Bahasa Cinta

Bahasa cinta, bahasa indah yang tidak mengenal kata. bahasa dalam setiap sentuhan ibu kepada anaknya, bahasa dalam setiap letih penjagaan ayah pada anaknya, bahasa dalam tiap bulir tangis khawatir orang tua terhadap keselamatan dan kesehatan buah hatinya.

Terimakasih dan syukurku kepada Allah sang maha penggenggam ubun-ubun setiap makhluk yang telah mengajarkan aku banyak sekali bahasa cinta dalam tiga minggu pertama aku menjadi seorang ibu.

Advertisements

Mahal Tapi Setimpal

Laptop saya pake Windows 10 original yang diperoleh bundling dari Asus. setelah kira-kira 6 bulan pemakaian, office selalu muncul notifikasi kalo software butuh aktivasi. setelah proses akivasi saya skip terus akhirnya office di laptop ini resmi tidak bisa digunakan untuk edit. dia cuma bisa dipake untuk view doang. dan apalah artinya software pengolah kata yang tidak bisa mengolah kata? useless!

Pernah saya mencoba install office bajakan, tapi it doesn’t work. jadi beralihlah saya ke beberapa software office opensource yang tersedia bebas, sebutlah WPS, Libre Office, dan Open Office. ketiganya bisa dipake, tapi emang fiturnya tidak sehandal Microsoft Office terutama untuk grafik, smart art, dsb. Tapi okelah sampai sejauh beberapa bulan saya cukup bisa survive dengan segala kelebihan dan kekurangan dari tiga software office open source tersebut.

Sampai akhirnya, beberapa minggu terakhir saya disibukkan dengan kegiatan akreditasi jurusan yang cukup menyita pikiran sih karena kebetulan bagian yang saya kerjakan adalah yang menyangkut data mentah yang harus diolah sedemikian rupa dengan scoring menggunakan rumus-rumus. Ada beberapa file yang harus saya lengkapi untuk akhirnya di compile dengan pekerjaan dari teman-teman saya lainnya. Karena file akhir yang harus dikompilasikan dengan pekerjaan teman saya yang lain, maka otomatis format file dan template yang digunakan harus sama, margin, spasi dsb.  Ternyata, disini baru muncul masalah.. Proses menyatukan files ini tidak semudah yang kita pikir seperti tinggal cut+paste saja. Karena masing-masing orang menggunakan software pengolah kata yang berbeda, format penulisan yang sudah diatur sedemikian rupa sering tidak konsisten begitu file tersebut dibuka dengan software lain.  Akhirnya ini jadi PR bagi koordinator akreditasi yang menyamakan kembali format files tersebut.

Satu yang saya amati adalah beberapa teman saya juga mengalami nasib serupa dengan saya. dan teman-teman saya juga beralih ke office opensource. kalo gak WPS, biasanya Libre. mungkin ini adalah imbas dari windows ori yang dipakai.. kebanyakan laptop sekarang sudah bundling dengan OS original. langkah yang smart menurut saya. akhirnya kita digiring untuk membeli office original juga.

Akreditasi usai sudah, tapi bukan berarti urusan saya dengan per-office-an ini selesai. ada beberapa laporan yang menunggu untuk saya kerjakan, ada bahan ajar yang menunggu untuk saya rapikan, dan untuk itu semua saya butuh perangkat yang reliable, dan user friendly dengan smartchart yang banyak pilihan dan saya sudah biasa pakai.. ah andai ms office bisa digunakan.. hiks.

Saya udah nanya ke ICT kampus tentang program kerjasama Microsoft dengan kampus. karena setahu saya biasanya kampus-kampus punya kerjasama  software gratisan gitu. tapi so sad ternyata kampus saya blm ada kerjasama tentang itu. seinget saya dulu ada deh pas saya S1. ini kok makin kesini kenapa ilang program tersebut. sedih banget sih ya… saya nyobain untuk register Office 365 yang untuk education…. karena murah bisa dapet dg harga 999ribu untuk 4 tahun.  atau bisa pake versi online secara gratiss dengan syarat kita terdaftar sebagai civitas akdemika dari kampus yang punya kerjasama dengan Microsoft. Saya berhasil dapat previlege sebagai student (modal email kampus pas S2) tapi gak bisa dikibulin juga sih… program tersebut tidak berlaku untuk alumni..  😛

