backpacking (kegiatannya) ini memiliki definisi melakukan perjalanan dengan hanya bermodal satu backpack doang. Otomatis barang bawaan akan disortir sedemikian rupa sehingga tersisa yang memang necessary aja, dan biaya akomodasi dipangkas seirit-iritnya (penginapan, transportasi, dsb). Perjalan backpacking pertama saya dan suami dulu adalah ke Jogja, Solo dan Semarang selama seminggu, dengan satu backpack dipundak masing-masing. Perjalanan ketiga kota ditempuh dengan kereta api kelas ekonomi, serta transportasi city tour dilakukan dengan cara sewa motor harian. Kami makan dipinggir jalan, nginep dihotel pinggir juga dan kelas melati. atau jangan-jangan tidak berkelas. wkwkw. it’s Ok sejauh itu nyaman, bersih, dan aman.  Itinerary juga disusun sendiri, tiket dan segala macam dipesan sendiri. hemat? banget! dan kita bisa liburan quality time tanpa guilty feeling sudah nguras tabungan hehe.

Nah, pertanyaannya adalah, dapatkah pola travelling seperti ini diterapkan juga untuk melakukan ibadah umroh?

Emang dasarnya tadi niat, saya jadinya sekalian juga beli beberapa buku bertema umroh backpacker untuk nambah wawasan. Dari apa yang saya baca, bahwa jamaah umroh asal Indonesia tidak bisa melakukan perjalan umroh yang betul-betul backpacker-an.

dalam prosesnya kita butuh ngurus visa umroh. dan regulasi pemerintah arab saudi sono, penerbitan visa tidak bisa diajukan oleh perseorangan, melainkan perseorangan tersebut haruslah berada dibawah naungan biro perjalanan. hal ini merupakan upaya preventif pemerintah arab saudi terhadap kemungkinan jamaah terlantar, nyasar, ujung-ujungnya jadi gembel disana. to make sure bahwa ada yang “bertanggung jawab” atas diri para jamaah ini makanya diharuskan setiap jemaah umroh dinaungi oleh biro perjalanan. dari sini kita simpulkan bahwa proses penerbitan visa ini saja tidak bisa dilakukan ala backpacker. kita perlu jasa pihak lain.  Maka, yang disebut umroh backpaker sebenarnya bukan backpacker betulan, tetaplah nanti pake koper, wkwk, nginep di hotel, transportasi dalam kota dengan bus premium, hanya saja, saya ulang ya, HANYA, kita memangkas biaya tour travel yang sebetulnya tidak necessary.  tiket kita booking dan bayar sendiri, koper angkut sendiri, dan biaya service lain-lain itu yang dipangkas. hemat? iya! masih jauh lebih hemat ketimbang gabung tour travel.

Sebagai perbandingan, biaya untuk Umroh 10 Hari pertama Ramadhan adalah 36 juta rupiah versi travel sebelah (kamarnya quad alias sekamar berempat). sedangkan yang dihabiskan saya dan suami tempo hari kurang lebih 21 juta rupiah / orang (kamar double, cuma isi dua orang) dengan rincian:

  1. Tiket Jakarta- Kuala Lumpur
  2. Tiket Kuala Lumpur – Madinah
  3. Tiket Jeddah – Jakarta
  4. Hotel di Kuala Lumpur
  5. Biaya Visa
  6. Biaya Koper
  7. Biaya Land Arrangement (akomodasi 9 hari di Saudi)

berapa yang berhasil kita hemat untuk perjalan berdua ini? 15 juta x 2 orang. Hemat 30 juta saudara-saudara! harga segitu  sebetulnya masih bisa dipangkas lagi, gimana caranya? caranya adalah saya dan suami nyari tiket Jakarta-KL yang mepet2 waktu departure KL-Madinah jadi kita bisa pangkas biaya hotel di KL.. dan kalo mau ngirit lagi bisa ambil kamar yang sekamar berempat… jadinya campur dengan jamaah lain. itu bisa cuma habis 17 juta loh saudara-saudara… masyaAllah luar biasa.  tapi kenapa kita akhirnya nyari hotel dan ambil kamar double alias sekamar berdua doang? bagian ini nanti ada ceritanya, hehehe.