Akhirnya, karena alasan efisiensi dan setelah melalui tahap pertimbangan cukup alot, maka saya memutuskan untuk beli microsoft office original untuk pertama kali dalam hidup saya.  achivement unlock!!! hahaha.  yah ditimbang-timbang, saya emang cari makan pake software ini kan ya… mau ngajar, mau meneliti, mau mengabdi, tetap ada sangkutannya ke office ini. mungkin hikmah yang bisa saya ambil adalah sudah saatnya saya memperhatikan yang kecil tapi penting begini, betapa kita harus menjaga rezeki kita hanya dari jalan halal dan toyyib. say no to bajakan 😀 minimal mulai mencoba untuk mengurangi. yakinlah, biar mahal, tapi yang kita dapat setimpal.

There is A Will, There is A Way

I didn’t tell much people about my plan to go to Mecca past couple months. and this girl, Meylani, was one of those I told. The day before my departure she texted me about her wishes, and asked me If I would to read her wishes at Multazam. there are two main subjects included her study plan… 🙂

I remember her wishes during my tawaf. and I asked Him Who Hear All Prayers to make it true.. I expect nothing but may Allah bless my friend. She has been a nice girl, and these wishes what she has dreamt since long time ago.

Last night, she informed me that the scholarship finally hers! and the study will start on 20th of August. I can feel the excitement in her tone, and a little bit nervous actually.. she couldn’t belief.. her dream comes true. Then we talk about the necesarry stuff she couldn’t miss to bring, things she should prepare ASAP, and many more.

Some warmness heat my heart, flow in my vein and make my eyes are about to shed a tears. oh What happy I am for you dear. Congratulation for the achievement!

Tutup Satu, Buka Seribu

Barusan saya berharap pada makhluk. padahal saya punya Allah. eh sayalah yang justru milik Allah ya. milikNya lah segala sesuatu di alam semesta.

karena berharap pada makhluk tadi, maka ujungnya saya kecewa.

tapi sudah janji Allah, apabila Allah menutup rezeki kita dari satu pintu, maka Allah membukakan pintu lain untuk kita. pintu yang insyaAllah mengalirkan rejeki lebih baik, lebih besar, dan lebih berkah.

semoga Allah selalu memberikan kita ilham untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang Dia beri.. kepada kita, kepada orang tua kita, dan semoga kita istiqomah mengerjakan amal sholeh. Cukuplah Allah sebagai penolong.

Umroh Mandiri #2 Teknis Perjalanan

Hal selanjutnya yang menjadi concern saya adalah mempelajari bagaimana teknis umroh mandiri itu dilakukan.

Seperti yang kita tau term backpacker (orangnya) atau backpacking (kegiatannya) ini memiliki definisi melakukan perjalanan dengan hanya bermodal satu backpack doang. Otomatis barang bawaan akan disortir sedemikian rupa sehingga tersisa yang memang necessary aja, dan biaya akomodasi dipangkas seirit-iritnya (penginapan, transportasi, dsb). Perjalan backpacking pertama saya dan suami dulu adalah ke Jogja, Solo dan Semarang selama seminggu, dengan satu backpack dipundak masing-masing. Perjalanan ketiga kota ditempuh dengan kereta api kelas ekonomi, serta transportasi city tour dilakukan dengan cara sewa motor harian. Kami makan dipinggir jalan, nginep dihotel pinggir juga dan kelas melati. atau jangan-jangan tidak berkelas. wkwkw. it’s Ok sejauh itu nyaman, bersih, dan aman.  Itinerary juga disusun sendiri, tiket dan segala macam dipesan sendiri. hemat? banget! dan kita bisa liburan quality time tanpa guilty feeling sudah nguras tabungan hehe.

Nah, pertanyaannya adalah, dapatkah pola travelling seperti ini diterapkan juga untuk melakukan ibadah umroh?

Emang dasarnya tadi niat, saya jadinya sekalian juga beli beberapa buku bertema umroh backpacker untuk nambah wawasan. Dari apa yang saya baca, bahwa jamaah umroh asal Indonesia tidak bisa melakukan perjalan umroh yang betul-betul backpacker-an.

dalam prosesnya kita butuh ngurus visa umroh. dan regulasi pemerintah arab saudi sono, penerbitan visa tidak bisa diajukan oleh perseorangan, melainkan perseorangan tersebut haruslah berada dibawah naungan biro perjalanan. hal ini merupakan upaya preventif pemerintah arab saudi terhadap kemungkinan jamaah terlantar, nyasar, ujung-ujungnya jadi gembel disana. to make sure bahwa ada yang “bertanggung jawab” atas diri para jamaah ini makanya diharuskan setiap jemaah umroh dinaungi oleh biro perjalanan. dari sini kita simpulkan bahwa proses penerbitan visa ini saja tidak bisa dilakukan ala backpacker. kita perlu jasa pihak lain.  Maka, yang disebut umroh backpaker sebenarnya bukan backpacker betulan, tetaplah nanti pake koper, wkwk, nginep di hotel, transportasi dalam kota dengan bus premium, hanya saja, saya ulang ya, HANYA, kita memangkas biaya tour travel yang sebetulnya tidak necessary.  tiket kita booking dan bayar sendiri, koper angkut sendiri, dan biaya service lain-lain itu yang dipangkas. hemat? iya! masih jauh lebih hemat ketimbang gabung tour travel.

Sebagai perbandingan, biaya untuk Umroh 10 Hari pertama Ramadhan adalah 36 juta rupiah versi travel sebelah (kamarnya quad alias sekamar berempat). sedangkan yang dihabiskan saya dan suami tempo hari kurang lebih 21 juta rupiah / orang (kamar double, cuma isi dua orang) dengan rincian:

  1. Tiket Jakarta- Kuala Lumpur
  2. Tiket Kuala Lumpur – Madinah
  3. Tiket Jeddah – Jakarta
  4. Hotel di Kuala Lumpur
  5. Biaya Visa
  6. Biaya Koper
  7. Biaya Land Arrangement (akomodasi 9 hari di Saudi)

berapa yang berhasil kita hemat untuk perjalan berdua ini? 15 juta x 2 orang. Hemat 30 juta saudara-saudara! harga segitu  sebetulnya masih bisa dipangkas lagi, gimana caranya? caranya adalah saya dan suami nyari tiket Jakarta-KL yang mepet2 waktu departure KL-Madinah jadi kita bisa pangkas biaya hotel di KL.. dan kalo mau ngirit lagi bisa ambil kamar yang sekamar berempat… jadinya campur dengan jamaah lain. itu bisa cuma habis 17 juta loh saudara-saudara… masyaAllah luar biasa.  tapi kenapa kita akhirnya nyari hotel dan ambil kamar double alias sekamar berdua doang? bagian ini nanti ada ceritanya, hehehe.

Oke untuk teknis perjalanan, berikut ini step by step yang saya rangkum apa yang kita lakukan:

  1. Gabung dulu komunitasnya di social media. ada banyak banget ini mah… cari yg reliable ya! caranya gabung agak lama, pelajari dulu pola bisnisnya, siapa-siapa orang dibalik layar, dan pastinya cek portofolio keberangkatan yang pernah komunitas tersebut lakukan.
  2. Pantau jadwal open trip
  3. Pilih kloter yang sesuai jadwal dan budget kamu
  4. Issued tiket sesuai dengan yang sudah disepakati bersama (maskapai, rute, waktu)
  5. Gabung grup khusus kloter
  6. ikutin aja petunjuk dan arahan dari ketua grup (banyak ni rangkaiannya, ngumpulin syarat visa, terus kirim syarat visa (visa diurus kolektif ), terus visa yang dah jadi dikirim balik ke kita, kolektif manggil ustadz bagi yang merasa perlu manasik, koordinasi name tag segala macem, terus janjian spot ketemuan dimana, dsb)
  7. tiba hari keberangkatan, ketemuan sama temen-temen seperjalanan deh
  8. enjoy your trip!

dan apa syarat ikutan pola travelling seperti ini:

  1. Kamu kooperatif, punya kemauan. tentang biaya, kamu gak harus punya duit banyak untuk ikutan. Biaya di pola travelling seperti ini dikeluarkan dengan cara dicicil.. jadi terasa ringan. macem saya kemarin, bulan oktober saya bayar tiket, bulan april baru saya bayar LA. rentangnya lama.. kita punya banyak waktu untuk nabung lagi kurangnya berapa.
  2. Tidak malas membaca info yang beredar via grup.
  3. Kamu mandiri dan bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Karena perjalanan ini dilakukan tanpa tour travel maka tidak ada pihak yang akan melayani kebutuhan kamu. tidak ada tempat kamu komplain kalo terjadi hambatan dan masalah. semua dihadapi sendiri, masalah diselesaikan bersama, sesama jamaah saling jaga. dengan catatan: tidak ada tempat untuk traveller manja
  4. Kalo kamu kebetulan solo traveller, maka pastikan kamu tidak gaptek, dan berbadan sehat. susah nih kalo solo traveller tp gak paham teknologi, apa-apa gak paham terus gak mau belajar pula.. ditambah badan gak fit pula. ini bakal jadi beban orang banyak. Untuk jamaah lanjut usia sebaiknya didampingi keluarga.

Bakat Terpendam

Saya memiliki keahlian yang saya mahir sekali sejak lama, tapi saya baru saja sadar kalo ini bisa saja sebuah bakat yang terpendam: menangis dalam diam.

Saya mahir sekali meredam suara sedu sedan sesegukan hingga hampir tidak ad suara sama sekali seharu biru atau sehancur apa hati saya saat saya menangis. Keren bukan?

Ala bisa karena biasa. Setelah recall memori jaman dulu, ada beberapa momen dimana saya berlatih bakat saya ini. Memori. Tentang luka lama yang saya bahkan tidak mau mengingatnya lagi.

Ada sebait doa yg kala itu saya ucap. Mungkin sekarang harus saya ucap lagi.

“ya Rabb.. atas segala apa yang telah engkau tetapkan terjadi kepadaku, buatlah aku menjadi senang, buatlah hatiku menjadi ridho..”

If You Fail to Plan, You Plan to Fail

I dont know why, but this hectic ambience seems permit me If i neglect my (others, but necessary) line of duties. is it right? I don’t think the situations like this are supposed to be happened. There’re too much to do in the same time, too much responsibilities to handle meanwhile each of us has only one body with one brain and two SMALL hands. I think doing this kind of shit is stressful enough to make people crazy. This kind of environtment is not healthy at all. Every body is like going to be mad as soon as possible. There’s no more smile, no archness, and everybody are drowning deep down under too strong tense. Really, people, What’s happend to us?

Several days ago I enlightened my student about Motivation Theory by McClelland, and The Maslow’s Hierachy of Needs. I reflect my situations into that two theories in order to try to discover in what state I and people around me are currently living. What I found out was actually the business we’ve doing recently is none of our concern, and those aren’t what we personally want to achieve. and that explains Why we likely have no motivation at all. every of us was worry about someday this kind of activities would distract our main goals.. we neither have enough times to think about our self nor to take some improving steps. while in this life, each of us got our own milestone running on our own time line.

Mata Juga Bisa Lapar

Kalo suami saya bisa  menghabiskan waktu setengah hari sendiri untuk muterin Ace Hardware, maka saya sangat senang hati keliling beberapa jam di swalayan macam carefour atau hypermart. sampe kaki pegal, atau sampai tersadar kalau hidup masih harus terus berlanjut. haha. Ngapainlah kira-kira? biasanya sih berawal dari butuh beli sebuah barang spesifik dan berakhir dengan berjam-jam ga ngapa-ngapain, cuma muter di gang-gang toko dan liatin semua barang yang ada disana. Kegemaran ini entah terjadi sejak kapan, tapi saya sendiri khususnya merasakan kegiatan muterin swalayan itu seperti stress reliever.  semacam rekreasi.

sounds weird? atau anda juga seperti saya? hehe.