Oke untuk teknis perjalanan, berikut ini step by step yang saya rangkum apa yang kita lakukan:

  1. Gabung dulu komunitasnya di social media. ada banyak banget ini mah… cari yg reliable ya! caranya gabung agak lama, pelajari dulu pola bisnisnya, siapa-siapa orang dibalik layar, dan pastinya cek portofolio keberangkatan yang pernah komunitas tersebut lakukan.
  2. Pantau jadwal open trip
  3. Pilih kloter yang sesuai jadwal dan budget kamu
  4. Issued tiket sesuai dengan yang sudah disepakati bersama (maskapai, rute, waktu)
  5. Gabung grup khusus kloter
  6. ikutin aja petunjuk dan arahan dari ketua grup (banyak ni rangkaiannya, ngumpulin syarat visa, terus kirim syarat visa (visa diurus kolektif ), terus visa yang dah jadi dikirim balik ke kita, kolektif manggil ustadz bagi yang merasa perlu manasik, koordinasi name tag segala macem, terus janjian spot ketemuan dimana, dsb)
  7. tiba hari keberangkatan, ketemuan sama temen-temen seperjalanan deh
  8. enjoy your trip!

dan apa syarat ikutan pola travelling seperti ini:

  1. Kamu kooperatif, punya kemauan. tentang biaya, kamu gak harus punya duit banyak untuk ikutan. Biaya di pola travelling seperti ini dikeluarkan dengan cara dicicil.. jadi terasa ringan. macem saya kemarin, bulan oktober saya bayar tiket, bulan april baru saya bayar LA. rentangnya lama.. kita punya banyak waktu untuk nabung lagi kurangnya berapa.
  2. Tidak malas membaca info yang beredar via grup.
  3. Kamu mandiri dan bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Karena perjalanan ini dilakukan tanpa tour travel maka tidak ada pihak yang akan melayani kebutuhan kamu. tidak ada tempat kamu komplain kalo terjadi hambatan dan masalah. semua dihadapi sendiri, masalah diselesaikan bersama, sesama jamaah saling jaga. dengan catatan: tidak ada tempat untuk traveller manja
  4. Kalo kamu kebetulan solo traveller, maka pastikan kamu tidak gaptek, dan berbadan sehat. susah nih kalo solo traveller tp gak paham teknologi, apa-apa gak paham terus gak mau belajar pula.. ditambah badan gak fit pula. ini bakal jadi beban orang banyak. Untuk jamaah lanjut usia sebaiknya didampingi keluarga.

Bakat Terpendam

Saya memiliki keahlian yang saya mahir sekali sejak lama, tapi saya baru saja sadar kalo ini bisa saja sebuah bakat yang terpendam: menangis dalam diam.

Saya mahir sekali meredam suara sedu sedan sesegukan hingga hampir tidak ad suara sama sekali seharu biru atau sehancur apa hati saya saat saya menangis. Keren bukan?

Ala bisa karena biasa. Setelah recall memori jaman dulu, ada beberapa momen dimana saya berlatih bakat saya ini. Memori. Tentang luka lama yang saya bahkan tidak mau mengingatnya lagi.

Ada sebait doa yg kala itu saya ucap. Mungkin sekarang harus saya ucap lagi.

“ya Rabb.. atas segala apa yang telah engkau tetapkan terjadi kepadaku, buatlah aku menjadi senang, buatlah hatiku menjadi ridho..”

If You Fail to Plan, You Plan to Fail

I dont know why, but this hectic ambience seems permit me If i neglect my (others, but necessary) line of duties. is it right? I don’t think the situations like this are supposed to be happened. There’re too much to do in the same time, too much responsibilities to handle meanwhile each of us has only one body with one brain and two SMALL hands. I think doing this kind of shit is stressful enough to make people crazy. This kind of environtment is not healthy at all. Every body is like going to be mad as soon as possible. There’s no more smile, no archness, and everybody are drowning deep down under too strong tense. Really, people, What’s happend to us?

Several days ago I enlightened my student about Motivation Theory by McClelland, and The Maslow’s Hierachy of Needs. I reflect my situations into that two theories in order to try to discover in what state I and people around me are currently living. What I found out was actually the business we’ve doing recently is none of our concern, and those aren’t what we personally want to achieve. and that explains Why we likely have no motivation at all. every of us was worry about someday this kind of activities would distract our main goals.. we neither have enough times to think about our self nor to take some improving steps. while in this life, each of us got our own milestone running on our own time line.