Saya suka belanja, tapi belanja bukan hobi saya. Beberapa tahun terakhir saya mencoba menghilangkan impulsive-buyer yang pernah bersemayam dalam diri saya. sekitar 4 tahun lalu, Masa-masa berbeasiswa adalah masa keemasan dompet saya. ketika saya pengen apa, maka saya terus beli tanpa mikir. terus nyesal? gak nyesal juga sih. at that time saya dapet duit dengan mudahnya dan menghabiskannya juga dengan mudah. Dulu saya bisa dibilang gak kenal apa itu tanggal tua. Setiap awal bulan orang tua saya ngasih uang bulanan. uang bulanan belum habis eh rekening saya sudah terisi sama suntikan dana dari ristekdikti. Dana dari ristekdikti belum habis, tau-tau udah awal bulan lagi dan duit dari orang tua udah dikirimin lagi. Happy bener ya? karena ngerasa punya tadi maka terpupuklah ke-impulsive-an dalam diri.

tapi itu dulu… sekarang gak begitu.

dulu itu saya masih bisa nabung sih… jadi enggak boros parah juga sebenernya. Tapi semenjak saya nyari duit sendiri, semenjak ga ada lagi suntikan dana bulanan dari orang tua, dan gak ada lagi beasiswa yang ngebom rekening saya tiap tengah bulan, maka penyakit impulsive-buyer itu sembuh sendiri. bhahaha.. lah wong duitnya kagak ada terus mau belanja apaan. ya gak sampe jatuh miskin juga, wkwk. tapi finance does make me a little bit worry.   dapet  nafkah dari suami, tapi tauk deh saya ngerasanya duit nafkah itu harus saya pakai dengan penuh tanggung jawab. bukan untuk beli something yang cuma karena “ih lucu..” atau “eh warnanya bagus ya..” atau “hmmm baunya enak..”.

nah kemarin persis, saya blogwalking dan surfing di youtube. liatlah review kosmetik-kosmetik yang alamak lucu bingits. terus saya jadi laper mata. wkwkwk… terus saya liat laci meja rias saya yang kanan kiri itu diplot khusus untuk barang saya. kok isinya udah banyak ya? dan saya pun inisiatif ngedata all from head to toe body care/cosmetics yang saya punya ke dalam tabel di spreadsheet. dan hasilnya saya sudah punya semua yang saya perlu. dan tidak perlu ditambah dengan those yang saya ‘cuma pengen’.

karena perlu beda sama pengen.. dan mata juga bisa lapar.

 

I Miss You My Little Angel

photo_2018-04-12_21-35-17.jpg

Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would it be the same
If I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
‘Cause I know I don’t belong here in heaven
Would you hold my hand
If I saw you in heaven?
Would you help me stand
If I saw you in heaven?
I’ll find my way through night and day
‘Cause I know I just can’t stay here in heaven
Time can bring you down, time can bend your knees
Time can break your heart, have you begging please, begging please
Beyond the door there’s peace I’m sure
And I know there’ll be no more tears in heaven
Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would it be the same
If I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
‘Cause I know I don’t belong here in heaven

 

* just remember my little bundle of joy, Zhaf….  Ibu kangen..

ruining someone’s happiness

Past couple days, I went to Jakarta due to some work stuff. I had to attend a ceremony held by KemenpanRB on behalf of Kemenristekdikti delegation. We met with Mr. President, The Minister of Finance, Minister of Social, and many more other important person. They give us lessons and we learnt a lot.  I made a post in my instagram about how happy and grateful I am to be  there. I even said that I burst into tears while singing Indonesia Raya. what a pleasant moment.

then someone PM me on IG, he said “Don’t be fooled by the goverment. What the hell you doing there? why don’t they invite us last year? so this is bullshit..  2019 election is coming soon, they want you to choose them. and you should not elect for them!”

I myself like WTF?!

I mean, really, if you want to comment about something you don’t like, then please think at least twice. whom you talk to.  in what capacity you are commenting.  is it proper to you to talk like that. and the most important thing is who do you think you are to judge. I don’t care  if the ceremony is fulfilled with insidious agenda. I don’t give a f*ck about the political substances.  and you don’t have to tell somebody whom to choose whom to ignore.

oh he ruined my day. My happiness about Indonesia Raya had suddenly fell right beside my feet.